Ada kesalahan di dalam gadget ini

Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Jumat, 24 Desember 2010

UJI KEHAMILAN (GALLI MAININI)


A.    Tujuan Praktikum
A.1  Tujuan Kegiatan
1.          Mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan (Galli Mainini) dengan menggunakan katak Bufo Vulgaris jantan
A.2  Kompetensi Khusus
1.          Mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan (Galli Mainini) dengan menggunakan katak Bufo Vulgaris jantan

B.     Metode Praktikum
B.1  Jenis Kegiatan : Eksperimen.
B.2  Obyek pengamatan : Katak Bufo Vulgaris jantan.
B.3  Bahan dan Alat
Untuk tes kehamilan dengan uji Galli Mainini ini diperlukan alat dan bahan sebagai berikut :
1.  Katak bengkerok jantan dewasa 2 ekor.
2.  Spuit (pompa suntik) 5 ml.
3.  Urine wanita hamil muda.
4.  Tempat katak.
5.  Mikroskop cahaya.
6.  Kaca obyek.
7.  Lidi kapas.
B.4  Cara Kerja
Menyediakan dua ekor katak bengkerok (Bufo Vulgaris) jantan dewasa. Ciri-ciri katak jantan antara lain : pada telapak kaki depan terdapat penebalan berwarna hitam, pada kulit leher bagian ventral terdapat warna agak merah kekuningan, warna tubuh biasanya agak gelap dibanding betina.
 

Merangsang dengan menggunakan lidi berbungkus kapas pada bagian kloakanya kemudian kalau keluar sesuatu menaruhnya pada kaca obyek dan memeriksa dengan mikroskop. Jika sesuatu tersebut sperma maka yang harus dilakukan adalah membersihkannya terlebih dahulu.

Menyiapkan 5 ml air kencing wanita yang diduga hamil sekitar 1-3 bulan kemudian gunakan pompa dan jarum suntik (spuit) untuk menyuntikkan urine tersebut secara sub-kutan (di bawah kulit) dengan cara mencubit / menarik kulit katak kemudian suntikkan. Biasanya untuk penyuntikan ini dipilih tempat untuk kulit punggung.

Menyuntik katak yang satu dengan aquadest digunakan sebagai kontrol.
 

Mengembalikan katak pada tempatnya, kemudian menunggu kurang lebih 30 menit untuk melihat reaksinya. Setelah itu merangsang bagian kloaka dengan lidi, jika keluar sesuatu kemudian memeriksanya dengan mikroskop. Apabila sesuatu tersebut adalah sperma maka reaksi positip. Bagaimana interpretasi anda?

C.    Hasil Pengamatan
Setelah menyuntikkan urine wanita hamil secara sub-kutan (di bawah kulit) dengan cara mencubit / menarik kulit katak menggunakan pompa dan jarum suntik (spuit). Setelah 30 menit, kemudian merangsang bagian kloaka dengan lidi da ada cairan yang keluar.
Setelah diperikasa di bawah mikroskop ternyata cairan tersebut bukan sperma, sehingga dapat dikatakan bahwa reaksi ini negatif.

D.    Pembahasan
Praktikum dengan judul uji kehamilan (galli mainini) dilakuklan dengan tujuan agar mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan (Galli Mainini) dengan menggunakan katak Bufo Vulgaris jantan, dengan kompetisi khusus yang sama yaitu agar mahasiswa dapat melakukan uji kehamilan (Galli Mainini) dengan menggunakan katak Bufo Vulgaris jantan.
Perbedaan Katak jantan dan Betina
Katak jantan :

o Ukuran lingkaran gendang telinga dua kali lebih besar dari lingkaran mata.
o Warna kulit di sekitar kerongkongan hijau kekuningan.
o Ibu jari bagian depan relatip besar.
o Ukuran badan relatip kecil.
o Memiliki kantung suara yang terletak di antara selaput gendang dan pangkal kaki depan.

Katak betina :

o Ukuran lingkaran gendang telinga hampir sama dengan lingkar mata.
o Warna kulit di sekitar kerongkongan putih dengan bintik-bintik kehitaman
o Ukuran badan relatip besar.
o Tidak memiliki kantung suara.

