Ada kesalahan di dalam gadget ini

Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Jumat, 24 Desember 2010

Populasi Dekomposer (Lampiran)

POPULASI DEKOMPOSER

Shalha Sahpianti (A1C407009)

Dosen Pengampu
Ir. Bambang Hariyadi, M.Si, Ph.d dan Agus Subagyo, S.Si, M.Si
Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
 Universitas Jambi
JambiI,  Januari 2010

Abstrak

Dekomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut. Populasi dekomposer disuatu wilayah berbeda dengan diwilayah lain. Untuk itu praktikum ini dilakukan untuk melihat jumlah jenis dan kepadatan populasi dekomposer yang membantu menguraikan bahan-bahan organik, terutama cacing tanah dan sejenisnya. Praktikum ini dilakukan dihutan sekitar unja, namun didua wilayah yang berbeda. Untuk satu wilayah dibuat 10 plot dengan luas per plot adalah 1x1 m. Setelah dilakukan estimasi, maka diketahui bahwa kepadatan populasi dekomposer yaitu 1,3 dengan 4 macam spesies cacing dan jumlah 38. Cacing spesies A mempunyai kelimpahan spesies terbesar dibandingkan spesies lain.

PENDAHULUAN

Kepadatan pupolasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya parameter ini tidak begitu tapat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relative. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenisyang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Suin.N.M.1989).
Menurut Nurdin (2003 : 13 dan 134) kepadatan populasi cacing tanah sangat bergantung pada factor fisika-kimia tanah dan tersedianya makanan yang cukup baginya. Pada tanah yang berbeda factor kimiatentu kepadatan populasi cacing tanahnya berbeda. Demikian juga tumbuhan pada suatu daerah sangat menentukanjenis cacing tumbuh dan kepadatan populasi di daerah tesebut. Tersedianya makanan yang sangat menentukan pertumbuhan populasi cacing tanah sebagai hewan yang ikut beperan dalamdalam proses dekomposisi mamakan sisa-sisa tanaman, sedangkan bagian yang tidak terserap dikeluarkan berupa material yang lumat.
Decomposer atau pengurai adalah organisme yang berperan menguraikan organisme lain yang telah mati. Makhluk hidup yang berperan sebagai pengurai diantaranya:
1). Mikroorganisme (Jasad Renik), yaitu makhluk hidup (organisme yang berukuran    mikroskopis (sangat kecil)tidak dapat dilihat oleh mata. Sehingga untuk melihatnya diperlukan alat yang disebut mikroskop. Contohnya: bakteri, algae unicellular (alga satu sel), Fungi unicellular (jamr satu sel).
2). Makroorganisme yaitu makhluk hidup yang berukuran lebih besar dari mikroorganisme dan dapat dilihat oleh mata biasa. Contohnya: Larva, Serangga, Cacing, Kumbang, dan fung multicelluler. (Wardono, 2005 : 10-11).

