Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Senin, 25 Oktober 2010

POPULASI DEKOMPOSER

PERCOBAAN 6
POPULASI DEKOMPOSER

I.       PENDAHULUAN
          1.1. Latar Belakang
          Menurut fungsinya, semua makhluk hidup dalam suatu ekosistem dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer. Dekomposer ( pengurai ) adalah  adalah mikroorganisme yang berper ran menguraikan tubuh makhluk hidup lain yang mati atau sampah (Istamar Syamsuri,2000). Tidak sembarang tempat dapat digunakan sebagai tempat tinggal untuk suatu jenis makhluk hidup. Sebagai contoh cacing tanah hidup di tempat yang banyak humusnya.
            Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang menempati suatu daerah tertentu. Dari waktu ke waktu jumlah populasi mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi dapat mengurangi jumlah populasi dan dapat menambah jumlah populasi (Tim Penyusun, 2003).
            Kepadatan populasi adalah ukuran populasi yang dapat dinyatakan sebagai jumlah atau biomassa persatuan luas atau persatuan volume. Untuk mengetahui kepadatan populasi suatu jenis organisme di habitatnya, maka dilakukan penghitungan. Metoda yang paling tepat untuk mengetahui kepadatan populasi adalah dengan menghitung semua organisme yang terdapat didaerah penelitian ( Nurdin Muhammad Suin, 2003).
          1.2. Tujuan Praktikum
            Untuk mengetahui jenis dan jumlah mikroorganisme yang terdapat dalam suatu ekosistem yang bekerja membantu menghancurkan bahan organik.
II.      TINJAUAN PUSTAKA
            Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang menempati suatu daerah tertentu. Populasi suatu jenis makhluk hidup pada tiap-tiap habitat memiliki kepadatan yang tidak sama. Jumlah individu sejenis dalam suatu satuan luas daerah tertentu disebut kepadatan populasi (Sumarwan dkk, 1996).
            Individu dari berbagai jenis populasi akan mengalami perubahan baik dari musim ke musim maupun dari tahun ke tahun. Perubahan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor baik antara faktor biotis maupun antara faktor biotis dan abiotis ( Oman Karmana, 1988).
            Dari waktu ke waktu jumlah populasi mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi dapat mengurangi jumlah populasi. Perubahan populasi makhluk hidup dipengaruhi oleh beberapa hal berikut.
1.   Ruang gerak atau luas tempat hidupnya.
2.   Makanan yang tersedia.
3.  Peristiwa alam yang tidak terduga, misalnya gempa bumi, hujan lebat, banjir dan angin topan, perubahan suhu yang mendadak, tanah longsor dan lain sebagainya.
4.   Pemberantasan dan pembudidayaan hewan dan tumbuhan tertentu dengan sengaja.
           
