Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Tampilkan postingan dengan label Keanekaragaman Hayati (Biodiversity). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keanekaragaman Hayati (Biodiversity). Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Desember 2010

Status dan Kecenderungan Keanekaragaman Hayati Dunia



Keanekaragaman Hayati dalam Pasal 2 Konvensi, mengacu pada keanekaragaman organisme hidup, gen yang dikandungnya, dan komunitas dimana mereka berkontribusi. Tujuan Konvensi dalam Pasal 1 meliputi: konservasi keanekaragaman hayati, penggunaan komponen-komponennya secara berkelanjutan, dan pembagian keuntungan dari penggunaan sumber daya genetik secara adil dan merata.
Saat ini terdapat sebanyak sekitar 14 juta spesies di dunia dan hanya sekitar 1,75 juta spesies yang teridentifikasi. Secara umum, pola penyebaran keanekaragaman hayati adalah semakin meningkat ke arah khatulistiwa. Jadi, ekosistem yang paling kaya keanekaragaman hayatinya adalah Hutan Hujan Tropis. Wilayahnya hanya sekitar 7% dari permukaan dunia, namun 90% spesies dunia terdapat di wilayah ini.
Keanekaragaman genetik merupakan variasi yang terdapat pada gen, yaitu unit fungsional hereditas makhluk hidup. Semakin tinggi keanekaragaman genetik spesies, maka semakin fleksibel spesies tersebut dalam menghadapi perubahan lingkungan. Sedangkan rendahnya keanekaragaman genetik, akan berisiko mengalami kepunahan. Penurunan (erosi genetik) dan peningkatan keanekaragaman genetik populasi liar dapat disebabkan oleh kegiatan manusia. Spesies yang mengalami erosi genetik bisa pulih atau malah musnah selamanya. Aktivitas manusia yang meningkatkan keragaman genetik spesies, misalnya seleksi buatan, rekayasa genetik, bioteknologi dan biosafety.
Tingkat keterancaman punah didasarkan pada faktor-faktor: tingkat penurunan, ukuran populasi, wilayah distribusi geografis, dan tingkat populasi dan distribusi fragmentasi. Tingkat kepunahan menurut IUCN Red List system: Extinct, Extinct in the Wild, Critically Endangered, Endangered, Vulnerable, Lower Risk, Data Deficient, dan Not Evaluated. Diketahui sekitar 300-350 vertebrata dan hampir 400 invertebrata punah tiap 400 tahun. Pada berbagai negara di dunia, banyak spesies yang jumlahnya sudah sangat sedikit dan bahkan ada yang sudah punah.
Perusakkan ekosistem laut oleh manusia, misalnya penangkapan liar dan coral bleaching. Perusakkan yang tinggi juga terjadi di ekosistem perairan air tawar. Perusakkan lainnya terjadi pada hutan dan lahan kering. Hutan dan lahan kering dikonversi untuk lahan perkebunan dan pertanian, pembangunan, tempat pariwisata, pemukiman dan perkotaan. Meskipun sebenarnya sulit diganggu keanekaragamannya, nyatanya berbagai fauna dan flora hutan dan lahan kering statusnya telah berubah menjadi langka dan banyak pula diantaranya sudah punah.
Salah satu ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati adalah perubahan iklim. Terutama disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan kehilangan penutup tanah. Perubahan iklim secara langsung dapat mempengaruhi spesies melalui perubahan fenologi (misalnya, berbunga lebih awal pada pohon), perpanjangan musim tumbuh, dan perubahan dalam distribusi (misalnya, pergeseran dalam rentang ketinggian habitat serangga).
Sekarang sejumlah besar negara telah mulai melaksanakan Konvensi dan berbagai pihak telah secara eksplisit mengakui kebutuhan ini karena terpanggil untuk mengembangkan seperangkat indikator untuk keanekaragaman hayati, dan mereka berupaya untuk memperbaiki dan mengharmonisasikan data laporan nasional. Namun, belum memungkinkan untuk pengimplementasiannya secara meluas sesuai dengan yang terkandung dalam CBD karena keterbatasan instrumen dan proses yang terlalu bertele-tele.

Kafein dan Pembangkitan Energi



Latar Belakang
            Berangkat dari masalah yang berkembang dalam masyarakat kita, bahwa tidak terdapat garis pembatas yang jelas yang menyatakan kafein (terutama pada kopi, teh dan minuman-minuman energy drink) itu baik atau tidak bagi kesehatan. Berbagai statement muncul dalam masyarakat. Para ahli pun terlibat pro dan kontra dalam memberikan statement. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa kafein itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Dan sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa kafein itu tidak berbahaya dan malah baik untuk kesehatan. Kita tidak bisa memvonis “Salah” pada salah satu diantara statement mereka. Hal tersebut karena mereka memilki dalil yang mereka pegang masing-masing dan berasal dari penelitian serta pengujian secara klinis dan medis.
            Masalah kafein ini seperti sebuah masalah yang tak kunjung selesai. Dulu setiap instansi kesehatan memberikan larangan untuk meminum kopi. Namun, saat ini malah muncul pernyataan “Dianjurkan meminum kopi satu gelas dalam satu hari”. Berbagai kelebihan meminum kopi ini pun mulai disebarluaskan. Berbagai keuntungan mengkonsumsi kafein antara lain : membantu pembangkitan energi dan stamina (terutama dipakai oleh para atlit), membangkitkan rasa percaya diri, memperkuat daya ingat, antioksidan, mencegah penyakit jantung, memperlancar peredaran darah, membantu memfokuskan pikiran, meningkatkan kewaspadaan, dsb. Ironisnya, diantara mereka masih banyak yang berpegang pada statement yang lama, yaitu menganjurkan untuk tidak meminum kopi. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi bingung, dan akibatnya pandangan masyarakat pun pecah menjadi dua kelompok.
            Dari berbagai reaksi kafein dalam tubuh tersebut, dalam paper ini akan dilakukan pengkajian terhadap pengaruh kafein terhadap pembentukan energi dalam tubuh. Hal ini karena dalam kehidupan kita sehari-hari sering kita temui hal sebagai berikut : banyak atlit yang meningkatkan performa mereka dengan mengkonsumsi kafein, dalam setiap energy drink selalu memuat kafein, setelah meminum kopi atau teh tubuh merasa lebih segar, kopi dan teh bisa menunda lapar untuk sementara, dsb.



