Ada kesalahan di dalam gadget ini

Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Senin, 12 Desember 2011

Sehat Bersama Komunitas Halaman Organik


Yunanto Wiji UtomoSoeparwan Soeleman, pendiri Komunitas Halaman Organik
Urusan kesehatan seringkali hanya identik dengan minum vitamin atau pergi ke dokter untuk menyembuhkan penyakit. Padahal, konsep kesehatan luas dan mencakup sisi kesehatan jiwa, raga, sosial, dan lingkungan. Mengembangkan halaman rumah yang sehat menjadi satu pilar mengupayakan kesehatan secara menyeluruh.
Komunitas Halaman Organik berusaha mengajak masyarakat untuk mengupayakan kesehatan dari halaman rumah, sesempit apapun itu. Komunitas tersebut sebenarnya komunitas yang baru saja diresmikan pada Oktober 2011 lalu. Cara komunitas mengupayakan kesehatan adalah dengan mengembangkan kebun organik sederhana yang memuat herbal, sayuran, dan tanaman hias.
Soeparwan Soeleman, pendiri komunitas ini mengatakan, "Sebenarnya ini berawal dari saya dan istri saya yang membuka kebun organik komersil. Saya belajar bagaimana caranya mengembangkan kebun organik. Lalu saya buat halaman Facebook 'Organic Home Garden'yang isinya tips-tips bagaimana cara berkebun organik."
Anggota di halaman Facebook tersebut kemudian meningkat hingga 800 orang hingga saat ini. Beberapa pihak pun berminat mengembangkan kebun organik di rumah. Akhirnya, sejak Oktober tahun lalu, Soeparwan mengadakan pelatihan rata-rata sebulan sekali. Sampai bulan ini, pelatihan akan memasuki yang ke 20 kalinya.
Sejak pelatihan, beberapa orang pun terjaring. Namun, ada kesulitan untuk saling berkomunikasi karena belum ada wadahnya. Akhirnya, pada Oktober tahun ini, dibentuklah Komunitas Halaman Organik. Untuk mempermudah publik menjangkau komunitas ini, dibuat website, bisa dilihat di laman www.halamanorganik.org.
Menguraikan fokus Komunitas Halaman Organik, Soeparwan mengatakan, "Fokus kita adalah keluarga, unit terkecil di masyarakat. Kenapa? Karena menurut saya, keluarga itu lebih efektif. Bagaimana keluarga ini menjadi sehat makanan dan lingkungan," Ia juga menambahkan bahwa sasaran utama komunitas ialah keluarga perkotaan.
Salah satu prinsip yang dikembangkan Komunitas Halaman Organik adalah sustainability. Salah satu bentuknya adalah menggunakan kembali wadah tetrapak untuk tempat menanam pohon. Bentuk lain adalah memakai limbah rumah tangga sebagai bahan baku kompos. Dari tingkat rumah tangga, sampah diminimalkan.
Untuk mengajak masyarakat luas memulai mengembangkan halaman organik, Komunitas Halaman Organik juga akan terus menggelar pelatihan. Jika ikut pelatihan, peserta juga akan memperoleh starter kit yang berisi media penyemaian, pupuk dan sampel benih. Jadi, begitu pulang, peserta bisa langsung praktek.
Lalu, bagaimana mengembangkan halaman organik jika halaman sempit? Donor Rahayu, istri Soeparwan, mengatakan bahwa teknik vertikultur bisa dicoba. Prinsipnya, vertikultur adalah menanam tanaman secara berundak. Bisa dilakukan dengan membuat semacam rak di mana pot kecil atau wadah lain diletakkan secara bertingkat.
"Ini lebih menghemat tanah, area dan juga artistik," kata Donor. Beragam tanaman juga akan tumbuh dengan baik dengan sistem ini. Hal terpenting adalah memastikan tanaman memiliki unsur hara yang cukup serta mencegah dari kekeringan. Caranya gampang, cukup dengan menyemprot air dan mencampur dengan kompos cacing yang dijual hanya seharga Rp 7.000.
Keuntungan utama mengembangkan halaman organik adalah kesehatan. "Tanah kita jadi sehat, keluarga sehat, kegiatan kita juga sehat. menyiram dan memelihara tanaman itu kan olahraga. Kita juga bisa memastikan sayuran yang kita makan itu sehat. Kalau kita beli di pasar kan bisa jadi sudah kontaminasi," jelasnya.
"Keuntungan lain adalah estetika dan fungsi. Kita bisa kombinasikan tanaman hias, herbal dan sayuran. Tanaman hias ada macam-macam, mulai yang mengendalikan hama hingga yang menyerap polusi. Kalau sayuran dipanen, nanti kan akan diganti. Pemandangannya juga ganti. Halaman organik jadi dinamis," sambung Sopaerwan.
Adanya halaman organik juga menguntungkan secara ekonomi. Dengan modal hanya Rp 200 untuk bibit, keluarga bisa memetik manfaat berupa sayuran organik yang murah. Bandingkan jika harus membeli sayuran organik di supermarket yang harganya mencapai Rp 10.000. Manfaat obat herbal gratis juga bisa dipetik.
Kegiatan Komunitas Halaman Organik saat ini sudah berlangsung di Bandung. Soeparwan berencana untuk melebarkan sayap ke Jakarta dan seluruh Indonesia. Di acara Green Fetival yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, 1-4 Desember 2011, Komunitas Halaman Organik juga akan memamerkan program dan tanaman yang bisa dikembangkan.
Soeparwan punya satu cita-cita. "Dalam jangka panjang, saya ingin melihat kota itu penduduknya mendapatkan asupan makanan dan lingkungan sehat. Bukan sekedar hijau, hijau saja kalau tidak sehat belum cukup. Caranya dengan halaman organik, mengurangi kimia, jadi udaranya juga sehat."

http://sains.kompas.com/read/2011/12/01/21081044/Sehat.Bersama.Komunitas.Halaman.Organik

Tidak ada komentar:

Pengikut