Bhima Fish (Tolong dikasih makan donk)

Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Senin, 12 April 2010

Media Pembelajaran Benda Asli tak Hidup (mati)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. (Laria,2008)

Kata media berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa, sehingga dapat terdorong terlibat dalam proses pembelajaran (Anonim,2007) Dalam suatu proses belajar mengajar,dfua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai,meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus siperhatikan dalam memilih media,antara lain tujuan pengajaran,jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung,dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa.

Arsyad (2004) mengatakan salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaaruhi iklim,kondisi,dan lingkungan be;ajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Pemakaian media pembelajaran dalam proses balajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,memabangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar,dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orienntasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan danisi pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa,media pembalajaran juga dap[at membbanbtu siswa meningkatkan pemahaman,menyajikan data dengan menarik dan terpercaya,memudahkan penafsiran data,dan memudahkan informasi.

Dalam proses belajar mengajar dikenal banyak jenis media pengajaran yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Dalam perkembangan media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis. Kemudian lahir teknologi audio-visual yang menggabungkan fenomena mekanis dan untuk tujuan pembelajaran. (Wibawa,S dan Mukti, F.1991/1992).

Beberapa diantaranya mengemukakan bahwa media adalah sebagai berikut:

  • Teknologi pembawa peasan yang dapat dimanfaatakan untuk keperluan pembelajaran, jadi media adalah perluasan dari guru (Schram,1977).
  • Memberikan batasan media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak, audio visual, serta peralatanya (NEA,1969) → (National Education Assosiation).
  • Alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar (Briggs,1970).
  • Memberikan batasan media sebagai segala bentuk saluran yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (AECT,1977) → (Assosiation of Education and Communication Technology, 1977).
  • Berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Gagne,1970).
  • Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsamg pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa untuk belajar (Miarso,1989).
  • Media berasal dari bahasa Latin, yaitu medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. (Robert Heinich dkk,1985). (Anonim,2007)
  • “A medium (plural media) is a channel of communication, example include film, television, diagram, printed materials, computers, and instructors. (Media adalah saluran komunikasi termasuk film, televisi, diagram, materi tercetak, komputer, dan instruktur). Heinich, Molenda, Russel (1996:8).

Media pembelajaran selau terdiri atas dua unsur penting, yaitu unsur peralatan atau perangkat keras (Hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (message/ software). Media pembelajaran memerlukan peralatan untuk menyajikan peasan, namun yang penting bukanlah peralatan itu, tetapi pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media tersebut. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh sederhana berikut ini: Pesawat televisi yang tidak mengandung pesan/ bahan ajar belum bisa disebut media pembelajaran, itu hanya peralatan atau perangkat keras saja. Agar dapat disebut sebagai media pembelajaran maka pesawat televisi tersebut harus mengandung informasi atau pesan atau bahan ajar yang akan disampaikan. Ada pengecualian, apabila misalnya saja menggunakan pesawat televisi sebagai lat peraga untuk menerangkan tentang komponen-komponen yanga ada dalam pesawat televisi dan cara kerjanya, maka pesawat televisi yang anda gunakan tersebut dapat berfungsi sebagai media pembelajaran.

Perangkat lunak (software) adalah informasi atau bahan ajar itu sendiri yang akan di sampaikan kepada siswa, sedangkan perangkat keras adalah sarana yang digunakan untuk menyajikan bahan ajar tersebut

Dari berbagai batasan di atas dapat dirumuskan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk meyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. (Azhie,2007)

Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain :

  1. kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)
  2. faktor ukuran (size); besar atau kecil
  3. faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
  4. faktor gerak: diam atau bergerak
  5. faktor bahasa: tertulis atau lisan
  6. faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan antara gambar dan suara.

Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver). Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alau bantu, Edgare Dale mengadakan klasifikasi menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak.

Klasifikasi tersebut dikenal denagn nama “kerucut Pengalaman” dari Edger Dale pada saat itu dianut secara luas dalam menentukan alat bantu yang paling sesuai untuk pengalaman belajar.

