Ada kesalahan di dalam gadget ini

Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Senin, 12 Desember 2011

Mengapa Primata Cerdas Itu Diburu?



REPRO KOMPAS/ICHWAN SUSANTO
Keluarga orangutan borneo (Pongo pygmaeus) menyantap pisang dalam atraksi feeding yang dilakukan di Camp Leakey Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Kamis (10/11/2011).

TERKAIT:
Orangutan adalah salah satu primata cerdas selain simpanse. Penelitian menunjukkan bahwa 97 persen DNA orangutan identik dengan manusia. Namun, keduanya tak selalu berkawan.
Beberapa kejadian justru membuktikan bahwa manusia menjadi musuh orangutan. Manusia menjadikan orangutan budak seks, memperdagangkan tengkoraknya hingga menjadikannya kelinci percobaan obat.
Kejinya manusia memperlakukan orangutan juga terlihat di kebun kelapa sawit. Bukti menunjukkan bahwa perkebunan meminta karyawan atau warga membunuh orangutan bak membayar pembunuh bayaran.
"Orangutan dibunuh karena dianggap hama. Mereka mencabut tanaman sawit lalu menghisap pucuk-pucuknya," kata Daniek Hendarto dari Center for Orangutan Protection.
Bukti pembunuhan orangutan sudah banyak. Oktober 2011 lalu, ditemukan tulang di Desa Puan Cepak, Kalimantan Timur. Setalah diidentifikasi, tulang itu ternyata milik orangutan, diduga dibunuh dengan senjata tajam.
Bukti lain adalah penemuan orangutan di kalimantan Timur pada 3 November 2011 lalu. Orangutan itu dalam kondisi luka parah, diduga disika hingga patah tulang dan tidak bisa bergerak jauh.
Membiarkan orangutan berkeliaran akan menyebabkan kerugian besar. Inilah mungkin yang menjadi logika berpikir perkebunan kelapa sawit di beberapa daerah.
Satu orangutan, kata Daniek, bisa memakan 20-30 tanaman kelapa sawit per harinya. Jika satu tanaman nilainya 25 ribu rupiah, maka kerugiannya bisa dihitung dengan mudah.
"Jika makin besar, jumlah yang dimakan bisa lebih lagi. Kerugian pun akan makin besar juga. Jadi mungkin salah satu caranya adalah membunuh," tutur Daniek saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/11/2011).
Penelitian The Nature Conservancy dan 17 LSM lain yang dipublikasikan di jurnal PLoS ONE menyebutkan, jumlah orangutan yang dibunuh (tidak spesifik di kebun kelapa sawit) mencapai 750 ekor per tahun.
Pembasmian hama pertanian seperti wereng mungkin tidak menuai masalah serius. Tapi bagaimana jika hama yang dibasmi adalah primata yang masuk dalam kategori hewan langka?
Daniek mengatakan, "Sawit sebenarnya tidak masuk dalam daftar makanan orangutan. Orangutan memakan sawit karena banyak habitatnya sudah rusak dan tidak ada makanan."
Habitat orangutan makin terjepit salah satunya karena pembukaan kebun kelapa sawit yang memanfaatkan hutan yang masih bagus kondisinya. Di Kalimantan Timur misalnya, sekitar 500.000 hektar hutan dibuka per tahun.
"Orang selalu berpikir kalau ke Kalimantan akan ketemu hutan. Padahal kalau kita ke sana yang sebenarnya kita lihat sawit semua," ungkap Daniek.
Sebenarnya sudah ada Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang memfasilitasi pengembangan perkebunan sawit berkelanjutan. RSPO memuat kriteria sehingga usaha kelapa sawit bisa dikatakan berkelanjutan.
Sayangnya pembukaan hutan alam masih berlanjut. Ditambah dengan pembunuhan orangutan yang sebetulnya sudah dilarang berdasarkan Undang-Undang No 5 tahun 1990.
Saat ini dibutuhkan solusi agar pembantaian orangutan tidak terus berlanjut. menyisakan lahan saja tidak cukup sebab wilayah jelajah orangutan yang luas.
Tertangkapnya dua terduga pelaku pembunuhan orangutan di Kalimantan Timur bisa menjadi langkah hukum awal untuk menyelesaikan masalah orangutan. Selanjutnya, otak pelaku pembunuhan harus ditindak.

http://sains.kompas.com/read/2011/11/22/21062578/Mengapa.Primata.Cerdas.Itu.Diburu

Tidak ada komentar:

Pengikut