            Perubahan populasi makhluk hidup disebabkan adanya kematian, kelahiran, dan perpindahan makhluk hidup di suatu tempat. Populasi makhluk hidup di suatu tempat dapat diketahui melalui penghitungan banyaknya populasi di tempat tersebut (Tim Penyusun, 2003).
            Pertumbuhan populasi itu ditentukan oleh daya biak spesies. Semakin besar daya biak suatu spesies, akan semakin besar populasinya. Semakin besar populasi itu, semakin banyak kebutuhan makanannya. Demikian pula kebutuhan akan oksigen, air, dan ruangan (Syamsuri, 2000).
            Sebagian besar materi mati di dalam ekosistem (khususnya daun yang telah gugur dan kayu mati ) dimakan oleh dedritus feeder. Organisme yang memperoleh nutrisi dengan jalan memecahkan molekul organik kompleks menjadi molekul organik sederhana dari tumbuhan atau hewan yang telah mati atau kotoran yang dihasilkan organisme hidup  disebut sebagai organisme dekomposer.
            Dekomposisi pada kondisi lapang merupakan proses yang sangat kompleks. Proses dekomposisi ini dikendalikan oleh tiga faktor utama yaitu sifat bahan organik atau kualitas bahan baku, kondisi fisik dan kimia lingkungan seperti temperatur, kelembaban, pH, unsur mineral dan potensi redoks, serta komposisi organisme tanah.
            Dekomposisi (penguraian) oleh dekomposer di dalam ekosistem merupakan hasil kerjasama antara kelompok mikroflora dan invertebrata. Tanpa kehadiran invertebrata mikroflora dalam proses dekomposisi sangat lambat (Brayer et al., 1976). Invertebrata telah diketahui menstimulasi pertumbuhan mikrobia melalui fragmentasi substrat, merubah sifat fisik dan kimia substrat serta melalui grazing (memakan mikrobia). Dengan kata lain proses dekomposisi secara tidak langsung dapat dicerminkan oleh komposisi, dinamika populasi dan aktivitas lain invertebrata (Tim Penyusun Ekologi, 2006).
            Pengurai (dekomposer) adalah kelompok mikroorganisme berupa bakteri dan jamur yang bersifat saproba ada juga yang menyebutnya bersifat saprofit (Sumarwan dkk, 1996), yang merombak atau menguraikan sisa-sisa jasad yang mati. Tidak seperti hewan yang dapat makan makanan yang padat, jamur dan bakteri dapat makanan dengan cara menyerap (Rustaman dan Redjeki, 1994). Zat-zat organik dari bagian tubuh yang mati diuraikan kembali menjadi zat-zat anorganik dengan menggunakan enzim pencernaan yang selanjutnya dikembalikan lagi ke alam. Hasil perombakan tersebut dapat berupa remukan atau hancuran (dedritus) yang merupakan makanan bagi detritivor, seperti belatung, siput, rayap, cacing tanah, luing dan teripang (Tim Biologi, 2001: 51). Hasil penguraian oleh kelompok pengurai ini berupa zat mineral yang akan meresap ke dalam tanah. Zat zat mineral itulah yang kelak akan diambil oleh tumbuhan untuk disusun menjadi makanan.
            Dengan adanya kelompok pengurai ini banyak keuntungan yang didapatkan. Pertama, tidak akan ada tumpukan bangkai hewan atau luruhan daun dan ranting pepohonan. Kedua, tumbuhan dapat memperoleh zat hara yang diperlukan untuk mensintesis makanan (Rustaman dan redjeki, 1994).
            Kehidupan hewan tanah sangat bergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah sangat ditentukan keadaan daerah itu. Dengan kata lain, keberadaan kepadatan suatu populasi suatu jenis hewan tanah sangat bergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Cacing tanah (Lumbricus terrestris) sudah dikenal sejak dahulu mampu membantu kesuburan tanah (Karmana, Oman 1988). Cacing tanah tidak toleran terhadap asam misalnya tidak akan ditemui atau sangat rendah kepadatan populasinya pada tanah yang asam.