Tujuan
Penulisan paper ini bertujuan untuk :
  1. Mengetahui keterkaitan antara kafein dan metabolisme tubuh, terutama yang berkaitan dengan pembentukan energi.
  2. Mengetahui kandungan utama kopi dan bagaimana metabolismenya.
  3. Menjawab pertanyaan besar dalam masyarakat, apakah kopi itu membahayakan atau tidak. Sebab sebagian besar masyarakat kita adalah peminum kopi.

Studi Literatur
Caffeine
Hybrid skeletal structure of the caffeine molecule
 1,3,7-trimethyl- 1H-purine- 2,6 (3H,7H)-dione
Other names
1,3,7-trimethylxanthine, trimethylxanthine, methyltheobromine, theine, mateine, guaranine
Properties
C8H10N8O2
194.19 g/mol
Appearance
Odorless, white needles or powder
1.23 g/cm3, solid
227–228 °C (anhydrous); 234–235 °C (monohydrate)
178 °C subl.
2.17 g/100 ml (25 °C)
18.0 g/100 ml (80 °C)
67.0 g/100 ml (100 °C)
Acidity (pKa)
−0.13–1.22
3.64 D (calculated)
192 mg/kg (rat, oral)
(Anonim, 2009)

Kafein merupakan alkaloid xantin berwarna putih dan berasa pahit yang berfungsi sebagai stimulan psikoaktif dan dapat mempercepat produksi urin pada manusia dan hewan. Pada tanaman, kafein berfungsi sebagai pestisida alam yang dapat melindunginya dari serangan serangga dan menyebabkan paralisis (kelumpuhan) terhadap serangga tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kafein pada tanaman paling banyak terdapat pada kopi, teh dan coklat yang kita konsumsi setiap hari. Sehingga kita tidak mengetahui resiko apa yang mungkin timbul akibat konsumsi kafein yang berlebihan (Yosef, 2008).
Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar. Kafein memiliki berat molekul 194.19 dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air). Secara ilmiah, efek langsung dari kafein terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan jantung, serta memberikan efek samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia), dan denyut jantung tak berarturan (tachycardia) (Hermanto, 2007).

Kafein atau 1,3,7-trimetilxantina [1,3,7-Trimetil-1H-purin-2, 6 (3H, 7H)-dione] adalah alkaloid alami yang ditemukan di pohon kopi, kakao, teh (di mana bagian dari TEIN kimia kompleks), cola, guarana (bagian dari guaranina) dan pasangan (yang mateina), dan minuman dari mereka. Pada suhu kamar muncul sebagai padatan putih tidak berbau (Anonim, 2009).
Di dalam dunia suplemen/nutrisi olahraga, kafein dikategorikan sebagai pharmacological sports ergogenic  yang dapat memiliki fungsi kerja seperti hormon atau zat neurotransmitter alami tubuh sehingga membuat kafein dapat meningkatkan performa fisik dengan berperan  dalam berbagai proses metabolik tubuh (Irawan, 2009).
Ini adalah sebuah senyawa obat. Kimia ini adalah xantina (1,3,7-trimetilxantina) dan sebagai demikian, memainkan tindakan merangsang sistem saraf pusat (menghilangkan rasa kantuk dan rasa perhatian yang aktif) dengan bertindak pada sinapsis, tindakan diuretik ringan dan sederhana memiliki efek vasodilator iritasi selaput perut. Untuk tindakan merangsang digunakan sebagai obat penawar dari obat hipnotik. Efek negatif dari overdosis adalah kegembiraan, insomnia, tremor, mual, muntah, peningkatan buang air kecil, takikardia, extrasystole (Anonim, 2009).
Dari beberapa literatur, diketahui bahwa kopi dan teh banyak mengandung kafein dibandingkan jenis tanaman lain, karena tanaman kopi dan teh menghasilkan biji kopi dan daun teh dengan sangat cepat, sementara penghancurannya sangat lambat. Berikut adalah kandungan kafein dalam beberapa produk :

Produk
Kandungan Kafein
Secangkir Kopi
Secangkir Teh
Sebotol Coca-cola
Minuman energi (Kratingdaeng, M-150, Galin Bugar, dll)
Kopi Instan
Kopi Moka (mentah)
Kopi Moka (sangrai)
Kopi Robusta Jawa
Kopi Arabika
Kopi Liberika (mentah)
Kopi Liberika (sangrai)
85 mg
35 mg
35 mg

50 mg
2.8 – 5.0%
1.08%
0.82%
1.48%
1.16%
1.59%
2.19%
(Hermanto, 2007)
           
Jika melihat dari komposisinya, maka yang perlu diwaspadai dari minuman berenergi adalah kandungan kafeinnya. Mengutif beberapa hasil penelitian, dosis 100-150 mg kafein merupakan batas amam konsumsi manusia, dan efek yang diberikan pada takaran ini adalah dapat meningkatkan aktivitas mental yang membuat orang selalu terjaga, sehingga dosis anjuran konsumsi dari produsen minuman berenergi adalah 2-3 kali atau setara dengan 100-150 mg kafein seharinya. Hal ini sebenarnya beresiko terutama bila konsumsi dari minuman berenergi masih disertai dengan minum kopi (Hermanto, 2007).
Kafein merupakan suatu stimulant (memicu terbentuknya) sistem saraf pusat dan metabolit, yang keduanya dikeluarkan dan secara medis dapat mengurangi rasa capek dan mengembalikan mental saat lemah. Kafein untuk stimulat pada system saraf pusat terjadi pada saat konsentrasi tinggi, sehingga meningkatkan kewaspadaan/kesiapan dan kemampuan jelajah, kecepatan, fokus serta koordinasi terhadap tubuh yang baik. Dalam tubuh, kafein dimetabolisme menjadi beberapa senyawa yang dapat dilihat pada gambit dibawah ini (Yosef, 2008):
Kafein dimetabolisme dalam hati menjadi tiga metabolit primer, yaitu: paraxanthine (84%), theobromine (12%), and theophylline (4%). Kafein diabsorbsi (diserap) oleh lambung dan usus halus 45 menit setelah pemberian. Fungsi ketiga metabolit tersebut didalam tubuh adalah sebagai berikut (Yosef, 2008) :
  1. Paraxanthine (84%): untuk meningkatkan lipolisis (lisis terhadap lemak), dan meningkatkan gliserol dan asam lemak bebas dalam plasma darah.
  2. Theobromine (12%): memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan volume urin.
  3. Theophylline (4%): relaksasi otot halus pada bronkus, dan digunakan untuk mengobati penyakit asma.
                                               
            Dalam waktu 15 menit setelah anda meminum secangkir kopi, maka anda akan mengalami hentakan energi yang anda cari. Tetapi karena kafein tetap tinggal di dalam sistem tubuh anda selama 12 jam, maka pengaruhnya baru akan terus ada dalam waktu yang lama (Rudy, 2009).

