Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Senin, 27 April 2009

SISTEM REPRODUKSI SAPI TERMASUK PERBANDINGAN DENGAN RUMINANSIA LAINNYA

leh : Bhima Wibawa Santoso

NIM : A1C407003

Jurusan : PMIPA FKIP Biologi Universitas Jambi

SISTEM REPRODUKSI SAPI

TERMASUK PERBANDINGAN DENGAN RUMINANSIA LAINNYA

( DOMBA, KUDA DAN BABI )

A. SISTEM REPRODUKSI JANTAN

Fungsi alamiah esensial seekor hewan jantan adalah menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa yang hidup, aktif dan potebsial fertile, dan secara sempurna meletakkannya ke dalam saluran kelamin betina.

Organ reproduksi hewan jantan dapat dibagi atas tiga komponen:

  1. organ kelamin primer, yaitu gonad jantan, dinamakan testis atau testiculus (jamak: testes atau testiculae), disebut juga orchis atau didymos.
  2. Sekelompok kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap yaitu nkelenjar vesikulares, prostate dan cowper, dan saluran-saluran yang terdiri dari epididymis dan vas deferens.
  3. Alat kelamin luar atau organ kopulatoris yaitu penis.

I. SKROTUM DAN TURUNNYA TESTIS KE SKROTUM

Gambar: skrotum sapi

Skrotum membungkus testis. Pada sapi dan domba, mengggantung kearah di antara paha belakang, tapi pada babi skrotumnya terletak di belakang paha dan di bawah anus. Skrotum domba relative besar dan bulat panjang dengan leher terlihat jelas.

Pada semua jenis hewan, turunnya testis ke skrotum kadang-kadang terjadi pada masa dalam kandungan atau segera setelah lahir. Ini berarti bahwa suhu testis dalam skrotum antara 4º dan 7º C lebih rendah daripada suhu tubuh. Testis akan rusak bila suhunya sama dengan suhu tubuh. Hewan yang tidak mengalami penurunan testis ke dalam skrotum atau yang mengalami cryptorchid, spermatogenesis (pembentukan sperma) tidak akan terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut semata-mata karena pengaruh suhu. Karena bila testis yang cryptorchid didinginkan secara buatan, spermatogenesisi tetap berlangsung.

Ada beberapa mekanisme untuk menjaga suhu testis tetap dingin, yaitu otot dartos, plexus pampiniform-akan dijelaskan dibawah ini-serta kelenjar keringat. Domba sebenarnya tidak berkeringat untuk mengatur suhu tubuh secara umum, kulit skrotum dilengkapi kelenjar keringat dengan baik yang membantu penurunan suhu testis.

Arteri yang melingkar-lingkar dikelilingi oleh plexus pampiniform yaitu suatu anyaman vena-vena yang amat kecil yang keluar dari testis. Vena-vena dari plexus kemudian bersatu membentuk sebuah vena dekat lubang inguinal.

Struktur spermatic cord menjamin keseluruhan testis tetap dipertahankan pada suhu yang lebih rendah daripada suhu-suhu organ di dalam rongga tubuh. System vaskuler yang kompleks memberikan pertukaran panas yang sangat efisien, yaitu darah arteri yang telah didinginkan sebelum mencapai testis. Sementara itu , darah vena dihangatkan sampai atau mendekati suhu tubuh sebelum mencapai rongga perut

Suhu, tekanan darah dan kadar hormone testosterone dalam pembuluh darah menuju dan dari testis ditunjukkan pada gambar.

II. TESTIS

Gambar: testis babi

Testes terletak pada daerah prepubis, terbungkus dalm kantong skrotum dan digantung oleh funuiculus spermaticus yang mengandung unsure-unsur yang terbawaoleh testes dalam perpindahannya dari cavum abdominalis melalui canalis inguinalis ke dalam skrotum.

Pada sapi jantan testes berbentuk oval memanjang dan terletak dengan sumbu panjangnya vertical ke dalam skrotum; pada sapi dewasa panjangnya mencapai 12 sampai 16 cm dan diameter 6 sampai 8 cm ( lihat gambar). Tiap testis (termasuk epididimis) berukuran berat 300 sampai 500 gr tergantung pada umur, berat badan dan bangsa sapi. Pada keadaaan normal, kedua testes adalah sama besar, mempunyai konsistensi ketat tetapi tidak keras, dan dapat dengan bebas bergerak ke atas dank e bawah di dalam skrotum.

HISTOLOGI

Secara histologo masa testes dibungkus oleh tunica albuginea, suatu lapisan putih tebal terdiri dari jaringan ikat padat dan serabut otot licin. Pada tepi proximal testis, suatu penebalan dari tunica albuginea bejalan memasuki masa testis, dan disebut mediastinum (median septum). Dari mediastinium dilepaskan sekat-sekat, septula testis yang menembus masuk ke dalam substansi testis dan membagi substansi tersebut menjadi beberapa lobuli lobuli testia ) yang berbentuk kerucut (lihat gambar). Apabila selaput serosa testis, tunica vaginalis propria, dan tunica albuginea disayat, maka parenchyma testis akan menggembung keluar karena turgor tinggi jaringan tersebut.

Substansi atau parenchyma testis yang terdapat dalam lobuli testis terdiri dari saluran-saluran kecil bergulung-gulung, tubuli seminiferi, yang menghasilkan dan berisi spermatozoa. Tubulus seminiferus mempunyai diameter 0,1 sampai 0,3 mm, panjang 50 sampai 100 cm. setiap testis mengandung tubuli yang begitu banyak sehingga apabila diluruskan dapat mencapai panjang beberapa kilometer ( pada sapi dapat mencapai 5 km). diantara tubuli, di dalam jaringan interstitial yaitu jaringan ikat longgar yang mengandung buluh-buluh darah, limphe dan syaraf, terdapat sel-sel datar dan polygonal yang disebut sel-sel interstitial dari leydig. Dimana dihasilkan androgen, hormone-hormon jantan , terutama testoteron.

Tubuli seminiferi saling bersatu di mediastinum testis. Dan bersatu dengan suatu system saluran retetestis. Menembus tunica albuginea pada suatu pintu kecil yang 4 sampai 5 mm lebarnya di bagian proximal testis (porta mediastini) yang di hubungkan dengan caput epididimis oleh 13 sampai 15 tubuli yang membentuk ductuli efferens testis.

Setiap tubulus mempunyai selaput dasar (membrane basalis) terdiri dari jaringan ikat dengan bagian luarnya yang kaya akan buluh-buluh darah; buluh-buluh darah tersebut tidak menembus membrane basalis dan makanan bagi sel-sel di dalam tubuh diperoleh dengan jalan difusi. Dengan permukaan membrane basalis sebagai dasarnya, terletak 2 macam sel, yaitu:

  1. sel-sel bundar dan besar disebut spermatogonia atau bakal sel kelamin jantan yang belum berdiferensiasi
  2. sel-sel sertoli atau sel-sel sustentacular semacam sel-sel panjang yang menjurus ke dalam arah centrum tubulus dan disebut juga sel-sel trophocyt. Pada ujung sel-sel sertoli terdapat sel-sel spermatid yang berada di sana untuk nutrisi dan perubahannya menjadi spermatozoa; jadi selain nutrisi, sel-sel sertoli di anggap memegang peranan penting dalam pembubuhan ekor spermatozoa.