            Kepadatan populasi adalah ukuran populasi yang dapat dinyatakan sebagai jumlah atau biomassa persatuan luas atau persatuan volume. Untuk mengetahui kepadatan suatu jenis organisme di habitatnya maka dilakukan penghitungan. Penghitungan kepadatan populasi suatu organisme dapat dilakukan dengan cara menghitung semua (hitung total) jumlah organisme itu di habitatnya tersebut, dan angka tersebut merupakan kepadatan absolut. Pada keadaan tertentu, tidak mungkin dapat dilakukan penghitungan untuk seluruh anggota populasi yang terdapat di habitat alami yang sangat luas. Untuk itu, hanya dapat dilakukan penaksiran kepadatan populasi organisme tersebut yaitu dengan cara pengambilan contoh. Berdasarkan parameter contoh itulah ditaksir kepadatan populasi.
            Taksiran kepadatan populasi berdasarkan contoh adalah dengan cara menghitung jumlah organisme yang diteliti dalam satuan unit contoh dari seluruh habitatnya. Diambil sebesar ukuran tertentu dan organisme yang terdapat dalam contoh tadilah yang dihitung. Bila habitatnya itu merupakan suatu daerah yang luas, maka diambillah seluas tertentu dari daerah itu dan dari daerah itu dihitunglah organisme yang terdapat di dalamnya. Satuan kepadatan populasi yang didapat dengan cara ini dinyatakan dengan jumlah persatuan luas contoh (Nurdin Muhammad Suin,2003).
            Menurut Nurdin Muhammad Suin (2003), kesahihan penaksiran kepadatan populasi berdasarkan contoh tergantung pada tiga hal:
1.  Populasi dalam tiap kuadrat contoh yang diambil harus dapat dihitung dengan tepat;
2.  Luas atau satuan tiap kuadrat harus jelas dan pasti;
3. Kuadrat contoh yang diambil harus dapat mewakili seluruh area atau daerah penelitian.
            Menurut Nurdin Muhammad Suin (1997), salah satu cara untuk menghitung kepadatan hewan tanah yaitu dengan menggunakan metoda formalin.
Metoda Formalin
            Dengan metode ini semacam zat kimia dituangkan di tanah dan diharapkan cacing tanah yang ada di tanah tersebut akan keluar dan cacing itu diambil, dihitung dan dikoleksi. Metoda ini kurang baik untuk jenis cacing tanah yang membuat lubang horizontal di tanah karena cairan formalin itu tidak sampai sempurna pada cacing.
            Konsentrasi formalin yang digunakan yang disarankan adalah berkisar antara 0,165 - 0,55 % dan sebaiknya 0,27 %. Walaupun demikian, tergantung pula pada keadaan tingkat kekeringan tanah. Untuk membuat formalin dengan konsentrasi 0,55 % maka 25 ml formalin 40 % dicampur dengan air sebanyak 1 gallon (sekitar 4,5 liter).
            Sebanyak 9 liter formalin 0,75 % digunakan untuk mengkoleksi cacing tanah pada plot seluas 0,5 m² dengan pemberian sebanyak 3 kali ( tiga liter tiap pakainya) dengan selang waktu 10 menit. Pengaruh kadar air dan suhu sangat besar terhadap jumlah cacing yang didapat.
            Distribusi suatu hewan tanah di suatu daerah tergantung pada keadaan faktor fisika kimia lingkungan dan sifat biologis hewan itu sendiri. Kebanyakan hewan distribiusinya berkelompok, yang mana mereka memilih hidup pada habitat yang paling sesuai baginya di tanah, baik sesuai faktor fisika kimia tanah maupun tersedianya makanan. Faktor fisika kimia tanah, walaupun berdekatan tidak persis sama, demikian pula tersedianya makanan bagi hewan tanah disana, dan hal ini ikut menentukan mengapa hewan tanah kebanyakan hidup berkelompok.