CIRI-CIRI MEDIA PEMBELAJARAN

Ciri-ciri khusus media pembelajaran berbeda menurut tujuan dan pengelompokanya. Ciri-ciri media dapat di lihat menurut kemampuanya membangkitkan rangsangan pada indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Maka ciri-ciri umum media pembelajaran adalah bahwa media itu dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamati melalui panca indera. Di samping itu ciri-ciri media juga dapat dilihat menurut harganya, lingkup sasaranya, dan kontrol oleh pemakai.

Tiap-tiap media mempunyai karakteristik yang perlu dipahami oleh pemakainya. Dalam memilih media, orang perlu memperhatikan tiga hal, yaitu :

  1. Kejelasan maksud dan tujuan pemelihian tersebut
  2. Sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih
  3. Adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan karena pemilihan media pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan akan adanya alternatif-alternatif pemecahan yang dituntut oleh tujuan. (Azhie,2007)

MANFAAT DAN FUNGSI MEDIA

Perolehan pengetahuan siswa seperti yang digambarkan oleh tabel penglaman Edger Dale bahwa pengetahuan akan semakin abstrak apabila pesan hanya disampaikan melalui kata verbal. Hal ini memungkinkan terjadinya verbalisme. Artinya siswa hanya mengetahui tentang kata tanpa memahami dan mengerti makna yang terkandung didalamnya. Hal semacam ini akan menimbulkan kesalahan persepsi siswa. Oleh sebab itu sebaiknya memiliki pengalaman yang lebih konkrit, pesan yang ingin disampaikan benar-benar dapat mencapai sasaran dan tujuan.

Secara umum media mempunyai kegunaan:

  1. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
  2. mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra.
  3. menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
  4. memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, dan kinestetiknya.
  5. memberi rangsangan yang sama, mempersamaakn pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.

Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut kemp and dayton, 1985:

  1. penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
  2. pembelajaran dapat lebih menarik
  3. pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
  4. waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
  5. kualitas pembelajaran dapat ditingkatakan
  6. proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
  7. sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
  8. peran guru berubah ke arah yang positif

Dalam kaitannya dengan fungsi media peembelajaran dapat ditekankan beberapa hal berikut:

  1. penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif.
  2. media pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembalajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi slaing berhubugan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.
  3. media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai dan isi pembelajaran itu sendiri. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalan pembelajaran harus selalu melihat kepada kompetensi dan bahan ajar.
  4. media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alay hiburan, dengan demikian tidak diperkenankan penggunaannya hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata.
  5. media pembelajaran bisa berfungsi untuk mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dari bahan ajar lebih mudah dan lebuh cepat.
  6. media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan lebih tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran mmemiliki nilai yang tinggi.
  7. media pembelajaran meletakkan dasdar-dasar yang konkret untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.

Selain fungsi-fungsi sebagaimana telah diuraikan di atas, media pembelajaran ini juga memiliki nilai dan manfaat sebagai berikut:

  1. membuat konkrit konsep-konsep yang abstrak. Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstark dan sulit dijelaskan secara langsung kepada sisiwa bisa dikonkritkan atau disederhanakan melalui pemanfaatan media pembelajaran. Misalnya untuk menjelaskan tentang sistem peredaran darah manusia, arus listrik, berhembusnya angin dsb. Bisa menggunakan media gambar atau bagan sederhana.
  2. menghadirkan objek-objek yang terlau berbahaya atau sukar di dapat ke dalam lingkungan belajar. Misalnya guru menjelaskan dengan menggunakan gambar atau program televisi tentang binatang-binatng buas seperti harimau dan beruang, atau hewan-hewan lainnya seperti gajah, jerapah, dinosaurus, dsb.
  3. menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil. Misalnya guru akan menyampaikan gambaran mengenai sebuah kapal laut, pesawat udra, pasar, candi, dsb. Atau menampilkan objek-objek yang terlalu kecil seperti bakteri, virus, semut, nyamuk atau hewan/benda kecil lainnya.
  4. memperlihatkan gerakan-gerakan yang terlalu cepat atau lambat. Dengan menggunakan teknik gerakan lambat (slow motion) dalam media film bisa memperlihatkan tentang lintasan peluru, melesatnya anak panah, atau memperlihatkan suatu ledakan. Demikian juga gerakan yang terlau lambat seperti pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga, dll. (Anonim:2007)
  5. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis ( tahu kata – katanya, tetapi tidak tahu maksudnya
  6. Dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa
  7. Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya.
  8. Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota kelompok belajar
  9. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa. (Kusumah,2007)