Testes sebagian organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu 1) menghasilkan spermatozoa atau sel – sel kelamin jantan, dan

2) mensekresikan hormone kelamin jantan, testosterone.

Spermatozoa dihasilkan didalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (Folicle Stimulating Hormone), sedangkan testosterone diproduser oleh sel- sel interstial dari Leydig atas pengaruh ICSH (Interstitial Cell Simulating Hormone).

Jaringan Interstitial

Jaringan ini merupakan jaringan ikat yang penuh dengan pembuluh darah, limfe, dan syaraf. Juga terdapat sel interstitial atau sel Leydig yang terpisah - pisah atau dalam kelompok. Sel Leydig menghasilkan testosterone.

Tubulus seminiferus

Pada domba, total panjang tubulus seminiferus adalah 4 km mereka dialasi oleh epitel benih (germinal) yang bertumpu di lapisan membrane yang tipis dan membentuk serabut retikuler.

Sel penyokong atau sel sertoli

Sel ini merupakan sel yang relative kecil, memanjang, dengan pinggiran yang tidak teratur dan melebar dari bagian bawah hingga ke bagian dalam (lumen). Pada dasarnya, sel sertoli adalah sel kolumnar dengan benjolan-benjolan yang tidak teratur mengelilingi sel spermatogenik. Antara sel sertoli yang berdekatan terdapat dinding pemisah yang permeable terhadap darah. Ini merupakan garis parallel dari fusi/ gabungan dinding sel yang berlawanan di bagian bawah sel epitel benih. Inhibin dan protein lain dihasilkan oleh sel sertoli.

Sel spermatogenik

Sel ini berbaris di antara dan mengelilingi sel sertoli. Sel ini terdiri dari spermatogonia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatida, dan spermatozoa.

a) Spermatogonia. Paling awal dan terletak sebagai satu lapis di bawah membrane dasar. Turunan mereka berikutnya secara cepat mendekati lumen mereka adalah sel-sel yang bulat dengan inti bulat. Sel ini membelah membentuk spermatogonia dan beberapa berdifernsiasi menjadi lebih besar.

b) Spermatosit primer. Sel ini berada di sekitar spermatogonia, tetapi lebih dekat ke lumen. Melalui membrane miotik (pembelahan pertama) setiap sel menjadi dua sel yanmg lebih kecil.

c) Spermatosit sekunder. Sel imni membelah segera setelah pembentukannya dan karenanya jarang dapat dilihat. Ini adalah pembelahan kedua dan setiap satu sel menjadi dua sel.

d) Spermatida. Sel ini merupakan sel yang jauh lebih kecil, sangat dekat dan berhubungan dengan sel sertoli. Kebanyakan dari sel ini mempunyai inti dan tidak menunjukkan gambaran miotik. Sl-sel ini mengalami perubahan bentuk menjadi spermatozoa.

e) Spermatozoa. Tidak bergerak walaupun mempunyai ekor. Sel-sel yang terbagi dari pembelahan terakhir dari spermatogonia menjadi spermatida dapat disatukan oleh jembatan sitoplasma.

Ductus Efferent

Tubulus seminiferus bersatu di bagian atas lobus menjadi tubulus lurus yang memasuki bagian testis yang disebut rete testis yaitu daerah yang lebar dan panjang yang bervariasi di dalam mediastinum.

Dari rete testis sperma lewat menuju bagian kepala epididimis melalui 15 sampai 19 ductus efferent.

III. EPIDIDYMIS

Epididymis adalah suatu struktur memanjang yang bertaut rapat dengan testis. Ia mengandung ductus epididymis yang sanagt berliku-liku, dan mencapai panjang lebih dari 40m pada jantan dewasa dan kurang lebih 60m pada babi dan 80m pada kuda.

Dari asalnya di bagian dorsal atau dekat ujung testis, epididymis turun ke batas cranial kira-kira 3 cm, kemudian berbelok lateral naik dan melewati ujung dorsal berlawanan dengan bagian pertama membentuk bagian kepal epididimis dan menurun ke bagian kaudal jauh dari ujung tempat epididymis membentuk tonjolan pendek seperti limas yang disebut ekor epididimis. Bagian tengah antara kepala dan ekor epididymis menempel pada mesorchium caudal. Pada domba, panjang epididymis kira-kira 50 m.

Epididimis pada domba dijumpai sebagai benda yang agak pipih, dilekatkan pada testis oleh lapisan visceral tunika vaginalis. Setelah bersatunya ductus efferent, terbentuk sebuah tubulus yang berkelok-kelok yang digabungkan bersama oleh jaringan ikat. Pada epididimis dijumpai selaput otot polos, epithel pseudostratified columnar dengan silianya dan lumen yang penuh dengan spermatozoa.

Mendekati bagian ekor epididimis, lapisan otot menjadi semakin tebal. Demikian pula serabut saraf simpatis membentuk anyaman yang lebih tebal pada ekor epididimis. Kedua perubahan ini berhubungan dengan fungsi epididimis; pergerakan lambat ke depan spermatozoa pada bagian kepala dan badan, penyimpana pada ekor serta gerakan yang cepat waktu ejakulasi dari bagian ekor dan terus ductus deferens. Pada sapi dewasa mencapai ukuran sebesar ujung ibu jari dan agak berayun dalam kedudukannya. Di dekat ligamentum testis, saluran epididimis menjadi lebih kasar dan pada pelipatannyasekeliling ligamen, bersambung ke proximal sebagai ductus deferens.

Epididymis mempunyai 4 fungsi;

  1. pengangkutan. Spermatozoa diangkut dari rete testis ke ductuili eferentis testis oleh tekanan cairan di dalam testis
  2. konsentrasi. Dari suspensi spema encer yang berasal dari testes dengan konsentrasi 25.000 sampai 350.000 sel per mm³, air diresorbsi ke dalam sel epitel selama perjalanannya melalui epididimis, terutama pada caput dan ketiak mencapai cauda konsentrasi suspensi sperma menjadi 4.000.000 sel atau lebuh per mm³ atau 4 x 10 pangkat sembilan sel per ml.
  3. masturasi. Sperma menjadi lebuh matang di dalam epididimis dan sisia sitoplasma berpindah dari pangkal kepala ke ujung bagian tengah sperma (distal droplet). Pematangan atau masturasi sperma mingkin dicapai atas pengaruh sekresi dari sel-sel epitel. Pada sapi perpindahan butiran sitoplasma hanya terjadi dalam caput epididimis, sehingga dalam cauda praktis semua sperma mempunyai butiran sitoplasma pada posisi distal.
  4. penyimpanan. Cauda epididimis merupkan tempat penyimpanan sperma.