III.    BAHAN DAN METODE
          3.1.    Waktu dan tempat
Hari, tanggal               : Rabu, 6 Desember 2006
Waktu                                     : 13.30 - 15.30 WIB
Tempat                        : Hutan  di sekitar Kampus Universitas Jambi dan
                                      Laboratorium Universitas Jambi
          3.2.    Alat dan bahan
a. Komunitas tumbuhan pohon alami, kaya akan jenis tumbuhan bawah.
b. Formalin 40%
c. Air pelarut
d. Ember
e. Tali rafia
f. Botol pengumpul material (gelas akua)
g. Alat tulis dan tabel catatan lapangan
h. Lidi atau kayu kecil
i. Timbangan

          3.3.    Prosedur kerja
a.  Praktikan menentukan ekosistem komunitas yang akan diamati yaitu  hutan di sekitar kampus Universitas Jambi.
b. Serasah penutup tanah dari ekosistem komunitas yang akan diamati dibersihkan sampai bersih.
c.   Dengan tali rafia dibuat petak kuadrat dengan satuan satu meter persegi (1m × 1m).
d.  Disediakan larutan formalin 40 % sebanyak 25 cc dalam 4,5 liter air atau larutan kalium permanganat 0,5 % dalam air. Larutan ini ditempatkan dalam ember.
e.  Larutan tersebut disemprotkan dengan embrat (dalam praktikum diganti dengan gelas akua yang telah dilubangi kecil-kecil bagian bawahnya) secara merata pada petak kuadrat hingga keadaan jenuh (petak kuadrat berukuran 1 m x 1 m).
f.  Ditunggu selama 15-20 menit, dan dikumpulkan jenis-jenis cacing tanah yang muncul ke permukaan. Cara pengambilan harus hati-hati, menggunakan pinset (dalam praktikum dengan lidi atau tangan ), tetapi cacing tidak boleh  putus, dibantu dengan lidi untuk mengangkat cacing dari lubang.
g.  Cacing yang diperoleh dimasukkan kedalam larutan formalin 40% dalam gelas akua.
h.  Di dalam laboratorium, material yang dikumpulkan dari lapangan selanjutnya dibilas dengan air lalu dikeringkan di atas kertas dan akhirnya ditimbang.
i.   Cacing diidentifikasi tiap jenis dan disusun dalam tabulasi. Dibuat kolom nama jenis, unit cuplikan dan ulangannya. Pada tiap jenis dalam masing-masing unit cuplikan disebutkan jumlah individu yang diperoleh, dijumlahkan secara vertikal dan horizontal. Jumlah arah vertikal hanya melihat jumlah individu dalam setiap cuplikan sementara jumlah arah horizontal hanya melihat besar masing-masing jenis tanpa memperhatikan banyak individu dalam setiap cuplikan.
i.    Diduga besarnya  populasi (N) dengan rumus:
                                           X - S²
                        P          =  ————                     
                                              X

                                          X
                        N         =  ——   , atau
                                           P

                                               
                        N         =  ————     dimana,
                                            X - S²

X         =  Rata-rata pengamatan yang terhitung
         =  Ragam contoh yang tercuplik dalam pengamatan
N         =   Dugaan besar populasi total

j.   Mengekstrapolasikan jumlah tersebut untuk luasan yang diduduki oleh populasi yang diduga berdasarkan homogenitas lahan yang dihadapi.

IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN
          4.1.    Hasil
Data Kelompok 1
Jumlah cacing yang diperoleh             :  4 ekor
Berat cacing                                        :  0,45 gram
Data Kelas

Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Jumlahcacing (ekor)
4
7
13
4
14
3
6
3
26
9
13
14
Berat cacing (gram)
0,45
0,6
1,2
0,4
1,2
0,4
1
0,42
1,2
0,9
2,3
3,1
Rata-rata pengamatan yang terhitung (X)
_                  Jumlah cacing semua kelompok         116  ekor         
X         = —————————————— = ————— =  9,667 ekor / kelompok
                       Jumlah kelompok                              12
        = 93,44   ekor/ kelompok
S berat cacing =   0,45 + 0,6 + 1,2 + 0,4 + 1,2 + 0,4 + 1 + 0,42 + 1,2 + 0,9 + 2,3 + 3,1 gr 
                        =          13,17 gram
                                               S berat cacing                    13,17 gram
X berat cacing             = —————————  =  ————————
                                                12 kelompok                  12 kelompok
                                    = 1,0975 gram / kelompok
X² berat cacing            = 1,2045 gram / kelompok                              
            4.2.      Pembahasan
            Populasi makhluk hidup di suatu tempat dapat diketahui melalui penghitungan banyaknya populasi di tempat tersebut. Dalam percobaan yang dilakukan, penghitungan kepadatan populasi menggunakan metoda tidak langsung yaitu dengan cara menghitung jumlah organisme yang diteliti dalam satuan unit contoh dari seluruh habitatnya.
            Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui jenis dan jumlah organisme dekomposer dalam suatu ekosistem menggunakan metoda formalin. Ekosistem yang diamati yaitu hutan alami yang ada di sekitar kampus Universitas Jambi, dengan ukuran plot 1 m × 1 m sebanyak 12 plot  dan jarak antara 1 plot dengan plot yang lain sekitar 5 meter yang mengikuti sebuah garis lurus.
            Dari data yang diperoleh, praktikan dapat menduga besar populasi total dengan rumus Hanson yaitu:
                                          X – S
                        P           = ————
                                             X