Kafein Menstimulasi Energi
Dalam praktek sehari-hari kafein di manfaatkan untuk menciptakan efek penambah energi dan menumbuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Hal ini dapat terjadi karena kafein dapat menekan fungsi “adenosine” (senyawa ini jika di ikat oleh reseptornya, secara otomatis akan memperlambat aktivitas sel tubuh, juga menyebabkan pembesaran pembuluh darah-dibutuhkan saat tidur, agar jumlah oksigen yang bersirkulasi lebih banyak), terutama dalam membuat ikatan reseptor. Namun berbeda dengan hasil ikatan pendahulunya, kafein justru tidak memperlambat derak sel tubuh (Anonim, 2010).
Sebuah studi yang mendemonstrasikan mengenai keuntungan kafein yang dapat meningkatkan energi. Berdasarkan penelitian terakhir, kafein tidak selalu dapat meningkatkan energi. Para peneliti menguji sembilan daya tahan pelari melalui lima percobaan dengan menggunakan kapsul (kafein atau placebo) atau kopi (decaffeinated, decaffeinated dengan kafein yang ditambahkan kopi). Hasilnya, hanya kapsul yang mengandung kafein yang dapat meningkatkan daya tahan (Anonim, 2008).
Kafein bersama dengan ephedrine disebutkan merupakan jenis pharmacological sports ergogenik yang paling popular digunakan oleh atlet khususnya pada cabang olahraga  endurans. Sekitar   89% dari atlet yang mengikuti  penyelenggaran Iron Man 2005 di Hawai misalnya, disebutkan mengkonsumsi kafein dengan tujuan untuk meningkatkan performa tubuh,  dengan pilihan produk  yang paling popular di kalangan atlet pada cabang ini adalah minuman cola (70%), caffeinated gels (56%) serta kopi (42%) (Irawan, 2009).


Gambar. Kafein sebagai antagonis adenosin

Selain dapat memberikan peningkatan konsentrasi karena bersifat stimulan terhadap sistem pusat syaraf, beberapa penelitian juga  menunjukan bahwa konsumsi kafein mempunyai efek ergogenik yang mampu meningkatkan performa olahraga  terutama pada   olahraga endurans yang  berdurasi panjang seperti sepeda jarak jauh atau juga marathon serta pada olahraga intensitas tinggi berdurasi singkat (Irawan, 2009).
Kafein dan kopi bisa merangsang pengeluaran energi untuk berbagai derajat. Penggunaan kafein sendiri atau dalam kombinasi dengan efedrin telah diusulkan sebagai pengobatan untuk obesitas. Peningkatan pengeluaran energi dan perubahan dalam plasma substrat, kafein berikut penelanan, mirip dengan yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik (Acheson, Gremaud, Meirim, et al., 2004).
Pendongkrak Metabolisme: Teh Hijau dan Kopi
Kandungan rahasia :
Kafein dan sebuah zat kimia bernama EGCG dalam teh.
Cara kerja :
Kafein dapat meningkatkan denyut jantung. Sekali lagi, semakin cepat denyut jantung Anda, maka semakin cepat dan banyak pula pembakaran kalori. EGCG dalam teh bekerja hampir sama dengan kafein, tetapi tidak sekedar mempercepat denyut jantung, namun juga membuat otak dan syaraf bekerja lebih cepat sehingga juga membantu pembakaran lebih banyak kalori (Putra, 2009).
Di dalam penelitian, para peneliti menemukan bahwa sebuah kombinasi antara kafein dan satu dosis EGCG sebanyak 90 mg yang dikonsumsi tiga kali sehari dapat membantu membakar kalori tambahan sebesar 80 kalori sehari. Itupun dalam kondisi tubuh tanpa aktivitas. Sebuah studi yang diadakan oleh pemerintah Canada menemukan bahwa para pasukan yang mengkonsumsi kafein 12 jam sebelum tes latihan fisik ternyata tidak hanya mampu berlatih lebih lama sebelum keletihan, tetapi juga lebih mampu menyerap oksigen ketika berlatih. Kebutuhan oksigen tubuh terkait secara langsung terhadap kecepatan metabolisme tubuh. Jadi, semakin banyak oksigen yang Anda gunakan, semakin besar pula jumlah kalori yang Anda bakar selama latihan (Putra, 2009).
Teori  paling popular dari efek ergogenik kafein terhadap performa olahraga ini disebabkan oleh dua mekanisme utama yang terjadi di dalam tubuh  yaitu (Irawan, 2009):
1.      Kafein dapat meningkatkan proses penyerapan dan juga pelepasan ion kalsium di dalam sel-sel otot.
2.      Kafein dapat menstimulasi pengeluaran asam lemak dari jaringan adipose tubuh.