IV. DUCTUS DEFERENS

Vas deferens atau vas deferens mengangkut sperma dari ekor epididimis ke urethra. Dindingnya mengandung otot-otot licin yang penting dalam mekanisasi pengangkutan semen waktu ejakulasi. Diameternya dapat mencapai 2 mm dan konsistensinya sepert tali dekat ekor epididimis, vas deferens berliku-liku dan berjalan sejajar dengan badan epididimis. Dekat kepala epididimis, vas deferens menjadi lurus dan bersama buluh- buluh darah dan limfe dan serabut syaraf, membentuk funiculus spermaticus yang berjalan melalui canalis inguinalais ke dalam cavum abdominalis. Kedua vas deferens, yang terletak sebelah menyebelah di atas vesica urinaria, lambat laun menebal dan membesar membentuk ampullae ductus deferentis. Ampulla pada sapi mempunyai panjang 10 sampai 14 cm, diameter 1,0 sampai 1,5 cm dan pada kuda 15 sampai 24 cm panjang dan diameternya 2 sampai 2,5 cm. ampulla tidak terdapat pada babi kecil.

Penebalan ampulla disebabkan karena banya terdapat kelanjar pada dinding saluran. Kelenjar ampula bersifat tubuler dan secara histologik sangat mirip dengan struktur kelenjar vesicularis. Kedua ampulla pada sapi terletak dorsal dari leher vesica urinaria dan bermuara bersama saluran ekskretoris kelenjar vesicularis ke dalam uretra dengan orifium berbentuk celah pada setiap sisi colliculus seminalis. Selama perayuan dan stimulasi precoital, sperma diangkut dari ekor epididimis ke ampula, dibantu oleh gerakan-gerakan peristaltic vas deferens. Kelenjar ampula mensekresikan fruktosa dan sam sitrat, walaupun kelenjar vesicularis adalah sumber utama kedua zat kimia tersebut. Ampula dapat diurut secara manual dengan manifestasi melalui rectum untuk memperoleh semen.

V. SPERMATIC CORD

Spermatic cord terletak di bagian leher skrotum dan terdiri atas:

a. Arteri spermatic dalam, bebelok-belok di bagian atas testis.

b. Vena spermatic dalam, yang muncul dari plexus pampiuniform, merupakan anyaman di sekeliling arteri spermatic. Plexus pampiniform membentuk bundelan spermatic cord dan muncul dari beberapa vena yang meninggalakan bagian kepala testis

c. Saraf otonomik dari ginjal dan pexus mesenteric belakang

d. Limfatik

e. Otot kremaster dalam yang membungkus bagian-bagian tersebut diatas

f. Semuanya itu, terdapat di dalam lapisan visceral tunika vaghinalis

g. Ductus deferens lewat sendiri di tengah-tengah mesorchium.

VI. URETHRA

Urethra masculinis atau canalis urogenitalis adalah saluran eskretori bersama untuk urine dan semen. Uretra membentang dari daerah pelvis ke penis dan berakhir pada ujung glans sebagai orificium urethrae externa. Saluran ini dibatasi di bagian dalam oleh epitel peralihan yang berubah menjadi tipe squamous bersusun dekat ujung glans penis. Uretra dapat dibedakan atas tiga bagian:

1. bagian pelvis, suatu saluran silindrik dengan panjang 15-20cm, diselubungi oleh otot uretra yang kuat dan terletak pada lantai pelvis.

2. bulbus urethrae, adalah bagian yang melengkung seputar arcus ischiadicus,dan

3. bagian penis termasuk kelengkapan penis.

Sebelum ejakulasi konsentrasi sperma dari ampula bercampur dengan cairan-cairan kelenjar pelengkap pada urethra bagian pelvis. Di sebelah caudal leher vesica urinaria terdapat sesuatu peninjolan sebesar kacang, colliculus seminalis, di sebelah dorsal terdapat muara bersama ampula dan saluran-saluran ekskretoris kelenjar vessiculares. colliculus seminalis terutama terdiri dari jaringan cavernosus (jaringan mengandung buluh-buluh darah lebar), yang menutup leher vesica urinaria sewaktu ejakulasi dan mencegah masuknya semen ke dalam vesica atau mencegah bercampurnya semen dengan urine. Saluran pengeluaran untuk kelenjar prostate berbentuk pintu kecil dan banyak, tersusun dalam deretan-deratan sepanjang dinding urethra. Kedua pintu saluran ekskretoris kelenjar cowper terletak sedemikian rupa sehingga percikan sekresinya dapat mencuci bagian distal urethra, sehingga ia bebas dari urin sebelum ejakulasi.

VII. GLANDULA VESICULARIS

Kelenjar vesikularis dahulu disebut vesica seminalis karena disangka merupakan reservoir semen. Pada sapi ia terdapat sepasang, jelas lobulasinya dan berada dalam lipatan urogenital lateral dari ampula. Kelenjar vesicularis berbeda-beda dalam ukuran dan lobulasi antara individu-individu hewan. Pada sapi kelenjar-kelenjar tersebut berukuran panjang 10-15 cm dan diameter 2 sampai 4 cm. pada penyayatan, jaringan kelenjar yang berwarna kekuning-kuningan biasanya menjendol ke luar dari permukaan sayatan. Saluran-saluran sekretoris dari lobuli membentuk satu saluran ekskretoris utama yang terletak pada pertengahan kelenjar dan membentang ke caudal di bawah kelenjar prostate. Setiap saluran ekskretoris satu dengan vas deferens pada jalan keluarnya ke urethra membentuk dua ostia ejaculatoria. Hubungan anatomic antara ampula dan kelenjar vesiculares berbeda-beda antara individu dalam bangsa hewan yang sama.

Kelenjar-kelenjar vesiculares pada sapi berlobulasi dengan septa muskuler yang kuat di antara lobuli. Saluran sekretoris yang berbelit-belit dan bercabang mempunyai diameter sekitar 0,3 mm. saluran-saluran ini dibatasi oleh dua lapis sel, sel-sel kolumnar yang terletak sentral dengan tinggi 25-30 μ, dan sel perifer berisi butir-bvutir lipida besar.

Sekresi kelenjar vesiculares dapat diperoleh dengan mudah post-mortem dan merupakan suatu cairan keruh dan lengket. Sekresi tersebut mengandung proein, kalium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa enzim dalam konsentrasi yang tinggi; kadang berwarna kuning karena mengandung flavin. PHnya berkisar antara 5,7 sampai 6,2. sekresi kelenjar vesikularis membentuk 50% dan volume ejakulat normal pada sapi.

VIII. KELENJAR PROSTATA DAN COWPER

Kelenjar prostata sapi mengeelilingi urethra dan terdiri dari dua bagian: badan prostate dan prostate disseminatae atau prostate yang cryptic. Badan prostate berukuran lebar 2,5 sampai 4 cm dan tebal 1,0 sampai 1,5 cm. ia dapat dipalpasi per rectal sebagai suatu penonjolan lonjong melintang pada ujung cranial uretra pelvis. Pars disseminate mengelilingi urethra pelvis. Di dorsal ukurannya mencapai tebal 1,0 sampai 1,5 cm, panjang sampai 10-12 cm dan tertutup oleh otot uretra. Sekresi kedua bagian ini berjalan melalui saluran-saluran kecil dan banyak yang bermuara ke dalam uretra pada beberapa deretan.