                                           X
                        N         = ——— , atau
                                            P

                                            
                        N         =  ———— , dimana
                                            X- S
X         =  Rata-rata pengamatan yang terhitung
         =  Ragam contoh yang tercuplik dalam pengamatan
N         =  Dugaan besar populasi total
Perhitungan S (Standar deviasi) dan N untuk berat cacing tanah
Diketahui        : X       = 9,667 ekor/m² (dalam 1 plot)
                                = 93,44 ekor/m² (dalam 1 plot)
                           n       = 12 m² (luas tiap plot × banyak plot)
                  ___________
                     (X¡ - X)²                            
S          = √  ————— 
                         n -1                                    
                       __________________________________________________________
                       (4 - 9,67)² + (7 - 9,67)² + (13 - 9,67)² + (4 - 9,67)² + (14 - 9,67)² + (3 - 9,67)² + (6 - 9,67)² + (3 -                  9,67)² + (26 - 9,67)² + (9 - 9,67)² + (13 - 9,67)² + (14 -          9,67)²
S          =     ——————————————————————————————
12 – 1

                     ____________________________________________________________
                        32,11 + 7,11 + 11,11 + 32,11 + 18,778 + 44,44 + 13,44 + 4,44 + 266,778 + 0,44 + 11,11 +                       18,778
S          =  √ ——————————————————————————————
11

                  __________
                    460,667                    ________
S          = √ —————          = √ 41, 8788   = 6,4714
                        11
                                                           
                                                           
N jumlah cacing tanah            =   ————
                                                         X – S
                                                            93,4444                     93,4444
N jumlah cacing tanah            =  ————————  =  ————— = 29,2445
                                                       9,6667 – 6,4714              3,1953
Jadi, N (dugaan besar populasi total) jumlah cacing tanah adalah 29,2445 ekor/m²

Perhitungan S (Standar Deviasi) dan N untuk berat cacing tanah                
Diketahui        : X       = 1,0975 gram / m²
                                = 1,2045 gram / m²
                           n       =  12 m² (luas tiap plot × banyak plot)
                                            ___________
                                                (X¡ - X)²
S berat cacing tanah    =    —————
                                                    n - 1
                                              _______________________________________________
                                                (0,45 - 1,0975)² + (0,6 - 1,0975)² + (1,2 - 11,0975)² + (0,4 - 1,0975)² + (1,2 -                                               1,0975)² + (0,4 - 1,0975)² + (1- 1,0975)² + (0,42 - 1,0975)² + (1,2 - 1,0975)² +                                            (0,9 - 1,0975)² + (2,3 - 1,0975)² + (3,1 - 1,0975)²
S berat cacing tanah    = √ ————————————————————————
                                                                                    12 – 1
                                               
                                           _________________________________________________
                                                0,4193 + 0,2475 + 0,0105 + 0,4865 + 0,0105 +  0,4846 + 0,0095 + 0,4590 +                                              0,0105 + 0,0390 + 1,4460 + 4,0100
S berat cacing tanah    = √  ————————————————————————
                                                                                    11
                                          _________
                                           7,6330
S berat cacing tanah    = √ ————
                                              11
                                         ______
S berat cacing tanah    = √0,6939        = 0,8330
                                   
