Papan Buletin Blog Bhima

Bhima's Leaf

Tampilkan postingan dengan label Info Terbaru Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Terbaru Biologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Puluhan Miliar Dana Hutan Menganggur


SHUTTERSTOCKIlustrasi utang AS
Hampir Rp 40 miliar dana untuk melindungi hutan dari penggundulan dan degradasi menunggu diakses. Dana itu disebut dana kebijakan yng disediakan pemerintah Australia dalam skema Indonesia-Australia Forest Carbon Partnership (IAFCP). Jumlah persisnya 4,3 juta dollar Australia.
Syarat utama mengakses dana itu harus terkait program Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan atau REDD+. "Asalkan memenuhi syarat, kami akan berikan dana untuk proyek di seluruh Indonesia. Tak hanya untuk Kalimantan saja," kata Koordinator Pemerintah Australia untuk IAFCP Hanafi Guciano pada REDD Plus Retreat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (17/12/2011).
REDD merupakan program pengurangan emisi dari sektor kehutanan untuk mengurangi paparan polutan di atmosfer penyebab pemanasan global.
Siapa saja bisa mengakses dana itu, mulai dari kalangan perguruan tinggi, LSM, hingga pemerintah. "Misalnya, untuk mendanai upaya sinkronisasi kebijakan, membangun pusat informasi proyek, atau identifikasi persoalan lain," kata Hanafi.
Penggunaan dana itu, di antaranya diharapkan dapat memastikan masyarakat sekitar hutan terjamin memperoleh manfaat dari penerapan program REDD+.
Menurut Kepala Pusat Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Agus Sarsito, Indonesia harus memanfaatkan berbagai peluang pendanaan untuk menyiapkan mekanisme REDD+, sebelum benar-benar diterapkan. "Agar Indonesia menjadi di antara yng pertama memperoleh manfaat dari REDD+," kata dia.


http://sains.kompas.com/read/2011/12/17/16362584/Puluhan.Miliar.Dana.Hutan.Menganggur

Stannia Ecopark Bangka Konservasi Tarsius


PT Timah Tbk menghibahkan dana dan lahan untuk kebun raya tanaman asli Kepulauan Bangka Belitung. Lahan juga akan dipakai untuk konservasi hewan endemik lokal, mentilin (Tarsius bancanus).
Dirut PT Timah Tbk Wachid Usman, Rabu (14/12/2011), di Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mengatakan, kebun raya dan kawasan konservasi itu bagian dari Stannia Ecopark (SEP). Luasnya mencapai 734 hektar di lahan bekas tambang.
Pembangunan akan dimulai pada 2012. Tahun depan, PT Timah Tbk memberikan Rp 20 miliar dari dana reklamasi lahan bekas tambang dan program tanggung jawab sosial kemasyarakatan.
Ketua Tim Konsultan SEP Soeryo Adiwibowo mengatakan, kawasan konservasi tarsius akan menempati lahan 25 hektar. Tim konsultan dari Institut Pertanian Bogor tengah merancang kawasan mirip habitat asli tarsius. Untuk mengumpulkan bibit tanaman asli Bangka, pihaknya bekerja sama dengan orang Lum di Mapur. Orang Lum merupakan suku nomaden di kawasan utara Bangka. Mereka berburu dan meramu di sekitar kawasan Belinyu, Bangka.
Menurut Soeryo, pengelolaan taman akan bersinergi dengan penduduk sekitar. Karena itu, kebun raya tidak dikelilingi pagar buatan. "Untuk kawasan tertentu, akan dirancang tumbuhan yang jarak tanamnya lebih rapat dan difungsikan sebagai pembatas alami. Untuk kawasan lain, dibiarkan terbuka," katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Babel Yan Megawandi mengatakan, SEP akan menjadi alternatif lokasi wisata di Babel. Selama ini Babel masih mengandalkan wisata alami berupa pantai. (RAZ)