Tujuan media pembelajaran:

- Mempermudah proses pembelajaran

- Meningkatkan efisisensi pembelajran

- Menjaga relevansi dengan tujuan belajar

- Membantu konsentrasi pembelajar

Manfaat media bagi pengajar:

- memberikan pedoman arah dan tujuan

- menjelaskan struktur, urutan pengajaran, memudahkan pembelajar

- memberikan kerangka sistematis mengajar

- metode pengajaran bervariasi

- memudahkan kendali mengajar

- membantu kecermatan, ketelitian

- membengkitkan rasa percaya diri

- menungkatkan kualitas pengajaran

- meberikan variasi belajar

- memberikan situasi belajar tanpa tekanan

- menyajikan inri informasi dan sistematika materi pembalajaran.

Media pembelajaran berfungsi untuk merangsang pembelajaran dengan:

  1. menghadirkan objek sebenatnya, objek yang langkah
  2. membuat duplikasi dari objek yang sebenarnya
  3. membuat konsep abstrak ke konsep konkret
  4. memberi kesamaan persepsi
  5. mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak
  6. menyajikan ulang informasi secara konsisten
  7. memberi suasana belajar yang tidak tertekan, dan menarik, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. (Universitas Islam Indonesia,2005)

Kehadiran media pembelajaran sebagai media antara guru sebagai pengirim informasi dan penerima informasi harus komunikatif, khususnya untuk obyek secara visualisasi. Dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, khusunya konsep yang berkaitan dengan alam semesta lebih banyak menonjol visualnya, sehingga apabila seseorang hanya mengetahui kata yang mewakili suatu obyek, tetapi tidak mengetahui obyeknya disebut verbalisme. Masing-masing media mempunyai keistimewaan menurut karakteristik siswa. Pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik siswa akan lebih membantu keberhasilan pengajar dalam pembelajaran. Secara rinci fungsi media memungkinkan siswa menyaksikan obyek yang ada tetapi sulit untuk dilihat dengan kasat mata melalui perantaraan gambar, potret, slide, dan sejenisnya mengakibatkan siswa memperoleh gambaran yang nyata (Degeng,1999:19).

Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

1. Fiksatif (fixative property)

Media pembelajaran mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa/objek.

2. Manipulatif (manipulatif property)

Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.(Laria,2008)

3. Distributif (distributive property)

Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu.

Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa fungsi dari media pembelajaran yaitu media yang mampu menampilkan serangkaian peristiwa secara nyata terjadi dalam waktu lama dan dapat disajikan dalam waktu singkat dan suatu peristiwa yang digambarkan harus mampu mentransfer keadaan sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan adanya verbalisme.

Proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik jika siswa berinteraksi dengan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan siswa. Siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.( Laria:2008)

Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale (dalam Sadiman, dkk,2003:7-8) dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagai contoh yaitu media pembelajaran komputer interaktif.

Diantara berbagai media yang ada, terdapat salah satu media yang menggabungkan berbagai media yang disebut dengan media asli mati tak hidup. Maka dari itu, untuk mengetahui seberapa luaskah cakupan media ini maka akan diuraikan tentang media asli mati/ tak hidup ini beserta aplikasi, kegunaan, peranan, seta kelebihan dan kekurangan media.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah sebenarnya media asli mati/ tak hidup itu ?
  2. Bagaimana fungsi & peranan, manfaat dan cara kerja media asli tak hidup/ mati?
  3. Bagaimana aplikasi media asli tak hidup dalam pembelajaran?
  4. Apakah Kelebihan dan kekurangan media asli tak hidup/ mati?

Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian dari media asli tak hidup
  2. Mengetahui fungsi dan peranan, manfaat, dan cara kerja media asli tak \hidup
  3. Mengetahui cara mengaplikasikan media asli tak hidup dalam pembelajaran
  4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan media asli tak hidup

BAB II

ISI

Media Asli Mati/ Tak Hidup

2.1 Pengertian

Media asli mati/ tak hidup merupakan media yang dapat dikatakan gabungan dari berbagai macam media yang polanya sejenis, namun dikelompokkan dalam satu kelompok besar secara kolektiv dan seragam. Media ini menampilkan Objek Nyata yang ada di dalam lingkungan hidup tetapi ditampilkan dalam bentuk mati/tak hidup. Dengan kata lain media ditampilkan kepada peserta didik dalam bentuk keadaan seutuhnya namun dalam keadaan tak hidup, dan dibentuk sesuai seperti sebenarnya.

2.2 Fungsi dan Peranan

Media ini bertujuan untuk menunjukkan bukti bahwa sebelumnya media yang ingin ditunjukkan itu benar-benar ada, namun untuk mendapatkan aslinya dalam bentuk hidup terdapat kendala atau sulit untuk ditemukan kembali, maka dari itu disajikan dalam bentuk asli namun tak hidup.

Media ini juga digunakan untuk mengakali keterbatasan media hidup yang tak mungkin akan ditemukan lagi dalam kehidupan saat ini, misalnya Dinosaurus zaman purba. Media ini mencakup bagian atas herbarium, taksidermi, awetan dalam botol, awetan rangka, Bioplastik, Preparat dan diorama (pameran hewan dan tumbuhan yang telah dikeringkan dengan kedudukannya seperti aslinya di alam).

Media ini biasanya dipakai dalam pembelajaran sains sebagai alat bantu untuk keterbatasan alat atau bahan yang tidak dapat ditemukan untuk diperlihatkan, atau mungkin untuk persiapannya membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga ditampilkan dalam bentuk asli tak Hidup.

2.3 Manfaat

Media asli mati namun tak hidup ini biasanya berfungsi untuk pembelajaran yang sifatnya Research, Discovery, dan Exploration. Dimana dengan adanya media ini peserta didik mampu untuk melakukan penelitian melalui suatu sample yang telah mati (awetan, herbarium dsb), untuk penemuan yang menurut peserta didik itu terbaru dikarenakan untuk pertama kalinya meliuhat langsung sample yang belum pernah dilihat sama sekali, atau dikarenakan sample yang ditampilkan benar-benar tidak terdapat di daerah asal tersebut, serta untuk menggali ilmu lebih dalam lagi tentang berbagai macam jenis sample asli yang telah dibuat tak hidup

2.4 Cara Kerja

Seperti yang telah di uraikan, bahwa Media Asli Mati/ tak hidup ini memiliki beberapa cakupan dengan cara keja yang masing-masing tentunya berbeda. Diantaranya:

1. HERBARIUM

Istilah herbarium lebih dikenal untuk pengawetan tumbuhan. Herbarium adalah material tumbuhan yang telah diawetkan (disebut juga spesimen herbarium). Herbarium juga bisa berarti tempat dimana material-material tumbuhan yang telah diawetkan disimpan. Misalnya Herbarium Bandungense adalah herbarium kepunyaan Departemen Biologi FMIPA ITB di Bandung, sedangkan Herbarium Bogoriense adalah herbariumm kepunyaan Balitbang Botani, Puslitbang Biologi Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bogor.