Praktikum ini dilakukan dengan metode kegiatan eksperimen menggunakan objek pengamatan katak Bufo Vulgaris jantan. Pertama-tama menyediakan dua ekor katak bengkerok (Bufo Vulgaris) jantan dewasa. Untuk mempermudah pencarian jenis katak ini, dapat dilihat ciri-ciri katak jantan antara lain : pada telapak kaki depan terdapat penebalan berwarna hitam, pada kulit leher bagian ventral terdapat warna agak merah kekuningan, warna tubuh biasanya agak gelap dibanding betina. Setelah itu, merangsang dengan menggunakan lidi kapas pada bagian kloakanya kemudian kalau keluar sesuatu menaruhnya pada kaca obyek dan periksa dengan mikroskop. Jika sesuatu tersebut sperma maka harus dibersihkan terlebih dahulu. Lalu menyiapkan 5 ml air kencing wanita yang diduga hamil sekitar 1-3 bulan kemudian gunakan pompa dan jarum suntik (spuit) untuk menyuntikkan urine tersebut secara sub-kutan (di bawah kulit) dengan cara mencubit / menarik kulit katak kemudian suntikkan. Biasanya untuk penyuntikan ini dipilih tempat untuk kulit punggung. Setelah itu, Katak yang satu suntik dengan aquadest digunakan sebagai kontrol. Kemudian mengembalikan katak pada tempatnya, lalu menunggu kurang lebih 30 menit untuk melihat reaksinya. Setelah itu merangsang bagian kloaka dengan lidi, dan diperoleh sesuatu yang keluar. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan mengguakan mikroskop, kami tidak menemukan sperma, tetapi hanya kotoran-kotoran cairan tu yang dapat kami amati. Sehigga dapat dikatakan bahwa reaksi yang terjadi adalah negatif.
Mengapa reaksi yang terjadi ini adalah negati? Padahal didalam teori dikatakan bahwa diadalam urine wanita hamil mengandung hormon HCG (human chorionic goadotropin) yang ketika disuntikan pada katak jantan, hormon ini dapat membuat si jantan ketika dirangsang akan mengeluarkan sperma. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1.      Praktikan kurang tepat dalam menyuntikkan jumlah urine, sehingga jumlah urine yang masuk kurang banyak atau malah berlebihan
2.      Kurangnya ketepatan praktikan dalam cara menyuntikkan urine, bisa jadi pada saat penyuntikan terjadi, banyak urine yang tidak masuk atau keluar dari area yang diinginkan
3.      Praktikan kurang teliti, bagian manakah dari tubuh katak yang seharusya disuntik (ini juga sangat berpengaruh terhadap reaksi yang dihasiklka akan bersifat positif ataupun negatif.
4.      Urine umur kehamilan yang dipilih kurang sesuai (masih mengandung HCG atau tidak)
5.      Kurag teliti dalam meggunakan waktu (waktu yang digunakan berlebih atau bahkan kurang), sehingga ketika waktu pada saat pengamatan kurag, maka urine wanita hamil tersebut belum bereaksi pada tubuh katak atau sebaliknya

Hormon-Hormon Kehamilan

Ketika terjadi kehamilan pada diri seorang perempuan, maka tubuh bereaksi dengan membentuk perubahan-perubahan dan segera memproduksi hormon-hormon kehamilan guna mendukung kelangsungan kehamilan. Hormon-hormon kehamilan ini bertujuan guna mendukung kehamilan yang berlangsung khususnya agar janin dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat. Ada baiknya para ibu hamil mengetahui mengenai hormon yang diproduksi selama kehamilan berikut fungsi dan efek yang dihasilkan olehnya, agar tidak terjadi salah pengertian atau malah menjadikannya mitos kehamilan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi selama kehamilan.Berikut ini adalah beberapa hormon yang diproduksi selama kehamilan, berikut fungsi dan dampak yang dihasilkan, yaitu:

1.      Hormon hCG (Human Chorionic Gonadrofin)

hCG merupakan hormon yang bersifat luteotrofik pada beberapa spesies , termasuk manusia, tikus, kelinci, babi dan sebagainya. hCG disekresi oleh plasenta, tidak seperti PMSG yang disekresi oleh endometrium uterus. hCG pada wanita berperan untuk mempertahankan corpora lutea selama tahap–tahap permulaan kebuntingan. Segera setelah ovulasi, korpus luteum akan cukup mendapat dorongan dari faktor-faktor luteotrofik hipofisa. Adanya dorongan ini menyebabkan korpus luteum tersebut secara fisiologis tetap aktif sampai hCG mulai dibentuk dalam jumlah yang cukup untuk bertindak sebagai luteotrofik. Sejumlah hCG yang dapat terukur timbul pada wanita hamil pada hari ke-5 sampai 16 setelah ovulasi, tetapi titer hCG tidak mencapai puncaknya sampai hari kehamilan yang ke-35 sampai 50 (Nalbandov, 1990).
hCG merupakan glikoprotein yang jauh lebih besar dengan berat molekul kira-kira 45.000 Dalton, tetapi lebih banyak mengandung residu gula dibandingkan dengan glikoprotein pituitary. Sifat-sifat khusus hCG yang diisolasi cenderung kurang seragam dibandingkan dengan sifat-sifat khusus hormon glikoprotein yang berasal dari pituitary, karena degradasi terutama rantai samping karbohidratnya dapat terjadi selama pembentukan urin. Hormon kehamilan ini hanya ditemukan pada tubuh seorang wanita hamil yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan karena pertumbuhan jaringan plasenta. Hormon kehamilan yang dihasilkan oleh villi choriales ini berdampak pada meningkatnya produksi progesteron oleh indung telur sehingga menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. Produksi HCG akan meningkat hingga sekitar hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan. Hormon kehamilan HCG mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh diperkirakan HCG mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan. Hormon ini merupakan indikator yang dideteksi oleh alat test kehamilan yang melalui air seni. Jika, alat test kehamilan mendeteksi adanya peningkatan kadar hormon HCG dalam urine, maka alat test kehamilan akan mengindikasikan sebagai terjadinya kehamilan atau hasil test positif
Dampak
Kadar HCG yang tinggi dalam darah menyebabkan mual-muntah (morning sickness).

2.      Hormon Kehamilan HPL (Human Placental Lactogen)

Adalah hormon yang dihasilkan oleh plasenta, merupakan hormon protein yang merangsang pertumbuhan dan menyebabkan perubahan dalam metabolisme karbohidrat dan lemak. Hormon kehamilan ini  berperan penting dalam produksi ASI. Kadar HPL yang rendah mengindikasikan plasenta yang tidak berfungsi dengan baik.
 Dampak
Memberikan perubahan terhadap payudara. Perubahan ini berupa pembesaran pada payudara,  serta membuat rasa ngilu dan sakit pada puting jika disentuh.

3.      Hormon Kehamilan Relaxin

Hormon kehamilan yang dihasilkan oleh korpus luteum dan plasenta. Melembutkan leher rahim dan merelaksasikan sendi panggul
Dampak
menimbulkan relaksasi pada ligamen dan sendi

4.      Hormon Kehamilan Estrogen

Dihasilkan oleh ovarium dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium rahim, perubahan-perubahan histologi pada vagina. Memperngaruhi pertumbuhan saluran kelenjar mammae sewaktu menyusui, mengontrol pelepasan LH dan FSH, mensensitifkan otot-otot uterus, mengendorkan serviks, vagina, vulva, serta menimbulkan kontraksi pada rahim. Estrogen juga memperkuat dinding rahim untuk mengatasi kontraksi saar persalinan. Hormon ini juga melembutkan jaringan tubuh, sehingga jaringan ikat dan sendi tubuh menjadi lemah sehingga tidak dapat menyangga tubuh dengan kuat. Berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem genital, organ reproduksi dan payudara.
Dampak
Dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh sehingga terjadi penimbunan cairan yang menyebabkan pembengkakan. Selain itu dengan peningkatan hormon ini ibu hamil sering merasa sakit punggung. Dapat juga menyebabkan varises.

5.      Hormon Kehamilan Progesteron

Hormon ini berfungsi untuk membangun lapisan di dinding rahim untuk menyangga plasenta di dalam rahim. Juga dapat berfungsi untuk mencegah gerakan kontraksi atau pengerutan otot-otot rahim, sehingga persalinan dini bisa dihindari. Hormon ini juga membantu menyiapkan payudara untuk menyusui.
Dampak
Hormon ini dapat "mengembangkan" pembuluh darah sehingga menurunkan tekanan darah, itu penyebab mengapa Anda sering pusing saat hamil. Hormon ini juga membuat sistem pencernaan jadi lambat, perut menjadi kembung atau sembelit. Hormon ini juga mempengaruhi perasaan dan suasana hati ibu, meningkatkan suhu tubuh, meningkatkan pernafasan, mual, dan menurunnya gairah seks selama hamil.

6.      Hormon Kehamilan MSH (Melanocyte Stimulating Hormone)

Hormon kehamilan ini merangsang terjadinya pigmentasi pada kulit
Dampak
Menggelapkan warna puting susu dan daerah sekitarnya. Pigmentasi kecoklatan pada wajah, pada bagian dalam dan garis dari pusar ke baeah (linea nigra)



Pengikut