Kelenjar cowper terdapat sepasang, berbentuk bundar, kompak, berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil daripada kelenjar cowper kuda yang berukuran tebal 2,5 sampai 5 cm. kelenjar tersebut terletak di atas uretra dekat jalan keluarnya dari cavum pelvis. Saluran sekretoris dari setiap kelenjar bergabung membentuk satu saluran ekskretoris yang panjangnya 2-3 cm. kedua saluran ekskretoris kelenjar cowper mempunyai muara kecil terpisah di tepi lipatan mukosa uretra.

IX. PENIS

Gambar: penis sapi

Penis kurang lebih silinder pada semua hewan. Penis memanjang ke depan dari ischial arch ke daerah umbilical pada dinding perut dan disokongoleh farscia penis dan kulit. Di depan skrotum, penis terletak di dalam prepusium. Bagian ujung penis disebut glans penis yang terletak bebas di dalam prepusium.

Penis sapi dan domba mempunyai lekukan berbentuk sigmoid di depan skrotum. Lekukan sigmoid ini akan hilang dan berubah menjadi lurus apabila terjadi ereksi.

Badan-badan penis disusun oleh corpus cavernosus penis yang mempunyai kapsul berurat tebal, tunika albuginea. Di bagian bawah pada legokan yang agak besar pada corpus cavernosusu penis terdapat ureter yang dikelilingi oleh cavernosus urethrae. Kedua korpus tersebut mempunyai sifat seperti spons yang dibagi ke dalam reuang-ruang oleh trabeculae.

Pada penis terdapat banyak pembuluh darah. Saraf penis adalah system saraf otonom dan somatic. Glans penis dialiri banyak pembuluh saraf dan merupakan tempat ujung saraf.

Babi cenderung untuk kencing di dalam prepusium. Bila mereka dikastraksi sebelum pubertas, prepusium akan tetap melekat pada glans penis, sma seperti pada masa sebelum pubertas.

PERBANDINGAN ORGAN REPRODUKSI JANTAN TERHADAP DOMBA, BABI, DAN KUDA (KECUALI SAPI)

DOMBA

Organ-organ reproduksi domba jantan hamper sama dengan pada sapi tetapi berat testes dalam hubungannya dengan berat badan relative lebih besar. Scotum domba lebih pendek dan tidak mempunyai leher. Kulit skrotum umumnya tertutup oleh wol. Testes domba berbentuk lonjong, berukuran panjang 7,5 sampai 11,5 cm, diameter 3,8 sampai 6,8 cm dan berat 250 sampai 300 gram. Letak testes hamper sama dengan pada sapi. Tubuli seminiferi dapat mencapai panjang 4000 meter.

Kelenjar prostate tidak mempunyai korpus, hanya ada pars disseminate yang berdifusi dengan sebagian besar uretra pelvis.

Penis domba berukuran panjang 35 cm dengan flexura sigmoides yang berkembang baik. Diameternya relative kecil 1,5 sampai 2 cm, seperti pada sapi. Panjang glans penis 5 sampai 7,5 cm. glans penis mempunyai suatu penonjolan filiformis sepanjang 4 sampai 5 cm, processus urethrae, yang mengandung bagian terminal uretra. Badan filiformis ini akan berputar secara cepat waktu ejakulasi dan menyemprotkan semen ke sekeliling orificium externa uterus.

BABI

Skrotum babi terletak tepat di bawah anus dan tidak begitu jelas seperti yang terlihat pada mamalia lainnya.testesnya sangat besar tetapi relative lebih lunak,dan terletak horizontal di dalm skrotum. Testes berbentuk lonjong, panjangnya 10-15 cm, diameter 5-9 cm, berat antara 500-800 gram, rata-rata 600 gram. Tubuli seminiferi mencapai panjang 6000 meter. Sisi bebas testes terletak caudal. Cauda epididymis yang cukup besar terletak dorsal, corpus di cranial dan caput di ventral. Vas deferens terletak cranial dan medial dari testis dan tidak mempunyai ampula yang jelas. Funiculus spermaticus nya panjang.

Kelenjar vesicularis relative sangat besar, panjangnya 12-15 cm, lebar 5-8 cm, dan tebal 5-8 cm. kelenjar-kelenjar ini menutupi bagian caudal vesica urinaria dan membentang ke dalam cavum abdomonalis. Pada babi corpus prostate terletak dorsal dari vesika urinaria dan tertutup oleh kelenjar vesicularis. Pars disseminate sekeliling uretra pelvis sangat meluas. Kelenjar cowper sangat besar dan padat, hamper silindrik dan terletak terpisah di kedua sisi uretra pelvis.

Penis babi mirip penis sapi tetapi flexura sigmoideanya terletak praescrotal. Bagian cranial penis tidak mempunyai glans tetapi berputar spiral kearah yang berlawanan dengan arah jarum jam. Panjangnya penis 45-55 cm. dan pada waktu kopulasi sepanjang 20-35 cm bagian penis tersembul keluar dari mulut preputium.

Preputium mempunyai orificium yang sempit dengan bulu-bulu yang kaku. Pada dinding dorsal cavum preputi ada pintu ke suatu kantong yang lonjong, diverticulum preputi. Kantong preputium mengandung campuran urin yang telah terurai dan sel-sel epitel yang rusak dan mempunyai bau tidak enak dank has babi jantan. Bau tersebut sangat menyolok dan dapat masuk ke dalam daging sehingga merusak rasa dagingnya.

KUDA

Scrotum agak simetris dan kurang bebas berayun dibandingkan dengan sapi. Pada keadaan kendor testes terletak horizontal, tetapi apabila mengeras cremaster bekerja maka testes hamper vertical, testis kuda bebentuk lonjong, panjang 7,5-12,5 cm, lebar 4-7 cm dan tebal kira-kira 4 cm. berat satu testis dapat mencapai 200-300 gram. Cauda epididimis terletak caudal dan bertaut longgar dengan testis. Corpus terletak dorsal dari testis dan caput epididymis di kranialnya. Ampula dan vas deferens berkembang baik. Vas deferens terletak dorsomedial dan corpus epididimis dan testis.

Kelenjar-kelenjar vesiculares berupa kantong-kantong piriformis memanjang; selaput lendirnya tipis dan berlipat-lipat dalam bentuk jala. Ukuran panjangnya 13-209 cm, diameter 2,5 sampai 5 cm. prostate berukuran panjang 5 cm dan lebar 2,5 cm.