Mekanisme yang  pertama disebutkan dapat memberikan manfaat postif bagi atlet cabang olahraga intensitas tinggi berdurasi singkat karena peningkatan proses penyerapan dan pelepasan ion kalsium dapat membantu untuk meningkatkan kekuatan serta efisiensi kontraksi otot (Irawan, 2009).
Sedangkan  mekanisme yang kedua dapat memberikan manfaat bagi performa olahraga  endurans karena stimulasi pengeluaran  asam lemak dapat meningkatkan pengunaan lemak sebagai sumber  energi  sehingga membantu menghemat pemakaian karbohidrat (glikogen otot) pada tahap-tahap awal saat aktivitas olahraga baru mulai berjalan. Kombinasi antara peningkatan pembakaran asam lemak dan penghematan pemakaian glikogen otot ini membuat  seorang atlet  mempunyai cadangan  energi dalam bentuk karbohidrat  yang relatif lebih banyak sehingga secara teoritis akan mempunyai daya tahan dan performa endurans yang lebih baik (Irawan, 2009).
Peningkatan performa endurans ini salah satunya ditunjukan oleh penelitian yang dipublikasikan dalam  Jurnal Of Sports Science, di mana konsumsi kafein dibandingkan dengan konsumsi non-kafein sebelum latihan olahraga menghasilkan  peningkatan  pembakaran lemak tubuh yaitu 145 vs 120 mg/mol serta kemampuan daya tahan atlet dalam olahraga endurans yaitu 131 vs 123 menit (Irawan, 2009).
Karena begitu banyak informasi latar belakang berasal dari hewan percobaan, kita harus mencoba untuk ekstrapolasi data ke manusia. Namun, ini bukan tugas sepele untuk membandingkan dosis kafein pada hewan dan manusia. Sebagai contoh, harus diingat bahwa dalam sebagian besar percobaan pada tikus, satu dosis tinggi yang diberikan kafein, sedangkan kopi dikonsumsi manusia dibagi di siang hari. Gilbert (1976) mengusulkan penggunaan berat badan metabolik faktor koreksi ketika membandingkan efek dosis yang diberikan kafein pada hewan dan manusia. Namun, tidak semua orang setuju bahwa koreksi yang didasarkan pada berat badan metabolik harus diterapkan. Memang LD50 kafein yang cukup konsisten di seluruh spesies, termasuk Homo sapiens (Dews, 1982) (Irawan, 2009).
Adenosin adalah konstituen seluler normal. Yang tingkat intraselular diatur oleh keseimbangan dari beberapa enzim. Adenosin dibentuk oleh tindakan yang AMP-5'-nucleotidase selektif, dan tingkat pembentukan adenosin melalui jalur ini terutama dikendalikan oleh jumlah AMP. Oleh karena itu, faktor penting yang menentukan tingkat pembentukan adenosin melalui jalur ini adalah tingkat relatif ATP breakdown dan sintesis. Ini pada gilirannya ditentukan oleh tingkat pemanfaatan energi dan ketersediaan metabolizable substrat (Putra, 2009).
Pembahasan
            Dalam kehidupan kita sehari-hari, penggunaan kafein sudah sangat meluas. Misalnya, dalam kopi, teh, coklat, minuman berenergi, atau dalam bentuk murni yaitu tablet kafein. Mengkonsumsi kafein memiliki efek stimulasi yang baik untuk performa dan stamina. Untuk sementara waktu, pernyataan itu dulu yang kita pegang.
Didalam kamus medis, kafein termasuk golongan zat yang mempunyai kemampuan menstimulasi otak. Kalau di pisahkan dari zat-zat lainnya, kafein (Trimethylxathine) ini aslinya berbentuk serbuk putih dengan rasa agak pahit. Kafein menimbulkan efek “kekuatan ekstra” untuk melawan rasa lelah, diiringi munculnya semangat tinggi dan perasaan gembira. Kafein juga memacu detak jantung dan meningkatkan produksi urine. Intinya kafein memang dapat menjanjikan kebugaran jangka pendek sebagaimana banyak di cari orang (Anonim, 2010).
Dalam kehidupan kita, terutama dalam kopi, kafein sudah mengalami pengolahan sedemikian rupa sehingga warnanya tidak lagi seperti warna aslinya. Dalam kopi itu sendiri juga tidak hanya kafein yang dikandungnya. Akan tetapi, sebelum mengkaji lebih jauh, ada baiknya kalau kita mengetahui bagaimana karakteristik kimia dari kafein itu dari beberapa literatur dibawah ini.
Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar. Kafein memiliki berat molekul 194.19 dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air) (Hermanto, 2007).
Kafein adalah sejenis obat yang secara natural diproduksi oleh daun dan benih pada beberapa jenis tanaman. Kafein juga bisa diproduksi dengan sengaja dan ditambahkan pada bahan-bahan makanan. Kafein dimasukkan kategori obat karena memberikan rangsangan pusat sistem saraf yang meningkatkan stamina. Kafein menyumbangkan energi sementara pada individu yang mengkonsumsinya dan juga menghilangkan rasa tidak mood (Siswono, 2007).
Dari pernyataan tersebut, diketahui bahwa kafein digolongkan kedalam tanaman obat. Dan itu memang benar, di dalam dunia suplemen/nutrisi olahraga, kafein dikategorikan sebagai pharmacological sports ergogenic  yang dapat memiliki fungsi kerja seperti hormon atau zat neurotransmitter alami tubuh sehingga membuat kafein dapat meningkatkan performa fisik dengan berperan  dalam berbagai proses metabolik tubuh (Irawan, 2009).
Dulu, dimana-mana kafein di-vonis tidak bagus untuk kesehatan. Berbagai instansi kesehatan menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi kafein. Namun, sekarang pernyataan tersebut sudah mulai tidak diterima. Hal ini karena ada sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan selama 18 tahun terhadap 18.000 orang yang mengkonsumsi kafein, hasilnya menunjukan kafein memberikan efek positif kepada pengkonsumsinya. Diantara hasil tersebut adalah : kafein membantu pembangkitan energi dan stamina, kafein membangkitkan rasa percaya diri, kafein dapat memperkuat daya ingat, kafein jika digunakan untuk masker kulit dapat berfungsi sebagai antioksidan, kafein dapat meningkatkan performa jantung dan sekaligus mencegah penyakit jantung, kafein memperlancar peredaran darah, kafein membantu memfokuskan pikiran, kafein meningkatkan kewaspadaan, kafein memberikan efek positif pada metabolisme, dsb.
Sejak 1 Januari 2004 kafein sudah  tidak dikategorikan lagi sebagai zat yang dilarang untuk dikonsumsi dalam pertandingan olahraga, namun  IOC (International Olympic Committe) tetap membatasi  kadar/level maksimum yang diperbolehkan yaitu tidak lebih dari   12 mikro gram dalam setiap 1 ml urin atau  menjaga konsumsinya tidak lebih dari   500 mg kafein atau 7-8 gelas kopi (Irawan, 2009).