Menurut cara pengawetannya bisa dibedakan menjadi :

a. Herbarium kering, cara pengawetannya dengan dikeringkan.

b. Herbarium basah, cara pengawetan dengan disimpan dalam larutan pengawet seperti alkohol 70%, formalin 4 %, atau FAA (larutan yang terdiri dari formalin, alkohol, asam asetat glasial, dengan formula tertentu)

TEKNIK PEMBUATAN HERBARIUM DAN AWETAN BASAH

Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering. untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. awetan basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesimen dalam larutan formalin 4%.

Awetan yang telah dibuat kemudian dimasukkan dalam daftar inventaris koleksi. pencatatan dilakukan kedalam field book/collector book. sedangkan pada herbarium keterangan tentang tumbuhan dicantumkan dalam etiket. dalam herbarium ada dua macam etiket, yaitu etiket gantung yang berisi tentang; nomer koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen dan daeran tingkat II tempat pengambilan (untuk bagian depan) dan nama ilmian spesimen (untuk bagian belakang).
pada etiket tempel yang harus dicantumkan antara lain; kop( kepala surat) sebagipengenal indentitas kolektor/lembaga yang menaungi, (No)nomer koleksi,(dd)tanggal ambil, familia, genus, spesies, Nom. Indig(nama lokal), (dd) tanggal menempel, (determinasi)nama orang yang mengidentifikasi spesimen itu, (insula) pulau tempat mengambil, (m. alt) ketinggian tempat pengambilan dari permukaan air laut, (loc) kabupaten tempat pengambilan, dan (annotatione) deskripsi spesimen tersebut

Alat dan Bahan

a. Herbarium
1. karton/duplek
2. kertas koran
3. sasak dari bambu/tripleks
4. sampel tanaman
5. alat tulis
b. Awetan basah
1. botol jam
2. sampel spesimen
3. formalin
4. akuades
5. gelas ukur
6. kertas label

Cara Kerja
a. Membuat Herbarium

1. ambil salah satu tanaman/ bagian dari tanaman
2 Cara 1 : masukkan tanaman itu pada sasak bambu yang telah dibuat dan keringkan tanaman dengan penjemuran terhadap cahaya matahari.
Cara2 : atur posisi tanaman pada lembaran koran hingga rata.lapisi lagi dengan beberapa lembar koran, tangkup dengan tripleks pada kedua sisinya lalu ikat dengan kencangsehingga tanaman ter-press dengan kuat. ganti koran dengan yang kering setiap kali koran pembungkus tanaman basah. lakukan berulang-ulang hingga tanaman benar-benar kering.
3. tanaman dikatakan kering jika sudah cukup kaku dan tidak terasa dingin.
4. tanaman yang akan dibuat herbarium, sebaiknya memiliki bagian-bagian yang lengkap. jika bunga nya mudah gugur maka masukkan bunga tersebut dalam amplop dan selipkan pada herbarium . daun atua bagian tanaman yang terlalu panjang bisa dilipat.
5. tempelkan tanamanyang telah dikeringkan pada karton dengan menggunakan jahitan tali/ selotip. usahan kenampakan atas dan kenampakan bawah daun diperlihatkan.
6. lengkapi keterangan yang terdapat pada collector book
7. pasang etikenya.

b. Membuat Awetan Basah
1. siapkan spesimen yang akan diawetkan
2. sediakan formalin yang telah diencerkan sesuai dengan keinginan.
3. masukkan spesimen pada larutan formalin yang telah ada dalam botol jam dan telah diencerkan.
4, tutup rapat botol dan kemudian diberi label yang berisi nama spesimen tersebut dan familinya.

2. TAKSIDERMI

Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya, vertebrata pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhdap hewan yang berukuran relatif besar dan hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan mammalia. Organ dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa). Pengetahuan tentang kulit ini, sering dipakai sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, dan juga untuk menunjukkan bemacam-macam varietas yang terdapat di dalam species.

Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan), preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan (penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).