Penis kuda bertipe vaskuler, mengandung banyak serabut-serabut otot tetapi tidak mempunyai flexura sigmoidea; ia dapat mudah di palpasi dan terasa sebagai suatu silinder licin dengan uretra sebagai suatus aluran yang dapat ditekan pada permukaan ventral penis, ukurannya mencapai panjang 50 cm, diameter 2,5 sampai 6 cm, dan 15 sampai 20 cm terletak bebas dalam preputium. Pada keadaan tidak ereksi, penis terasa lunak dan tertarik ke dalam preputium. Padawaktu ereksi ukuran panjang dan diameternya menjadi dua kali lipat, dengan glans penis yang sangat membesar berbentuk jamur dan mencapai tiga kali atau lebih pada ukuran normal. Uretra menonjol keluar sebagai suatu saluran sepanjang 2,5 cm, processus urethrae, di dalam suatu legokan pada permukaan dengan glans penis, fossa glandis. Dorsal dari processus urethrae terdapat sinus urethrae, atau diverticulum yang kadang-kadang berisi smegma. M. retractor penis tidak sekuat pada sapi.

Preputium kuda mempunyai cavum preputi sedlam 15 sampai 20 cm, dan refleksi kedua dari peputium penis yang asli. Mulut antara kedua rongga ini disebut cincin preputial menimbulkan bunyi-bunyi mengisap yang terdengarsewaktu kuda jantan berjalan. Sekresi kelenjar-kelenjar preputial dan sisa apitel menyebabkan pembentukan smegma di dalam preputium.

ANATOMI KOMPARATIF ORGAN-ORGAN REPRODUKSI JANTAN

ORGAN

SAPI

DOMBA

BABI

KUDA

TESTES

EPIDIDYMIS

AMPULLA

KELENJAR VESICULARIS

KELENJAR PROSTATA

KELENJAR BULBOURETRALIS

PENIS

PREPUTIUM

Panjang(cm)

Diameter (cm)

Berat (gr)

Panjang(cm)

saluran

Berat (gr)

Panjang (cm)

Diameter (cm)

Panjang (cm)

Lebar (cm)

Tebal (cm)]

Berat (gr

Corpus (cm)

Pars disseminata

Panjang (cm)

Lebar (cm)

Tebal (cm)]

Berat (gr)

tipe

Panjang keseluruhan

Panjang ujung bebas

Processus uretralis

Diameter ereksi

Flessura sigmoidea

Panjang (cm)

13

7

350

40

36

15

1,2

13

3

2

75

3x1x1

12x1,5x1

3

2

1,5

6

fibro-elastis

102

9,5

0,2

3

post-scrotal

30

10

6

275

50

-

-

7

0,6

4

2

1,5

5

lobuli jaringan kelenjar yang terpencar-pencar

-

1,5

1

1

3

fibro-elastis

40

4

4

2

post-scrotal

11

13

7

360

18

85

lobuli jaringan kelenjar yang terpencar-pencar

pada ujung saluran

13

7

4

200

3x3x1 (20 Gr)

17x1x1

16

4

4

85

fibro-elastis

55

18

tidak ada

2

post-scrotal

23

10

5

200

75

40

25

2

15

5

5

-

isthmus 2x3xo,5

lobus 7x4x1

5

2,5

2,5

-

Vaskuler-muskular

50

20

13

10

Tidak ada

B. SISTEM REPRODUKSI BETINA

Gambar: alat reproduksi sapi betina

Gambar: alat reproduksi babi betina

Hewan betina tidak hanya menghasilkan sel-sel kelamin betina yang penting untuk membentuk suatu individu baru, tetapi juga menyediakan lingkungan di mana individu tersebut terbentuk, diberi makan dan berkembang pada masa permulaan hidupnya.

Struktur dasar organ reproduksi jantan dan betina adalah sama sebelum diferensiasi seksual. Genitalia terdiri dari dua gonad yang belum berdiferensiasi, dua pasang saluran dan satu sinus urogenitalis (lihat gambar). Kedua gonad berasal dari lereng benih pada kedua sisi dorsal rongga perut. Saluran-saluran wolff dan muller membentang pada kedua sisi embrio dengan saluran muller di medial. Sinus urogenitalis diapit dari lateral oleh dua bibir dan diantaranya terdapat suatu penonjolan kecil, phallus.

Pembentukan gonad terjadi sesudah invasi lereng-lereng benih oleh sekelompok sel kantong kuning telur yang besar dan bergranulasi. Dua invasi terjadi pada perkembangan hewan betina. Invasi pertama gagal, sedangkan invasi kedua mengakibatkan pembentukan sel-sel kecambah asal (primordial germ cells, oogonia).

Sewaktu diferensiasi kelamin dimulai, gonad mengandung unsure sel yang akan berkembang kea rah jantan atau betina. Diferensiasi tergantung pada genotip dan pengaruh lingkungan luar dan dalam. Sebelum penyempurnaan migrasi sel sel kecambah, suatu poliferasi epithel kecambah di dalam gonad menyebabkan pembentukan saluran-saluran kecil yang pada betina disebut saluran-saluran meduler, pada jantan tubuli seminiferi.

Pada embrio yang belum berdiferensiasi secara seksual, masih terdapat kedua saluran Wolff dan mulleer. Saluran muller kemudian akan bertumbuh dan berkembang menjadi system saluran kelamin betina, sedangkan saluran wolff umumnya beregresi dan menetap sebagai rudimenh. Ke arah caudal saluran muller dari kedua sisi bersatu dan membentuk corpus uteri, cervix dan bagian cranial vagina.

Sinus urogenitalia membentuk vestibulum. Lipatan-lipatan pada setiap sisi sinus membentuk labia vulva. Phallus betina tidak cukup bertumbuh dibandingkan denagan pada hewan jantan. Organ ini menjadi klitoris dan homolog dengan penis pada hewan jantan.

I. OVARIUM

Berbeda dengan testis, ovarium tertinggal di dalam cavum abdominalis. Ia mempunyai dua fungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan sebagai organ endokrin yang mensekresikan hormone kelamin betina, estrogen dan progesterone.

Pada sapi, ovarium berbentuk oval dan bervariasi dalam ukuran panjang, lebar dan tebal masing-masing 1,3-5,0 cm, 1,3-3,2 cm, dan 0,6-1,9 cm. ovarium kanan umumnya agak lebih besar daripada ovarium kiri, karena secara fisiologik ia lebih aktif. Berat setiap ovarium bervariasi antar 10-20 gram. Ukuran ovarium bebeda-beda menurut struktur yang berada di dalamnya, corpora lutea atau folikel. Ovaria sapi terlatak pada perbatasan cranial ligamentum lata, kadangkala dibawahnya, pada lantai ventrolateral pelvis dekat, pada atau agak cranial ke gerbang dalam pelvis dan agak craniolateral ke mulut dalam serviks, kantong yang dibentuk oleh ligament uter-ovari dan mesovarium disebut bursa ovari. Folikel de graaf yang matang biasanya berdiameter kira-kira 1,0-2,0 cm, dan licin, convex, berdinding tipis, dan berfluktusi pada palpasi. Corpus luteum berdiameter kira-kira 1,9-3,2 cm dan dapat mencapai tiga-perempat ukurean ovarium. Corpus luteum kebuntingan dan corpus luteum yang matang pada siklus berahi mempunyai berat 3 sampai 9 gram atau rata-rata 5- 6,5 gram. Konsistensinya bagikan hepar (hati). Corpus luteum biasanya, tapi tidak selalu, berbentuk ireeguler dengan suatu penonjolan atau mahkota yang dapat berbeda-beda dalm ukuran, dari 0,5-1,5 cm dalam diameter membentang 0,5 sampai 1,0 cm di atas permukaan ovarium. Kira-kira 3-5 hari sesudah ovulasi corpus luteum dapat dikenal melalui palpasi rectal. Kurang lebih 3 hari sebelum ovulasi berikutnya corpus luteum mulai menyusut, lambat laun berathropy dan diganti oleh jaringan ikat, corpus albicans. Struktur ini cenderung untuk memberi perasaan kasar dan fibrous pada ovaria sapi betina yang sudah tua.