BAHAN DAN METODE

Pada praktikum ini bahan-bahan yang digunakan adalah Formalin 40 %, Ember, Air pelarut, Pinset, Tali Rapia, Stok Kecil, Botol pengumpul material atau gelas aqua, alat tulis dan table catatan pengamatan.
Metode percobaan yang dillakukan pertama-tama serasah penutup tanah dibersihkan dari ekosistem komunitas yang akan diamati. Dibuat petak dengan ukuran 10 x10 m , kemudian dibagi lagi menjadi 2 bagian. Kemudian ditiap bagian petak  dibuat plot dengan ukuran 1x1 m sebanyak 5 plot, jadi total plot untuk satu area ada 10 plot. Disemprotkan formalin 40 % dengan  ember pada petak kuadrat hingga keadaan jenuh. Ditunggu selama 15-20 menit, dikumpulkan jenis-jenis cacing tanah yang muncul kepermukaan. Saat pengambilan dilakukan dengan hati-hati, digunakan pinset., tetapi cacing tidak boleh putus, dibantu dengan lidi untuk mengangkat cacing dari lubang. Kemudian cacing dimasukkan  kedalam gelas aqua yang sebelumnya telah diberi air.  Cacing yang ditemukan dicuci dan dikeringkan, lalu ditimbang.kemudian di isi table yang telah disidiakan untuk  data kelompok, dan dicari dugaan populasi (N)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan analisis , diketahui bahwa jumlah cacing yang berhasil ditangkap ada 38 cacing dengan 4 macam spesies cacing. Spesies A berjumlah 14, spesies Pontoscolex sp berjumlah 9, spesies Aminthes sp berjumlah 9 dan spesies D berjumlah 6 individu.
            Setelah diperoleh data jumlah dan spesies cacing kemudian dilakukan perhitungan untuk mengetahui besarnya kelimpahan spesies  dan populasi tiap spesies untk kemudian dicari total jumlah seluruh spesies populasi dekomposer yang ditemukan. Nilai kelimpahan spesies dapat dicari dengan rumus berikut:
                                                                ni
                                                  P    = 
                                                                N
Sedangkan besarnya jumlah populasi dekomposer dicari dengan rumus berikut:
H   =   - Σ (Pi ln Pi)
            Setelah dilakukan perhitungan dari jumlah spesies yang ditemukan, maka dapat diketahui bahwa spesies A mempunyai kelimpahan spesies terbesar diwilayah yang telah dianalisis, dengan besar kelimpahan spesies yaitu 0,36. Nilai ini lebih besar jika dibandingkan dengan spesies lain , spesies Pontoscolex sp dan Aminthes sp kelimpahan spesiesnya 0,23 sedangkan spesies D mempunyai kelimpahan spesies terkecil yaitu 0,15.
            Dari nilai kelimpahan spesies, kemudian dicari pula besarnya nilai populasi tiap jenis. Seperti yang ada pada lampiran, populasi spesies A mempunyai nilai terbesar yaitu 0,37 sedangkan spesies Pontoscolex sp dan Aminthes sp jumlah populasinya adalah 0,33 dan spesies D jumlah populasinya yaitu 0,28. Besar nilai populasi ini dipengaruhi oleh nilai kelimpahan spesies, semakin besar nilai kelimpahan spesies maka kemnungkinan nilai populasi semakin besar.
            Untuk mengetahui kepadatan populasi dekomposer, jumlah populasi tiap spesies di jumlahkan. Jumlah total dari populasi spesies A, spesies Pontoscolex sp, spesies Aminthes sp dan spesies D adalah 1,3, maka sebesaritu pula lah nilai kepadatan populasi decomposer.
            Pada tabel hasil juga dapat dilihat bahwa penyebaran tiap spesies tidak merata, pada umumnya spesies A ditemukan di 8 plot (plot 1 sampai 6, 8 dan 10), spesies Pontoscolex sp ditemukan di 6 plot  (plot 4, 5, 7 sampai 10), spesies Aminthes sp ditemukan di 7 plot (plot 1, 4, 6 sampai 10), dan spesies D ditemukan di 4 plot (plot 6 sampai 8 dan plot 10). Dilihat dari penyebarannya tersebut diketahui bahwa spesies A mempunyai penyebaran paling besar dibandingkan spesies lain.
            Perbedaan jumlah populasi baik tiap spesies maupun per plot dan besarnya penyebaran kemungkinan besar disebabkan oleh kondisi fisik dari tanah sebagai tempat hidupnya. Suhu dan kelembaban tanah berpengaruh besar terhadap populasi dekomposer, khususnya cacing tanah dan sejenisnya. Pada umumnya semakin tinggi kelembaban tanah maka semakin tinggi populasi cacing tanah di wilayah tersebut.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:
  1. Dekomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut
  2. Populasi dekomposer yang ditemukan di hutan sekitar unja, ditemukan 4 macam spesies cacing yaitu spesies A, spesies Pontoscolex sp, spesies Aminthes sp dan spesies D.
  3. Spesies A mempunyai kelimpahan spesies dan jumlah populasi terbesar dibandingkan dengan spesies lain, kelimpahan spesiesnya 0,36 dan jumlah populasinya sebesar 0,37.
  4. Spesies A mempunyai tingkat penyebaran terbesar dibandingkan spesies lain, karena spesies A ter sebar di 8 plot dari total 10 plot.

DAFTAR PUSTAKA

Nurdin Muhammad. 2003.Ekologi Hewan Tanah. Jakarta: Bumi Aksara.
Suin, N.M.1989. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta : Bumi Aksara.
Wardono,Seto. 2005. Lingkungan Hidup. Jakarta : Vilar Bamboo Kuning

           


  
Tabel. Data Populasi Dekomposer Transek Hutan Dekat UPT English UNJA
Spesies
Unit Cuplikan / Ulangan
Jumlah Individu
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
P
B
P
B
P
B
P
B
P
B
P
B
P
B
P
B
P
B
P
B
Spesies A
3,5
2,5
0,06
0,02
3
4
0,14
0,14
2,5
3
4
4
0,04
0,06
0,12
0,09
3
0,05
3
3

0,03
0,03
6
0,30


5
0,22


5,1
0,22
14
Pontoscolex sp






5
0,26
6
5,5
0,14
0,10


4
3,6
0,17
0,21
5,5
0,23
3
0,30
5,1
5,2
0,29
0,19
9
Aminthes sp
5,5
6,5

0,41
0,39




6
0,47


10,5
7,5
0,43
0,49
8
0,26
2,3
0,15
4
0,08
6,8
0,45
9
Spesies D










3,5
0,30
2,6
3,8
0,19
0,12
4,3
O,1


4,8
3,9
0,18
0,16
6

Keteraangan : P = Panjang (cm)
                       B = Berat (gr)

Tidak ada komentar:

Pengikut