3. BIOPLASTIK\

Bioplastik merupakan pengawetan spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin untuk digunakan sebagai media/alat, baik itu untuk kepentingan pendidikan atau komersial tertentu ataupun tujuan tertentu Teknik pengawetan hewan/tumbuhan dengan Bioplastik ini memiliki beberapa keunggulan antara lain : Kuat dan tahan lama, murah, menarik dan praktis dalam penyimpanan. Tapi teknik ini juga memiliki kelemahan yaitu objek asli tidak bisa disentuh/diraba (karena observasi hanya mengandalkan penglihatan saja).

Pengawetan dengan menggunakan poliester resin ini dapat dilakukan pada bahan segar, awetan kering, dan atau awetan basah. Pengawetan ini bisa untuk mengamati aspek morfologi, anatomi, jaringan, perbandingan, atau siklus hidupnya

4. PEWARNAAN TULANG

Prinsip dari teknik pewarnaan ini adalah mewarnai bagian tulang vertebrata sehingga bisa dengan jelas membedakan tulang-tulang vertebrata secara khsusus, dan ini bisa digunakan untuk keperluan identifikasi ataupun determinasi vertebrarta secara umum.

Pengamatam terhadap pertumbuhan perkembangan tulang suatu hewan terkadang sulit kalau tanpa merusak hewan tersebut. Dengan ditemukannya metode pewarnaan tulang dan tulang rawan dengan tidak perlu merusak tubuh hewannya, merupakan sarana untuk penelitian keadaan dan perkembangan tulang.

Dengan hanya mewarnai tulang dan rawan saja, sedangkan yang lainnya bening maka kita bisa mengamati berbagai hal, diantaranya bentuk, perkembangan dan kecacatannya dari suatu hewan vertebrata pada tingkat perkembangan yang bervariasi.

5. MEMBUAT INSEKTARIUM

Insectarium adalah sampel jenis serangga hidup yang ada di kebun binatang, atau museum atau pameran tinggal serangga. Insectariums sering menampilkan berbagai jenis serangga dan arthropoda yang mirip, seperti laba-laba, kumbang, kecoa, semut, lebah, kaki seribu, kelabang, jangkrik, belalang, serangga tongkat, kalajengking dan Belalang sembah alat-alat dan bahan mungkin belum tercantum, tetapi mungkin ini sangat

membantu.

1. Tangkaplah serangga dengan menggunakan jaring serangga. Hati-hati terhadap

serangga yang berbahaya.

2. Matikan serangga dengan jalan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang

telah diberi kapas yang dibasahi kloroform.

3. Serangga yang sudah mati dimasukkan ke dalam kantong atau stoples tersendiri.

Kupu2 dan capung dimasukkan ke dalam amplop dengan hati2 agar sayapnya tidak

patah.

4. Suntiklah badan bagian belakang serangga dengan formalin 5%. Sapulah

(dengan kuas) bagian tubuh luar dengan formalin 5%.

5. Sebelum mengering, tusuk bagian dada serangga dengan jarum pentul.

6. Pengeringan cukup dilakukan di dalam ruangan pada suhu kamar. Tancapkan

jarum pentul pada plastik atau karet busa.

7. Untuk belalang, rentangkan salah satu sayap ke arah luar. Untuk kupu-kupu,

sayapnya direntangkan pada papan perentang atau kertas tebal sehingga tampak

indah. Begitu juga capung.

8. Setelah kering, serangga dimasukkan ke dalam kotak insektarium (dari karton

atau kayu). Di dalamnya juga dimasukkan kapur barus (kamper).

9. Beri label (di sisi luar kotak) yang memuat catatan khusus lainnya.

(mediapendidikanok.blogspot.com:2009)

2.5 Kelebihan dan Kelemahan Media

Kelebihan Media:

- Objek tidak harus ditampilkan langsung dalam bentuk nyata hidup untuk menunjukkan keberadaan suatu objek

- Menampilkan benda objek yang sulit ditemukan atau tidak ditemuan di suatu daerah asal

- Objek bias di deskripsikan lebih leluasa kepada peserta didik karena objek tidak dalam keadaan bergerak atau hidup, sehingga dapt ditunjukkan bagian-bagian yang ingin dijelaskan dari suatu sample.