Pada kuda, ovarium berbentuk ginjal dan berukuran panjang, lebar dan tebal masing-masing 4-8 cm, 3-6 cm, dan 3-5 cm, dan berat 30-90 gram. Ovaria digantung did lam cavum abdominalis oleh mesovarium atau oleh bagian cranial ligamentum lata, terletak 5-7,5 cm dorsolateral dari cornua uteri dan bergabung dengan cornua uteri dengan ligamenta utero-ovarii. Beberapa folikel, berdiameter 2,5-7 cm, dapat ditemukan di dalam satu atau kedua ovaria. Acapkali folikel dapat mencapai ukuran 7,5-10 cm, dalam hal ini, untuk sementara ovarium menjadi sangat besar. Corpus luteum pada kuda berbentuk seperti kembang kol dan berdiameter kira-kira 1- 2,5 cm, dan terdapat dalam substansi ovarium,. Ia tak dapat dipalpasi, kecuali untuk beberapa hari sesudah ovulasi pada daerah fossa ovulatoris. Corpus luteum tidak menonjol ke permukaan ovarium karena tunica albuginea yang padat dan tebal membungkus ovarium kuda.

Pada domba ovarium berbentuk lonjong, dengan panjang kira-kira 1,3- 1,9 dan menyerupai ovarium sapi.

Pada babi, ovarium berbentuk lonjong, berat 3- 7 gram , tetapi bnerbentuk bagaikan setangkai buah anggur karena banyaknya folokel dan/ atau corpora lutea. Folikel babi secara normal berdiameter 8- 12 mm, dan corpora lutea kurang lebih 10- 15 mm. lokasi ovaria pada babi kira-kira sma dengan sapi, karena ligamentum lata yang panjang, lokasi ovarium di dalam rongga perut pda babi-babi betina tua sangat bervariasi. Ovaria babi hamper seluruhnyadititup dalam bursa ovari oleh mesosalpinx.

Folikel mencapai kematangannya melalui tingkatan perkembangan folikel-folikel primer, sekunder, tertier ( yang sedang bertumbuh) dan de graaf (yang matang). Folikel primer terdiri dari satu “bakal sel telur” yang pada fase ini disebut oogonium, dan selapis sel folikuler kecil. Selapis folikel-folikel ini berkumpul di bawah tunica albuginea.

Folikel sekunder berkembang kea rah pusat stroma cortex sewaktu kelompok sel-sel folikuler yang memperbanyak diri membentuk suatu lapisan multiselluler di sekeliling vitellus. Pada stadium ini terbentuk suatu membrane; zona pellucida, antara oogonium dan sel-sel folikuler.

Folikel tertier timbul sewaktu sel-sel pada lapisan folikuler memisahkan diri untuk membentuk tepian dan suatu rongga, antrum, kemana oogonium akan menonjol (lihat gambar). Antrum dibatasi oleh bnayak lapisan sel folikuller yang dikenal secara umum sebagai membrane granulose, dan didisi oleh suatu cairan jernih, liquor foliculliyang kaya akan protein dan estrogen.

Folikel ini merupakan struktur besar berisi cairan yang membengkak ke luar permukaan ovarium. Diameter folikel de graaf berbeda-beda menurut jenis hewan, pda domba dan babi adalah 5- 8 mm dan sapi 20 mm.

Jumlah folikel de graaf yang terbentuk per siklus berahi tergantung pada hereditas dan factor-faktor lingkungan. Pada sapi dan kuda, satu folikel biasanya berkembang lebih cepat daripada yang lain sehingga pada estrus hanya satu ovum yang dilepaskan, folikel-folikel selebihnya beregresi dan menjadi atretik. Pada babi 10- 20 folikel menjadi matang setiap estrus. Pada domba, 1- 3 folikel dapat mencapai kematangan tergantung pada bangsa, umur dan di negeri beriklim sedang, juga tergantung pada stadium musim kelamin.

ANATOMI KOMPARATIF OVARIUM PADA BETINA

Organ

Spesies

sapi

domba

babi

kuda

Ovarium

Bentuk

Berat 1 ovarium (gr)

Folikel de graaf yang matang

Jumlah

Diameter (mm)

Ovarium yang paling aktif

Corpus luteum yang matang

Bentuk

Diameter (mm)

Ukuran terbesar diperoleh (haris sebelum ovulasi)

Mulai regresi ( hari sesudah ovulasi)

Lonjong

10- 20

1-2

12- 19

kanan

bundar atau lonjong

20-25

10

14- 15

Lonjong

3- 4

1- 4

5- 10

kanan

bundar atau lonjong

9

7- 9

12- 14

Bagaikan setangkai anggur

3- 7

10- 25

8- 12

kiri

bundar atau lonjong

10- 15

14

13

Berbentuk ginjal, dengan fossa ovulatoris

40- 80

1- 2

25 – 70

kiri

seperti buah per

10- 25

14

17

II. OVULASI

Dinding folikel yang membengkak menipis dan kemudian dengan cepat terbentuk suatu daerah local yang disebut stigma di mana peredaran daerah terhenti. Ini menyebabkan hilangnya warna, transparansi dan penipisan selanjutnya dari dinding folikel pada tempat itu yang membengkak ke luar seperti gelembung terang. Film tentang ovulasi padfa kelinci menunjukkan bahwa pembentukan stigma berlangsung selama 5 menit dan oosit dan korona radiate yang mengelilinginya di dorong menembus dinding folikel dengan dorongan yang cukup dari cairan.

III. CORPUS LUTEUM

Setelah ovulasi, terjadi sedikit perdarahan pada domba dan sedikit lebih banyak pada sapi, kuda dan babi. Gumpalan darah menutupi lubang folikel. Untuk penyembuhan lubang tersebut, sel granulose membesar dan memperbanyak diri untuk membentuk sebagian besar dari korpus luteum. Akan tetapi, korpus luteum juga termasuk sel-sel dari teka interna yang merupakan jaringan pengikat yang penuh dengan pembuluh darah.

Warna corpus luteum berbeda-beda menurut spesies dan siklus reproduksi. Pada sapi dan kuda sel-sel lutein mengandung suatu pigmen lipochrom kuning, lutein. Pada domba dan babi, corpus luteum berwarna daging karena sel-sel granulosanya tidak mengandung pigmen tersebut.

Bentuk corpus luteum berbeda-beda menurut spesies. Pada sapi dan domba, ia mungkin terletak di atas permukaan ovarium atau terdapat di dalam stroma. Pada kuda, corpus luteum sama sekali terkubur didalam stroma ovarium.