Metabolism kafein dalam tubuh

Kafein dimetabolisme dalam hati menjadi tiga metabolit primer, yaitu: paraxanthine (84%), theobromine (12%), and theophylline (4%). Kafein diabsorbsi (diserap) oleh lambung dan usus halus 45 menit setelah pemberian. Fungsi ketiga metabolit tersebut didalam tubuh adalah sebagai berikut (Yosef, 2008) :
a.       Paraxanthine (84%): untuk meningkatkan lipolisis (lisis terhadap lemak), dan meningkatkan gliserol dan asam lemak bebas dalam plasma darah.
b.      Theobromine (12%): memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan volume urin.
c.       Theophylline (4%): relaksasi otot halus pada bronkus, dan digunakan untuk mengobati penyakit asma.

Dari pernyataan tersebut, dapat kita ketahui bahwa energi yang dihasilkan dari mengkonsumsi kafein melibatkan berbagai reaksi dalam tubuh, salah satunya adalah kafein berperan dalam meningkatkan lipolisis lemak. Lipolisis merupakan reaksi pemecahan lemak menjadi senyawa-senyawa penyusunnya, yaitu asam lemak dan gliserol. Dalam metabolisme lemak, yang pertama terjadi adalah reaksi lipolisis ini, namun terbatas jika hanya di dalam tubuh sudah kehabisan substrat utamanya, yaitu karbohohidrat. Kafein menstimulasi otak untuk memerintahkan tubuh melakukan lipolisis.
Untuk proses penghasilan energi, diperlukan oksigen untuk proses oksidasi guna menghasilkan energi yang lebih tinggi (ATP) dari energi potensial yang terkandung dalam lemak. Dan ketersediaan O2 yang cukup ini diperoleh dari kerja kafein yang memberikan efek pelebaran pembuluh darah, sehingga peredaran darah menjadi lebih lancar, dan  aktivitas jantung semakin meningkat. Akibatnya, lebih banyak O2 yang bersirkulasi. Dan pada sel O2 ini digunakan untuk oksidasi asam lemak yang dihasilkan tadi.
Molekul kafein secara struktural mirip dengan adenin (adenosin nitrogen base) dan nukleosida mengikat reseptor pada membran sel. Oleh karena itu inhibisi kompetitif, yaitu, kafein mempengaruhi proses saraf yang mengatur pelepasan melalui pos sinaptik potensi. Telah menghasilkan peningkatan kadar epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin. Adrenalin kemudian merangsang sistem saraf simpatik dan menyebabkan peningkatan denyut jantung dan aliran darah ke otot, penurunan aliran darah ke kulit dan organ-organ dan pelepasan glukosa oleh hati (Anonim, 2009).
Kafein mengurung reseptor adenosin di otak. Adenosin ialah senyawa nukleotida yang berfungsi mengurangi aktivitas sel saraf saat tertambat pada sel tersebut. Seperti adenosin, molekul kafein juga tertambat pada reseptor yang sama, tetapi akibatnya berbeda. Kafein tidak akan memperlambat aktivitas sel saraf/otak sebaliknya menghalang adesonin untuk berfungsi. Dampaknya aktivitas otak meningkat dan mengakibatkan hormon epinefrin dirembes. Hormon tersebut akan menaikkan detak jantung, meninggikan tekanan darah, menambah penyaluran darah ke otot-otot, mengurangi penyaluran darah ke kulit dan organ dalam, dan mengeluarkan glukosa dari hati. Tambahan, kafein juga menaikkan permukaan neurotransmitter dopamine di otak  
Kafein juga merupakan inhibitor cAMP-PDE (cAMP fosfodiesterase), yang mengubah cAMP (siklik adenosinmonofosfato) dalam bentuk asiklis (cAMP → AMP). Karena cAMP utusan kedua adalah tindakan adrenalin, mengurangi aktivitas fosfodiesterase berarti untuk memperpanjang efek adrenalin/epinefrin dan zat serupa seperti amphetamine, methamphetamine dan methylphenidate (Anonim, 2009).
Dengan demikian, dapat kita ambil satu kesimpulan bahwa energi yang dihasilkan dari kafein itu berasal dari stimulasi kafein terhadap otak yaitu dari pemecahan lemak kemudian diolah menjadi energi serta dibantu oleh aktivitas lain dari kafein seperti disebutkan diatas.

Kesimpulan
Kafein (C8H10N8O2) dimetabolisme dalam hati menjadi tiga metabolit primer, yaitu: paraxanthine (84%), theobromine (12%), and theophylline (4%). Energi yang dihasilkan dari mengkonsumsi kafein melibatkan berbagai reaksi dalam tubuh, salah satunya adalah kafein berperan dalam meningkatkan lipolisis lemak. Lipolisis merupakan reaksi pemecahan lemak menjadi senyawa-senyawa penyusunnya, yaitu asam lemak dan gliserol. Kafein menstimulasi otak untuk memerintahkan tubuh melakukan lipolisis.
Ketersediaan O2 yang cukup diperoleh dari kerja kafein yang memberikan efek pelebaran pembuluh darah, sehingga peredaran darah menjadi lebih lancar, dan  aktivitas jantung semakin meningkat. Akibatnya, lebih banyak O2 yang bersirkulasi. Dan pada sel O2 ini digunakan untuk oksidasi asam lemak yang dihasilkan tadi. Kafein juga merupakan inhibitor cAMP-PDE (cAMP fosfodiesterase), yang mengubah cAMP (siklik adenosinmonofosfato) dalam bentuk asiklis (cAMP → AMP).
Dengan demikian, konsumsi kafein ini baik untuk kesehatan dalam batas yang normal (1-3 gelas perhari), terutama untuk pembakaran lemak dan penghasilan energi dari lemak tersebut.

Referensi :

Acheson, Gremaud, Meirim, et al. 2004. Efek Metabolik Kafein Pada Manusia. Swiss: Frost & Sullivan

Anonim. 2008. Empat Jenis Makanan Pembangkit Energi. Available from :  http://www.indofamilyhealth.com/index.php?option=com_alphacontent&section=5&Itemid=51. Accessed at  18 Januari 2010.