            N         =  —————
                                X – S
                        1,0245                  1,2045
N         =  ———————  =  ————  =  4,5541 gram/m²
                  1,00975- 0,8330        0,2645

Jadi, N (dugaan besar populasi total) berat cacing tanah adalah 4,5541 gram /m²

            Dari perhitungan N (dugaan besar populasi) cacing tanah dengan menggunakan rumus Hanson, berdasarkan jumlah dan berat cacing tanah yang diperoleh dari penghitungan secara langsung, praktikan dapat memperkirakan jumlah dan berat cacing tanah yang ada di dalam daerah yang diamati yaitu 1 m² sebanyak 12 plot.
            Rata-rata jumlah cacing tanah yang diperoleh dalam 1 plot (1 m × 1m) yaitu 9,667ekor/m², sedangkan N (dugaan besar populasi) jumlah cacing tanah dalam 1 plot yaitu 29,2445 ekor/m². Rata-rata berat cacing tanah yang diperoleh dalam 1 plot (1m × 1m) yaitu 1,0975 gram/m², sedangkan N (dugaan besar populasi) berat cacing tanah dalam 1 plot yaitu 4,5541 gram/ m².
            Jumlah cacing tanah yang diperoleh dalam setiap plot 1 m × 1 m dari 12 plot yang diamati setiap kelompok jumlahnya berbeda-beda. Hal ini mungkin disebabkan oleh kesuburan tanah daerah yang diamati berbeda, tingkat keasaman tanahnya berbeda, suhu lingkungan dalam tanah berbeda, keadaan lubang yang dibuat boleh cacing, ketersediaan makanan bagi cacing tersebut, kelembaban tanah, unsur mineral dalam tanah, daya biak spesies, jumlah oksigen dan hal lainnya.
            Menurut Nurdin Muhammad Suin (1997), distribusi hewan tanah di suatu daerah tergantung pada keadaan faktor fisika kimia lingkungan dan sifat biologis hewan itu sendiri. Kebanyakan hewan distribusinya berkelompok, yang mana mereka memilih hidup pada habitat yang sesuai baginya di tanah, baik sesuai faktor fisika kimia tanah maupun tersedianya makanan bagi hewan tanah di sana. Dan hal ini ikut menentukan mengapa hewan tanah kebanyakan hidup berkelompok.
            Menurut Oman Karmana (1988), kehidupan hewan tanah sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah sangat ditentukan keadaan daerah itu. Dengan kata lain, keberadaan hewan tanah sangat bergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan  biotik dan lingkungan abiotik. Menurut Oman Karmana, cacing tanah tidak toleran terhadap asam misalnya tidak akan ditemui atau sangat rendah kepadatan populasinya pada tanah yang asam.
            Menurut Istamar Syamsuri (2000), keasaman tanah juga berpengaruh terhadap makhluk hidup. Biasanya, makhluk hidup memerlukan lingkungan yang memiliki pH netral. Makhluk hidup tidak dapat hidup di lingkungan yang terlalu asam atau terlalu basa. Tidak sembarang tempat dapat digunakan sebagai tenmpat tinggal untuk suatu jenis mahkluk hidup. Tanah berhumus seringkali bersifat asam. Cacing tanah hidup di tempat yang banyak humusnya.
            Cacing tanah (Pheretima sp) hidup di tanah yang banyak mengandung bahan organik seperti sampah dan humus. Ukuran dan warnanya bermacam-macam.Umumnya cacing dewasa mencapai ukuran 20 cm dengan diameter 0,5 cm.
            Jenis cacing tanah yang diperoleh yang teridentifikasi yaitu Pheretima sp dan Lumbricus sp. Cacing yang diperoleh dari pengamatan ada yang ukurannya pendek, sedang, dan panjang ada pula yang kurus dan ada yang gemuk. Hal ini mungkin disebabkan karena ketersediaan makanan yang ada di dalam tanah dalam setiap plot berbeda-beda.