Pada sapi, ukuran terbesar corpus luteum dicapai kira-kira 8 hari sesudah ovulasi dan tetap tidak berubah sampai hari ke 18. diameter corpus luteum pada saat tersebut lebih besar daripada folikel de graaf yang matang, kecuali pada kuda dimana ia tetap kecil.

Apabila terjadi kebuntingan, corpus luteum mempertahankan kebuntingannya pada semua ternak mamalia kecuali kuda. Corpus luteum kebuntingan dikenal sebagai corpus luteum verum dan dapat lebih besar daripada corpus luteum spurium (badan kuning semu) dari siklus berahi. Pada sapi corpus luteum verum bertambah besar sampai bulan kedua dan ketiga, kemudian menurun sampai bulan keempat dan keenam masa kebuntingan dan selanjutnya relative konstan sampai partus.

Jika tidak terjadi fertilisasi, corpus luteum beregresi, memungkinkan folikel-folikel da graaf yang lain menjadi matang. Sewaktu sel-sel luteal berdegenerasi, seluruh organ mengecil, menjadi putih atau coklat pucat, dan disebut corpus albicans. Sesudah 2 atau 3 siklus hanya tertinggal bekas jaringan ikat yang hampir tidak kelihatan. Sisa-sisa corpus albicans pada ovarium sapi bertahan selama beberapa siklus berturut-turut sebagai secercah merah kecil pigmen-pigmen lipochrom. Sebaliknya, corpus albicans dari estrus yang baru lewat cukup besar (berdiameter kira-kira 1,0 cm), keputih-putihan, dan mempunyai konsistensi fibrous yang kasar.

Regresi pda corpus luteum sapi betina yang tidak bunting dimulai 14- 15 hari sesudah estrus. Regresi berlangsung secara cepat dan ukuran besarnya mungkin tinggal separoh ukuran normal dalam waktu 36 jam.

IV. TUBA FALLOPI

Tuba fallopi atau oviduct merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil, berliku-liku dan terasa kawat seperti kawat terutama pada pangkalnya. Panjang dan derajat liku-likunya berbeda beda menurut spesies (lihat table komparatif). Pada sapi dan kuda pnjang oviduct mencapai 20-30 cm, dan diameter 1,5- 3,0 mm. panjangnya pada babi dan domba mencapai 15- 30 cm.

Ovarium terletak di dalam bursa ovarii yang terbuka. Pada sapi dan domba bursa ovarii cukup lebar dan terbuka. Pada babi, ia agak menutupi ovarium. Pada kuda ia sempit dan hanya menyelubungi fossa ovulatoris.

Tuba fallopi ini berkelok-kelok sehingga kelihatannya lebuh pendek daripada panjang sebenarnya. Tuba fallopi dibagi menjadi 3 bagian:

a) Infundibulum. Merupakan penebalan perluasan panjang ovarium, dan mempunyai fimbriae yang membungkus sebagian atau seluruh ovarium pada waktu ovulasi. Bagian jumbai-jumbai pinggir dari fimbriae berisi banyak pembuluh darah dan sel-sel otot polos. Fimbriae menjadi kaku pada waktu birahi. Posisi fimbriae yang begitu dekat dengan ovarium, gerakannya ynag aktif, gelombang ynag dibentuk oleh silia pada permukaan cairan, dan posisi ovarium pada bursa ovarii menjamin tuntunan yang efisien bagi sel telur untuk masuk ke mulut oviduct. Luas permukaan infundibulum mencapai 6- 10 cm² pada domba, dan 20- 30 cm² pada sapi. Muara infundibulum, ostium abdominale, dikelilingi oleh penonjolan-penonjolan ireguler pada tepi ujung oviduct, fimbriae. Fimbriae tidak bertautpada ovarium kecuali pada kutub atas organ tersebut terakhir. Hal ini menjamin pendekatan fimbriae ke permukaan ovarium.

b) Ampulla. Merupakan bagian tengah dari oviduct tempat terjadi pembuahan. Pada kuda ia memasuki cornua dalam bentuk suatu papilla kecil. Tidak ad otot spinchter dalam arti kata yang sebenarnya pada daerah pertemuan utero-tubal. Namun demikian pada babi, pertemuan-pertemuan ini dilengkapi dengan penonjolan mukosa panjang berbrntuk jari yang berasal dari oviduct memasuki lumen uterus sebagai lipatan-lipatan cukup baik pemberian darahnya. Pada sapi dan domba, terdapat suatu pembengkakan yang nyata pada pertemuan utero-tubal, terutama selama estrus.

c) Isthmus. Merupakan bagian akhir dari oviduct yang terbuka langsung ke bagian ujung runcing dari uterus.

ANATOMI KOMPARATIF SALURAN REPRODUKSI PADA BETINA DEWASA YANG TIDAK BUNTING

ORGAN

SPESIES

SAPI

DOMBA

BABI

KUDA

Panjang tuba fallopi

Tipe uterus

Panjang cornua (cm)

Panjang corpus (cm)

Permukaan endometrium

Pjg cervix

Diameter luar lumen cervix (cm)

Bentuk

Bentuk Os uteri

Vagina anterior pjg (cm)

Hymen

Pjg vestibulum

25

bipartitus

35-40

2- 4

70- 120

carunculae

8- 10

3- 4

2- 5 cincin annuler

kecil dan menonjol

25- 30

tidak jelas

10- 12

15-19

bipartitus

10- 12

1- 2

88- 96

carunculae

4- 10

2- 3

cincin-cincin annuler

kecil dan menonjol

10- 14

berkembang baik

2,5- 3

15- 30

bicornuata

40- 65

5

sedikit lipatan-lipatan longitudinal

10

2- 3

berbentuk sekrup pembuka botol

tidak jelas

10- 15

tidak jelas

6- 8

20- 30

bipartitus

15- 25

15- 20

lipatan-lipatan longitudinal jelas

7- 8

3,5- 4

lipatan-lipatan jelas

jelas

20- 35

berkembang baik

10- 12

V. UTERUS

Pada sapi uterus berbentuk bicornis dengan kedua cornua meninggalkan corpus uteri pada suatu sudut lancip dan terletak hamper sejajar satu dengan yang lain. Corpus uteri mempunyai panjang kira-kira 2- 4 cm. tergantung pada umur dan bangsa sapi, cornua uteri berukuran panjang 20- 40 cm dan diameter 1,25- 5 cm pada keadaan tidak bunting. Kedua cornua disatukan oleh ligament- ligament intertcornual dorsal dan ventral untuk kira-kira separoh panjangnya. Uterus dapat terletak pada lantai pelvis atau pada sapi yang sudah sering melahirkan, melewati tepi pelvis pada lantai caudal rongga perut. Uterus umumnya terletak dorsal atau lateral dari vesica urinaria dan dipertautkan ke dorsolateral oleh ligamentum lata atau mesometrium. Selama kebuntingan, uterus sangat membesar dan tertarik ke depan dan ke bawah cavum abdominalis. Cervix uteri berukuran panjang 5- 10 cm, diameter 1,5- 7 cm (rata-rata 3-4 cm) dengan diameter terbesar pada hewan yang sudah sering beranak (pluripara). Cervix terletak caudal dari corpus uteri di dalam rongga pelvis, pada tepi pelvis, atau di dalam rongga perut. Selama kebuntingan, cervix tertarik ke dalam cavum abdominalis.