- Objek yang ditampilkan terhadap cara guru menjelaskan kepada peserta didik tidak terkesan monoton

- Objek media mati tak hidup dapat ditampilkan beragam dari jenis suatu sample yang ingin diperlihatkan, daripada media nyata hidup yang belum tentu dapat ditemukan keseluruhannya untuk diperlihatkan kepada peserta didik

- Media nyata tak hidup terkesan unik untuk tampilannya, sehingga peserta didik termotivasi untuk mengetahui lebih dalam bagaimana sebenarnya media mati tak hidup ini dibuat.

Kelemahan Media:

- Media perlu perawatan yang baik agar tetap terjaga bentuk aslinya

- Untuk cakupan besar, perlu biaya yang mahal

- Media tidak dapat diperlihatkan secara maksimal dibandingkan saat media masih benar-benar dalam keadaan hidup dan utuh

- Untuk herbarium kering, penjelasan media dari guru kepada peserta didik terkesan dalam bentuk 2 dimensi

- Perlu ketelitian saat menampilkan media agar tidak rusak

- Media tidak dapat ditampilkan dalm kondisi suhu ruangan sembarangan, biasanya dalam inkubasi ruangan dengan suhu yang telah diatur

2.6 Aplikasi di Kelas

Media Asli Mati/ tak hidup ini di aplikasikan di kelas apabila media nyata sulit untuk di temukan, atau bahkan media nyata hidup itu tidak ditemukan sama sekali saat ini, dan penerapan media ini di kelas bisa dilakukan apabila jika sampel yang ingin ditampilkan tersebut tidak berada di daerah asal atau bila untuk pembuatannya membutuhkan waktu yang lama sehingga dipakailah media ini sebagai alat bantu mengajar di kelas untuk peserta didik.

BAB III

PENUTUP

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau penghantar sumber pesan dengan penerima pesan. Banyak para ahli yang mendefinisikan media pembelajaran,menurut Schramm,media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran

Media asli mati/ tak hidup merupakan media yang dapat dikatakan gabungan dari berbagai macam media yang polanya sejenis, namun dikelompokkan dalam satu kelompok besar secara kolektiv dan seragam. Media ini menampilkan Objek Nyata yang ada di dalam lingkungan hidup tetapi ditampilkan dalam bentuk mati/tak hidup

Media ini mencakup bagian atas herbarium, taksidermi, awetan dalam botol, awetan rangka, Bioplastik, Preparat dan diorama (pameran hewan dan tumbuhan yang telah dikeringkan dengan kedudukannya seperti aslinya di alam).

Media asli mati namun tak hidup ini biasanya berfungsi untuk pembelajaran yang sifatnya Research, Discovery, dan Exploration.

DAFTAR PUSTAKA

Wibawa,S dan Mukti, F.1991/1992. Media Pengajaran. Jakarta:Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependididkan.

Sadiman,Arief dkk. Media Pendidikan Pengertian,Pengembangan dan Pemanfaatannya.1986.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Arsyad,Azhar. Media Pembelajaran. 2004. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Akhmadsudrajat.wordpress.com/2008

Arsyad,Azhar. Media Pembelajaran. 1997. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

http://mediapendidikanok.blogspot.com/2009_10_01_archive.html

2 komentar:

Anonim mengatakan...

mantabbb...
makasii bgd yaa infonya... dah byk ngebantu tugas ku niy... ;)

Tio Rockdut mengatakan...

Thank's infonya... aq mo nanya nih..... aq punya baby iguana yg dah mati, rencananya mau aq awetkan dalam botol.. caranya gimana? yg diatas kan serangga, nah kalau kadal??? pakai formalin n di suntikkan juga??? sementara bangkai Iguananya aq bekukan di Kulkas. Mohon infonya sms ke 085278086086 (Tio)

Pengikut