            Cacing yang ada di dalam tanah setelah tanah diberi larutan formalin, tidak semuanya muncul ke permukaan tanah. Hal ini mungkin disebabkan karena ada cacing tanah yang membuat lubangnya dekat permukaan tanah dan ada cacing yang membuat lubangnya jauh dari permukaan tanah. Serta ada cacing yang membuat lubang secara horizontal dan ada yang secara vertikal. Formalin yang diberikan ke tanah mungkin hanya diserap tanah pada bagian atas saja dan tidak sampai pada tanah yang lebih dalam. Cacing yang membuat lubang dekat permukaan tanah keluar karena cacing tidak tahan terhadap suasana yang terlalu asam, sebab formalin bersifat asam. Sedangkan cacing yang membuat lubang jauh dari permukaan tanah mungkin tidak merespon adanya formalin. Menurut Nurdin Muhammad Suin (1997), metoda ini kurang baik untuk jenis cacing tanah yang membuat lunbang horizontal di tanah karena cairan formalin itu tidak sampai sempurna pada cacing. Pengaruh kadar air suhu sangat besar terhadap jumlah cacing yang didapat.
            Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan praktikan dapat mengetahui bahwa pada tanah yang subur atau banyak mengandung humus banyak terdapat cacing tanah, sedangkan pada tanah yang humusnya kurang atau sedikit biasanya sedikit ditemukan cacing tanah.
            Cacing tanah merupakan organisme yang membantu dalam proses dekomposisi. Dekomposisi pada kondisi lapang merupakan proses yang sangat kompleks. Proses dekomposisi ini dikendalikan oleh tiga faktor utama yaitu sifat bahan organik dan kualitas bahan baku, kondisi fisik dan kimia lingkungan seperti temperatur, kelembaban, pH, unsur mineral potensi redoks seerta komposisi organisme tanah.
            Jumlah cacing tanah yang diperoleh kelompok 1 sebanyak 4 ekor, didapatkan pada tanah yang jumlah tanaman di atasnya sedikit, karena tanamannya telah terbakar pada plot yang diamati.
            Pada saat menunggu cacing tanah muncul ke permukaan tanah, banyak hewan lain yang muncul ke permukaan yaitu beberapa jenis semut (semut hitam, semut merah kecil, semut rangrang), belalang dan ada jenis serangga lain yang tidak tahu nama latin maupun nama daerahnya. Dalam plot yang diamati mungkin juga terdapat banyak bakteri yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, yang membantu proses dekomposisi. 

            V.      KESIMPULAN
            Setelah melakukan percobaan yang berjudul populasi dekomposer dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Praktikan dapat mengetahui jenis dan jumlah mikroorganisme yang terdapat dalam suatu ekosistem yang bekerja membantu menghancurkan bahan organik.
Ø Jenis mikroorganisme yang terdapat dalam ekosistem tersebut selain cacing tanah yaitu semut, belalang dan serangga. Cacing merupakan salah satu hewan yang bekerja membantu menghancurkan bahan organik.
Ø Dari perhitungan cacing tanah yang diperoleh dalam plot berukuran 1 m × 1 m menggunakan metode Hanson rata-rata jumlah cacing tanah yang ada yaitu 29,2445 ekor @ 29 ekor/m² dan rata-rata berat cacing yang ada dalam ekosistem tersebut yaitu 4,5541 gram /m².
Ø Keberadaan jumlah cacing tanah dan mikroorganisme lain yang bekerja membantu menghancurkan bahan organik  yang ada dalam suatu ekosistem ditentukan oleh lingkungan baik biotik maupum abiotik.

DAFTAR PUSTAKA

(Tidak dipublikasikan, hanya ditampilkan dalam draft asli dokumen pribadi penulis)

Tidak ada komentar:

Pengikut