Pada kuda, uterus yang tidak bunting berbentuk huruf T dengan cornua tegak lurus terhadap corpus uteri. Corpus uteri hampir sama ukurannya dengan setiap cornua 15- 25 cm, pada panjang 4- 7,5 cm, lebar 2- 5 cm tebal. Uterus digantung di dalam rongga pelvis dan rongga abdomen dorsal dari vesica urinaria oleh ligamentum lata. Pada kuda ligamentum lata ini bertaut ke dorsal pada daerah sublumbal. Cornua arteri terletak ventral dari ligamentum intercornualis. Kecuali pada keadaan bunting, uterus umumnya tidak terletak pada dasar rongga pelvis atau abdomen. Cervix kuda berukuran panjang 5- 8 cm dan diameter 2,5- 5 cm. Os cervix caudal menonjol ke dalam vagina 2,5- 5 cm dan membawa sertanya suatu frenulum (seutas kecil) selaput mukosa vagina dibawah Os externa.

Pada domba bentuk dan letak uterus sama seperti sapi. Setiap cornua berukuran panjang 10- 12 cm, dan corpus yang pendek 1- 2 cm. panjang cervix domba kurang lebih 2,5- 5 cm dan diameter (luar) 2- 3 cm. Os externa cervix terletak di bagian cranioventral vagina.

Pada babi, corpus uteri mencapai panjang kira-kira 5 cm dengan cornua yang berliku liku dan bebas bergerak karena ligamentum lata yang panjang 1,2- 1,8 meter. Pada babi dan hewan-hewan multipara lainnya batas-batas serviks tidak jelas. Cervix babi relative panjang, 10- 20 cm, dan merupakan satu saluran langsung atau kelanjutan dari vagina tanpa Os cervix yang jelas (lihat gambar).

Uterus digambarkan terdiri dari:

a) Endometrium, yaitu mukosa dan submukosa

b) Miometrium atau lapisan urat daging, dan

c) Perimetrium atau serosa yaitu sebuah membrane yang terus menjadi ligamentum lebar.

ENDOMETRIUM

Endometrium terdiri dari 2 bagian, interkarankula dan karankula.

interkarankula

Interkarankula memiliki 4 kolumnar sederhana dengan kadang- kadang terdapat sel yang mempunyai silia (rambut). Pada babi dan ruminansia terdepat kelompok- kelompok epitel pseudostratified columnar. Lamina propia terdiri dari sel-sel dengan banyak serabut retikuler dan pembuluh darah kapiler. Di bagian terdalam terdapat submukosa yang merupakan jaringan pengikat koloagen dan lebih sedikit pembuluh darah. Terdapat kelenjar uterin tubular dengan sel epitel kolumnar dikelilingi oleh anyaman pembuluh darah.

Karankula

Merupakan penonjolan permukaan yang berpangkal di bagioan dalam dan terbentuk dari pelebaran lamina propia; kaya akan sel-sel jaringan ikat dan banyak pembuluh darah. Karankula tidak mempunyai kelenjar.

MIOMETRIUM

Otot polos diatur sedemikian rupa membentuk lapisan tebal melingkar di bagian dalam dan lapisan memanjang (longitudinal) yang lebih tipis di bagian luar. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah (vaskuler). Lapisan vaskuler dan longitudinal berhubungan dengan ligamentum lebar.

VI. SERVIKS

Serviks adalah suatu struktur berupa sphincter yang menonjol ke caudal ke dalam vagina. Ia dikenal dari dindingnya yang tebal dan lumen yang merapat. Walaupun struktur serviks berbeda- beda antar hewan, dindingnya ditandai oleh berbagai penonjolan- penonjolan. Pada ruminansia penonjolan ini terdapat dalam bentuk lereng- lereng transversal dan saling menyilang, disebut cincin- cincin annuler yang berkembang sampai derajat yang berbeda (biasanya 4 buah) dan pada domba, yang dapat menutup rapat serviks secara sempurna (lihat gambar). Pada babi, cincin- cincin tersebut tersusun dalam bentuk sekrup pembuka tutup botol yang disesuaikan dengan perputaran spiralis ujung penis babi jantan. Pada serviks kuda terdapat lipatan-lipatan mukosa yang nyata dengan penonjolannya yang memanjang ke dalam vagina.

Dinding serviks terdiri dari mukosa, muskularis dan serosa. Mukosa serviks tersusun dalam lipatan-lipatan sekunder yang kecil. Sel-sel yang menghasilkan mucus pada mukosa mempunyai permukaan sekretoris yang luas. Aktivitas sekretorisnya yang tertinggi ditemukan pada waktu estrus; pada waktu berahi mucus serviks terdapat dalam keadaannya yang paling tidak kental.

Muskularis sangat kaya akan jaringan kolagen dan jaringan elastic. Ia juga mengandung otot licin. Lapisan otot sirkuler dibagian dalam sangat berkembang dan membentuk bahan utama lipatan-lipatan annuler.

VII. VAGINA

Vagina sapi mencapai panjang 25- 30 cm pada hewan yang tidak bunting. Pada dasar ventral vagian, dibawah mukosa sepanjang vagina, terdapat saluran- saluran gartner, berdiameter 2,5 mm, sisa-sisa saluran wolff. Cyste struktur ini kadang- kadang dapat ditemui.

Pada kuda, vagina berukuran panjang 20- 35 cm dan diameter 10- 13 cm bila berkembang. Sisa- sisa saluran wolff jarang ditemukan.

Vagina domba mempunyai panjang 7,5- 10 cm dan sama dengan vagina sapi.

Pada babi, vagina berukuran panjang 7,5- 11,5 cm. ia mempunyai diameter yang kecil, dengan selubung otot yang tebal. Sisa- sisa saluran wolff kadang- kadang ditemukan.

VIII. VULVA

Labia vulva itutupi oleh- oleh bulu- bulu yang jarang dan menjaga lubang luar saluran reproduksi. Pada domba, commisure dorsal nya agak membulat, sedangkan dari bagian ventral labia diteruskan sebagai tonjolan di tengah- tengah. Antara labia di bagian ventral tepat sebelah dalam lubang luar ureter terdapat klitoris (homolog dengan penis pada jantan). Klitoris kecil tapi mempunyai krura sepert halnya pada jantan, dan akan berereksi pada waktu kopulasi.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

gambarnya koq ga ke buka ya...padahal butuh banget ni.............

Bhima Wibawa mengatakan...

soory , , bro. settingan blognya dari awal emg ga bs nampilin image. ada trouble kyknya waktu awal skali aq buat , , mf ya sblmnya. nih msh lg usahain nyari settingan tampilannya

anitsa mengatakan...

daftar pustakanya mana? harusnya ditampiliin juga.

Pengikut