Ada kesalahan di dalam gadget ini

Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Senin, 12 Desember 2011

Badak Jawa Memberi Kami Makan


WWF/TNUKInduk badak dan anakan jantan yang terekam kamera video jebak yang dipasang di Taman Nasional Ujung Kulon.
Bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, keberadaan badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan satwa kebanggaan yang perlu diselamatkan. Di tengah upaya penyelamatan itu, tidak jarang komunitas tersebut mempertaruhkan nyawa mereka.
Tujuh pemburu burung liar dan madu di Blok Cimayang, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), mungkin akan menebaskan goloknya jika saja tidak cepat mengenali wajah Sumardi (45), warga Kampung Cikawung, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Mereka mengira Sumardi adalah petugas patroli penjaga hutan TNUK. "Untung bukan petugas. Kalau tidak, pasti saya tebas," kata Sumardi, menirukan ucapan pemburu yang ditemuinya di tengah hutan pada awal 2011 itu.
Naluri pemburu liar tidak salah. Sumardi adalah petugas Rhino Observation and Activity Managerial (ROAM). Tugasnya, membantu pihak TNUK memantau populasi dan kondisi vegetasi pendukung kembang biak dan kawasan konservasi badak jawa.
"Ada ketakutan hal itu terulang lagi, tapi tak menghalangi niat untuk memantau badak. Hanya dengan video perangkap, keberadaan badak bisa diketahui," kata Sumardi, yang mengaku dibayar pihak TNUK per bulan.
Ketegangan lain dialami Sarian (44), warga Kampung Kiaragondok, Desa Ujungjaya, Kecamatan Sumur. Lebih dari 11 tahun memantau kehidupan badak jawa, ia ketakutan setelah bertemu Robot, badak dewasa penghuni TNUK, di Blok Karangranjang, tahun 2004. Tanpa dia duga, badak berciri khas langkah kaki kiri terserat karena kram itu menyerang dan menggigit kaki kiri Sarian yang beralas bot karet. Jauh berbeda dengan kebiasaan badak jawa yang umumnya pemalu.
"Saya sempat naik ke pohon, tapi Robot lebih cepat menggigit kaki kiri saya," kenang Sarian, yang pernah mendampingi studi pakar badak Mark Grifith di TNUK.
Sarian hanya pasrah dengan bergelantungan di pohon. Sekitar setengah jam kemudian, Robot melepaskan gigitannya. Ia belum berani turun meskipun teman-temannya mengatakan Robot sudah pergi.
"Saya turun dan merasakan kaki kiri saya ternyata masih ada. Saya langsung menangis. Tidak kapok. Saya semakin ingin tahu rahasia kehidupan badak jawa lainnya," katanya.
Ketegangan itu hanya cerita kecil keterlibatan masyarakat sekitar TNUK bergaul dengan badak jawa. Untuk mendapatkan bukti kehidupan badak jawa, mereka menembus rimba TNUK sepanjang puluhan kilometer hingga menginap beralaskan terpal di hutan selama berhari-hari. Sebanyak 40 kamera dipasang secara bergantian di 120 titik, dan harus dipantau setiap 10 hari sekali.
"Badak jawa memberi kami makan. Semoga apa yang kami lakukan tetap membuat badak jawa tetap hidup," ujarnya.
Kawasan konservasi
TNUK adalah kawasan konservasi seluas 78.169 hektar daratan dan 44.337 hektar lautan yang menjadi habitat terakhir badak jawa di dunia. Secara geografis, TNUK masuk ke wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten. TNUK juga menjadi tempat tinggal banteng jawa (Bos javanicus), macan tutul (Panthera pardus melas), dan berbagai jenis burung hutan.
Meskipun tubuhnya seperti dilindungi kulit tebal dan ukuran tubuh dewasa mencapai 2-3 ton, badak bercula satu ini merupakan salah satu mamalia besar paling terancam punah di dunia. Badak jawa ditetapkan dalam daftar merah International Union Conservation of Nature sebagai mamalia sangat terancam. Jumlahnya diperkirakan tinggal 50-60 ekor.
"Tantangan peningkatan kembang biak badak pemalu ini adalah minimnya referensi ilmiah tentang badak. Contohnya, cara kawin atau perebutan wilayah," ujar Kepala Balai TNUK Agus Priambudi.
Perkembangan terakhir cukup memprihatinkan. Badak jawa diperkirakan mulai kesulitan mencari makan karena kalah bersaing mendapatkan makanan dengan banteng jawa. Sebulan lalu, ditemukan jejak badak di sekitar permukiman warga penggarap lahan di Blok Cikalegetan, sekitar 10 kilometer dari kawasan inti di Semenanjung Ujung Kulon.
"Kami juga khawatir muncul penularan tripanosoma yang diperkirakan membunuh badak di Malaysia. Dugaan penularannya dari kerbau milik warga yang mandi di kubangan sama dengan badak," katanya.
Atas dasar itulah, saat Yayasan Badak Indonesia dan International Rhino Foundation menawarkan program penyelamatan badak jawa, pihak TNUK menyambut positif. Program berdana Rp 6 miliar itu dinamakan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA).
Koordinator Sosialisasi dan Pembangunan Pagar JRSCA Indra Harwanto mengatakan, tujuan program ini adalah mengembangkan kawasan populasi kedua dan meningkatkan ketersediaan habitat badak jawa. Kegiatan teknis utamanya meliputi pembangunan pagar listrik kejut, jalur patroli, pembangunan pos jaga, dan pembangunan jembatan. Khusus pagar listrik akan dipasang sepanjang 22,7 kilometer dari Pos Cilintang menuju Aermokla. Tingginya 1,6 meter dari tanah dengan lebar 10 meter. Total lahan proyeksi JRSCA seluas 3.931 hektar.
"Hewan lain masih bisa melewati pagar ini karena setengah meter dari tanah sengaja tidak dipasang kawat. Tujuannya, agar babi hutan dan macan tutul bisa keluar masuk," katanya.
Indra mengatakan, pembangunan pagar listrik dilatarbelakangi maraknya perambahan hutan TNUK. Tahun 1980-1990,  sekitar 40 keluarga menggarap sekitar 100 hektar lahan TNUK. Jumlahnya meningkat menjadi 250 keluarga yang menggarap lahan 3.400 hektar.
Penyebab lain adalah tingginya populasi banteng jawa yang mencapai 500-600 ekor di Semenanjung Ujung Kulon serta luasnya kawasan tumbuh langkap (Arenga obtusifolia) membuat badak terancam kehilangan makanan.
Menurut Indra, kegiatan ini dilakukan pada November 2010-Oktober 2011 di tiga kawasan, yaitu Karang Ranjang, Kalejetan, dan Legon Pakis. Hasilnya adalah inventarisasi habitat, seperti peta perencanaan, pembuatan jalur jelajah, pengukuran areal langkap, pengukuran areal padang penggembalaan, dan pemetaan sumber air.
Penduduk setempat dilibatkan dalam kegiatan ini, termasuk mantan petani yang lahan sawahnya  di dalam lahan TNUK dibebaskan untuk JRSCA. (Cornelius Helmy)

http://sains.kompas.com/read/2011/12/04/10253552/Badak.Jawa.Memberi.Kami.Makan

Tidak ada komentar:

Pengikut