Anonim. 2009. Caffeina. Available from :  http://www.rimedionaturale.com/id/. Accessed at  18 Januari 2010.

Anonim. 2010. Dibalik Nikmatnya Kafein. Available from : http://www.kabarlinggau.com/2010/01/. Accessed at  18 Januari 2010.

Hermanto. 2007. Kafein, Peningkatan Pembakaran Lemak Dan Performa Endurans. Available from : http://www.chem-is-try.org Accessed at  18 Januari 2010.

Irawan, Anwari. Kafein. Available from :  http://pssplab.com/book/?p=158. Accessed at  18 Januari 2010.

Putra, W.P.A. 2009. Beberapa Jenis Makanan Pendongkrak Metabolisme. Available from :  http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/.  Accessed at  18 Januari 2010.

Rudy. 2009. Kafein dan gula: Mengapa pembangkit energi ini bisa mempengaruhi waktu tidur anda? Available from :  http://www.goblogin.com/. Accessed at  18 Januari 2010.

Siswono. 2007. Kafein. Available from : http://www.gizi.net/. Accessed at  18 Januari 2010.

Yosef. 2008. Kafein. Available from : http://yosefw.wordpress.com/2008/05/22/256/ Accessed at  18 Januari 2010.

Perkebunan Monokultur: Ekonomi Vs Ekologi, Ancam Keanekaragaman Hayati Indonesia


Oleh
Shalha Sahpianti
A1C407009
Keanekaragaman hayati merupakan suatu fenomena alam mengenai keberagaman makhluk hidup dan komplek ekologi yang menjadi tempat hidup bagi makhluk hidup. Keanekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu mencakup interaksi antara berbagai bentuk kehidupan dengan lingkungannya, yang membuat bumi ini menjadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan jumlah besar barang dan jasa bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Keanekaragaman hayati mempunyai peranan penting dalam membuat ekosistem berfungsi dan menyediakan berbagai jasa yang dihasilkan dari proses dari ekosistem tersebut.
Kerusakan alam dan pencemaran membuat gangguan terhadap ekosistem yang secara langsung juga mengganggu keanekaragaman hayati dan dapat menjadikannya keluar dari sistem web of life, yang berakibat pada terganggunya jasa ekosistem dalam menyediakan makanan, air bersih, kayu, sumber genetik dan lainnya, begitu juga dapat merusak fungsi regulasi dalam menjaga banjir, penyakit, kualitas air, dan penyerbukan (pollination), serta jasa pendukung dalam pemeliharaan kesuburan tanah. Hal ini yang menyebabkan berbagai bencana, baik secara langsung maupun tidak, yang tentunya lebih mempercepat  semakin rendahnya tingkat keanekaragaman hayati.
Berdasarkan data dan fakta yang ada, terlihat bahwa keanekaragaman hayati terus menerus mengalami penyusutan. Hutan tropis yang menjadi gudang keanekaragaman hayati telah menyusut lebih dari setengahnya. Kecenderungan penyusutan keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh berbagai kasus lingkungan memerlukan perhatian khusus dan penanganan yang lebih serius.
Kerusakan lingkungan mengakibatkan sebanyak 17 ribu lebih spesies yang diketahui terancam punah, mengakibatkan hilangnya habitat satwa langka seperti gajah, harimau, orang utan dan dari yang sedikit diketahui mengenai tanaman dan serangga hingga berbagai jenis burung dan mamalia, dan tentunya bahkan sebagian spesies menghilang sebelum ditemukan atau dapat diidentifikasi.
`           Kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi salah satunya disebabkan oleh pembukaan lahan hutan dalam skala besar dalam bentuk perkebunan monokultur, yakni perkebunan sawit. Di Indonesia saat ini pengembangan lahan sawit makin menjadi-jadi, ini karena secara ekonomi dipercaya bahwa sawit merupakan komoditas yang menguntungkan dan mempunyai prospek pasar yang cukup cerah, hal tersebut serta merta menjadi alasan untuk mengalahkan aspek pembangunan sosial dan lingkungannya. Sehingga semakin banyak pekebunan sawit maka semakin banyak pula kerusakan lingkungan yang terjadi akibat konversi hutan. Perubahan hutan menjadi perkebunan monokultur yang begitu cepat (terutama sawit), dan memporak porandakan bentang alam sehingga menyebabkan berbagai kerusakan lingkungan.
Akibat dari konversi hutan maka  bisa dipastikan Indonesia mendapat ancaman hilangnya keanekaragaman hayati dari ekosistem hutan hujan tropis. Juga menyebabkan hilangnya budaya masyarakat di sekitar hutan. Disamping itu praktek konversi hutan alam untuk pengembangan areal perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan jutaan hektar areal hutan konversi berubah menjadi lahan terlantar berupa semak belukar dan/atau lahan kritis baru, sedangkan realisasi pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan yang direncanakan.
Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi. Erosi dan penurunan kesuburan tanah juga diidentifikasi sebagai dampak pembukaan lahan hutan dalam skala besar dan dampak ini terjadi secara umum di perkebunan (monokultur).
Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantaranya:
  1. Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai  erosi, hama dan penyakit.
  2. Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
  3. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online).   Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.
  4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan  karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
  5. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan  pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama.  Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
  6. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
  7. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor
Jika dilihat dari dampak yang diakibatkan dari perkebunan monokultur kelapa sawit, maka kontribusi ekonomi yang diharapkan tidak sebanding dengan dengan kerusakan lingkungan yang terjadi, yang mengakibatkan dampak signifikan atas emisi karbon, hilangnya keanekaragaman hayati dan potensi jasa lingkungan lainnya. Belum lagi praktik-praktik buruk dalam pengelolaan perkebunan sawit yang memperparah kerusakan lingkungan, seperti pembersihan lahan dengan cara pembakaran. Artinya, jika perkebunan sawit dibuka dengan proses mengonversi hutan alam yang mempunyai nilai keragaman hayati tinggi atau nilai konservasi tinggi maka bisa dikatakan industri sawit skala besar menjadi salah satu penyebab deforestasi dan menjadi ancaman serius bagi keberadaan hutan hujan tropis di Indonesia.
Kerusakan alam yang diakibatkan pembukaan lahan perkebunan monokultur ini sudah seharusnya menjadi perhatian dan perlu ditangani secara serius. Ini dilakukan agar tidak semakin menyusutnya keanekaragaman hayati. Karena Potensi sumber daya alam seperti keanekaragaman hayati di indonesia sangat berlimpah, maka kekayaan alam itu perlu dilestarikan. Masyarakat indonesia tidak anti pembangunan. Namun, pembangunan jangan sampai menghancurkan flora dan fauna serta tatanan nilai budaya yang ada. Hutan, bukanlah semata-mata kayu. Produksi kayu dari kawasan hutan hanyalah 5% dari bagian fungsi hutan. Fungsi ekologi dan sosio-kultur dari hutan, jauh lebih memberikan topangan kehidupan bagi generasi manusia yang ada saat ini di dunia. Hutan sebagai rumah kehidupan, area belajar, apotek raksasa, serta penyedia air dan udara bersih dan beragam manfaat ekologis dan sosial-budaya lainnya, harus terus dipertahankan keberadaannya.
















Referensi

Indradi, Y. 2010. Berkaca Di Kemilau Minyak Sawit. diakses tanggal 11 Juli 2010. http://bataviase.co.id/node/146735
Perkebunan Monokultur Skala Besar Ancam Kehidupan Rakyat dan Ekologis. diakses tanggal 11 Juli 2010. http://www.satuportal.net/content/perkebunan-monokultur-skala-besar-ancam-kehidupan-rakyat-dan-ekologis
Achmad, S. 2007. Dampak Ekologi dan Lingkungan Akibat Perkebunan Sawit Skala Besar.  http://adekrawie.wordpress.com/2007/07/27/dampak-ekologi-dan-lingkungan-akibat-perkebunan-sawit-skala-besar/

 

 

 



















Tugas Keanekaragaman Hayati

Perkebunan Monokultur: Ekonomi Vs Ekologi,  Ancam Keanekaragaman Hayati Indonesia

Oleh
Shalha Sahpianti (A1C407009)

Dosen Pengampu
Ir. Bambang Hariyadi, P,hD
Agus Subagyo, S.Si, M.Si



LAMBANG UNJA EMBOSE 2








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PMIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010

PANDANGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI GLOBAL


Disusun Oleh
Shalha Sahpianti (A1C407009)
Pada saat ini terjadi perubahan besar pada keanekaragaman hayati dari aspek biologi. Keanekargaman hayati mencakup individu, populasi, jenis, komunitas, dan ekosistem. Perbedaan daya tahan hama, luasnya dari habitat pada satu ekosistem hutan, atau kepunahan global dari suatu jenis ikan di danau, semua menggambarkan aspek berbeda dari keaneka ragaman biologi. Keanekaragaman  terdiri dari keanekaragaman gen, jenis dan ekosistem. Keanekaragaman gen merupakan dasar yang fundamental. Keanekaragaman genetik sangat penting sebagai dasar dari evolusi. Keaneka ragaman genetik dapat berkurang ketika satu jenis atau spesies punah. Aktivitas manusia secara tidak langsung juga dapat berpengaruh meningkatkan perubahan genetik.
Perubahan keanekeragaman hayatii sebagian besar berkaitan dengan merosotnya populasi dan jenis, yang manapun secara individu, atau secara bersama, menjadi berkurang dari habitat atau di wilayah suatu ekosistem. Hingga saat ini banyak sekali spesies yang terancam kepunahan, baik itu dari kelompok serangga, hewan bertulang belakang,  maupun burung, dan ancaman ini terjadi secara global.
            Kerusakan yang terjadi pada suatu ekosistem juga berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati yang ada diwilayah itu. Kerusakan yang terjadi kebanyakan disebabkan oleh aktivitas manusia. Besarnya tingkat kerusakan ekosistem mempunyai resiko tinggi terhadap berkurangnya keanekaragaman hayati.
            Hampir tiga perempat (71%) dari permukaannya bumi diliputi oleh perairan laut. Untuk itu perairan merupakan ekosistem yang kaya akan keanekaragaman hayati. Selain itu hutan juga mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Hutan tropis umumn ya merupakan yang lingkungan yang paling species di atas bumi. Sebagian besar serangga terdapat di tempat ini, daerah ini tidak terlalu luas hanya sekitar  7%  dari permukaan bumi.
            Pola keanekaragaman hayati global mencerminkan beberapa luasnya perubahan yang disebabkan oleh  manusia. Tidak ada habitat alami yang bebas dari dampak manusia, dan sebagian besar wilayah secara total telah ditransformasikan. Banyak spesies yang telah berkurang dari keberadaannya yang berlimpah, dan bahkan beberapa diantaranya mengalami kepunahan.
Untuk itu perlu dilakukan tindakan untuk menyelamatkan keanekaragaman. Beberapa negara didunia melakukan upaya konvensi. Obyektif dari Konvensi adalah untuk memelihara keanekaragaman hayati, mempergunakan komponen ini secara berkelanjutan, dan memastikan adanya manfaat dari penggunaan dengan sumber daya genetik secara layak dengan pantas.

Rabu, 22 Desember 2010

Sejarah Kopi

KOPI : Kita Bisa Jadi #1 (Lagi)
Oleh : Dedi Harmoko

Ada sebuah cerita menarik berkaitan dengan sejarah kopi yang belum diketahui oleh banyak orang. Konon, Raja Gustaff II  (1594-1632) dari Swedia pernah menjatuhkan hukuman kepada dua orang bersaudara kembar. Mereka dianggap bersalah dalam suatu tindak pidana yang dituduhkan kepada mereka.
Raja menentukan siapa yang bersalah dengan membuat aturan unik dan tak lazim. Salah seorang hanya diizinkan minum kopi selama hidupnya, sedangkan seorang lagi hanya boleh minum teh. Nah, siapa yang lebih dulu meninggal, dialah yang dianggap bersalah. Ternyata, yang meninggal duluan adalah peminum teh pada usia 83 tahun. Sejak saat itulah, orang Swedia dan negara-negara di kawasan Skandinavia menjadi begitu maniak dan fanatik terhadap kopi.

Sejarah Kopi
Kita kembali sejenak ke masa lampau untuk menelusuri jejak kopi di Indonesia. Dalam catatan sejarah, penanaman komersial kopi pertama kali dilakukan di Arab pada abad ke-15. Dalam jangka waktu yang lama, perdagangan komoditi yang berkelas tersebut dijaga dengan sangat ketat, para petani Arab berusaha dengan berbagai cara untuk menghentikan negara lain memperoleh biji kopi mereka yang berharga. Sejalan dengan waktu, biji kopi serta potongan tanaman tersebar ke daerah Aden, Mesir, Suriah, serta Turki di mana kopi terkenal sebagai “anggur arab”.
Kemudian kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690 karena tanaman atau biji mentahnya tidak diizinkan keluar kawasan Arab. Kemudian, berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda pada masa penjajahan. Kopi juga menyebar ke benua Amerika. Kopi dijadikan sebagai minuman nasional di Amerika Serikat dan menjadi menu utama di meja-meja makan pagi.

Ternyata Orang Indonesia Sama Seperti Orang Italia
Orang-orang Indonesia lebih menyukai kopi tradisional dan ternyata hal ini sama dengan orang-orang Italia yang dikenal sebagai negeri peminum kopi. Mereka lebih menyukai kopi murni tanpa campuran. Mereka tidak suka pada kopi sachet atau kopi kaleng seperti yang banyak beredar di pasaran sekarang ini. Kopi yang bukan kopi murni tersebut adalah kopi yang berkembang di Amerika. Itulah mengapa Starbucks yang mendunia itu muncul dari Amerika, bukan dari Italia.

Peluang Usaha
Prospek ekspor kopi Indonesia ke China mencapai 50 ribu ton. Saat ini dari 10 kopi terbaik di dunia, diakui asosiasi kopi dunia 4 di antaranya dari Indonesia yaitu Toraja, Gayo, Mandailing, dan Jawa Timur.
Produsen kopi arabika terbesar
Dalam sejarahnya, Indonesia pernah menjadi produsen kopi arabika terbesar di dunia, walau cuma sebentar karena adanya serangan hama karat daun besar-besaran. Serangan hama yang disebabkan cendawan Hemileia vastatrix itu menyerang tanaman kopi di Indonesia sekitar abad 19. Meski bukan lagi yang paling besar, kini Indonesia masih merupakan negara penghasil kopi terbesar ke-5 di dunia.
Kopi yang Khas
Negeri ini punya kopi khas yang sudah terkenal di mancanegara, diantaranya kopi takengon (Aceh), kopi mandailing (Sumatera Utara), kopi toraja (Sulawesi Selatan), kopi kintamani (Bali), kopi bajawa (Flores), kopi baliem (Papua), dan kopi luwak (Jawa).

Kopi dari kotoran Luwak : Kopi termahal
Kopi luwak merupakan kopi dengan harga jual tertinggi di dunia. Kopi 100% asli Indonesia ini berasal dari kotoran luwak. Proses terbentuknya dan rasanya yang sangat unik menjadi alasan utama tingginya harga jual kopi jenis ini.
Biji kopi ini dimakan oleh luwak atau sejenis musang. Luwak hanya makan biji kopi, yang benar-benar matang pohon yang tingkat kematangannya pas. Akan tetapi, tidak semua bagian biji kopi ini dapat dicerna oleh hewan ini. Bagian dalam biji ini kemudian akan keluar bersama kotorannya. Karena telah bertahan lama di dalam saluran pencernaan luwak, biji kopi ini telah mengalami fermentasi singkat oleh bakteri alami di dalam perutnya yang memberikan cita rasa tambahan yang unik. Nah, biji kopi dalam kotoran itu dibersihkan dan digiling lalu dihidangkan menjadi kopi paling nikmat di dunia. Secangkir kopi luwak berharga lebih dari seratus ribu rupiah.
Kopi Indonesia Laris di China
Sekarang ini, kopi produksi Indonesia menjadi salah satu minuman favorit dari masyarakat di China, bahkan kalangan pemudanya pun ikut menggemari kopi tersebut. Karena itu Pemerintah mempromosikan kopi Indonesia lewat Shanghai World Expo.
Konsumen China memilih kopi-kopi eksotik seperti kopi Toraja dan kopi Mandailing. Beberapa konsumen terpesona dengan 'ritual' penyajian kopi Luwak, kopi eksotik Indonesia yang lain, yang dinilai mirip upacara minum teh. Permintaan kopi pada kelompok konsumen muda di China mencapai 17% (350 juta orang) per tahun.
Minuman Konsumsi Kedua dan Komoditas Nomor Dua
Saat ini, kopi merupakan minuman ke-2 yang dikonsumsi di seluruh dunia, setelah air. Finlandia merupakan negara yang konsumsi per kapitanya paling tinggi, dengan rata-rata konsumsi per orang sekitar 1400 cangkir setiap tahunnya. Kopi merupakan komoditas nomor dua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi.
Usaha untuk merebut peluang pasar kopi antara lain dengan Pengembangan tanaman kopi Arabika melalui kegiatan peremajaan (menggantikan tanaman yang produktivitas- nya rendah dengan yang produktivitasnya yang tinggi), peluasan (menanam di areal baru yang lingkungannya lebih sesuai) dan rehabilitasi (memulihkan kondisi kebun ke keadaan yang lebih baik, sehingga produktivitasnya meningkat).
Nah, sebuah peluang usaha yang bagus, bukan? Sudah saatnya kita beralih dari perkebunan monokultur yang mengandalkan terutama kelapa sawit yang sudah sangat banyak merusak lingkungan. Tanaman kopi malah harus diberi pernaungan untuk menjaga agar tanaman kopi jangan berbuah terlalu banyak sehingga kekuatan tanaman cepat habis. Hal ini tentu menguntungkan jika dilihat dari perspektif ekologi. Kita pernah menjadi produsen kopi nomor satu di dunia, mengapa sekarang tidak bisa? Atau kita bisa membuka warung kopi Luwak. Bayangkan, satu cangkir saja harganya bisa mencapai lebih dari seratus ribu rupiah.

Referensi :
http://rayakawula.wordpress.com
http://www.detikfinance.com
http://netsains.com
http://agrindonesia.wordpress.com

Pengikut