PT Timah Bangun Kebun Raya dan Konservasi Tarsius


S MerkerSalah satu spesimen Tarsius wallacei yang ditangkap Uwemanje, Sulawesi Tengah.
PT Timah Tbk menghibahkan dana dan 90 hektar lahan untuk kebun raya aneka tanaman asli Kepulauan Bangka Belitung. Lahan itu juga akan dipakai sebagai kawasan konservasi hewan endemik Bangka Belitung, Mentilin atau Tarsius bancanus.
Direktur Utama PT Timah Tbk Wachid Usman mengatakan, kebun raya dan kawasan konservasi itu bagian dari Stannia Ecopark (SEP) di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Total luas mencapai 734 hektar dan berdiri di lahan bekas tambang.
"Taman ini adalah perwujudan reklamasi plus atas bekas lokasi tambang," ujarnya, Kamis (15/12/2011) di Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. 
Pembangunan kebun raya akan dimulai tahun 2012. Untuk tahun depan, PT Timah Tbk menghibahkan Rp 20 miliar yang bersumber dari dana reklamasi lahan bekas tambang dan program tanggung jawab sosial kemasyarakatan.
Sebanyak Rp 5 miliar akan dipakai untuk pembuatan fasilitas dan sarana pendukung. Sisanya untuk penanaman aneka tumbuhan.
Ketua Tim Konsultan SEP Soeryo Adiwibowo mengatakan, kawasan konservasi tarsius akan menempati lahan 25 hektar. Tim konsultan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah merancang kawasan yang mirip habitat asli Mentilin.
"Sekarang perancangan sedang dituntaskan. Khusus kawaran konservasi dirancang agak lebih tertutup dibandingkan kawasan lain di taman ini. Tetapi, tetap tidak ada pagar buatan untuk membatasi dengan lingkungan sekitar," ujarnya.


http://sains.kompas.com/read/2011/12/15/11363291/PT.Timah.Bangun.Kebun.Raya.dan.Konservasi.Tarsius

Bantai Orangutan, Izin Perkebunan Sawit Harus Dicabut



KOMPAS / HERU SRI KUMOROOrangutan (Pongo pygmaeus)
Pemerintah agar bertindak tegas dan serius menyelidiki pembantaian orangutan di Kalimantan beberapa waktu lalu.Bentuk ketegasan itu mencabut izin alat Besar Swasta (PBS) yang terbukti terlibat merencanakan pembantaian orangutan.
"Pemerintah harus tegas. Perkebunan swasta yang terbukti terlibat dalam pembantaian orangutan harus dicabut izinnya," kata pengamat politik Universitas Indonesia, Prof Iberamsjah, di Palangka Raya, Senin (12/12/2011).
Ia menduga, PBS sedikit banyak terlibat dalam merencakan pembantaian orangutan ( Pongo pygmaeus) tersebut, mengingat lokasinya pembantaiannya di wilayah perusahaan sendiri.
Pembantaian orangutan oleh sekelompok oknum tersebut adalah kejahatan besar, dan yang pasti perbuatan itu telah direncanakan sebelumnya. Selain itu, seharusnya saat PBS tidak terlibat dan mengetahui hal tersebut harus segera melaporkannya kepada yang berwenang.
"PBS harusnya juga turut menjaga kelestarian lingkungan, sehingga kalau menemukan kejadian seperti pembunuhan orangutan beberapa waktu lalu harus segera melaporkannya. Jangan hanya tutup mata, seolah-olah tidak mengetahui hal tersebut," ucapnya.
Ia menilai, sementara ini pemerintah masih kurang tegas dan tidak terlalu serius menangani masalah tersebut. Kemungkinan kurang berdaya akibat harus berhadapan dengan investor.
Terus terjadinya kasus pembunuhan orangutan dan praktek perkebunan kelapa saiwt yang mengancam orangutan menimbulkan masalah tersendiri. Karena itu, perlu adanya kebijakan dari pemerintah pusat untuk mengantisipasi masalah tersebut.
Selain itu, Iberamsjah juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi hutan di Indonesia yang banyak kerusakan akibat aktivitas pembalakan liat, serta pelaksanaan perkebunan dan pertambangan.
"Pemerintah seharusnya bisa memberikan pengawasan dan sanksi yang jelas terhadap hutan di Indonesia. Sehingga kontrol dalam menjaga kelestarian lingkungan cukup terjaga selain bantuan dari masyarakat sekitar," tambahnya.
Iberamsjah yang juga merupakan putra asli Kalimantan harap, pemerintah daerah setempat dapat bertindak tegas dalam melakukan pengawasan terhadap semua permasalahan yang terjadi di daerah.Khususnya dalam menyeleksi investor yang membangun daerah buka merugikan daerah.


http://sains.kompas.com/read/2011/12/12/20433748/Bantai.Orangutan.Izin.Perkebunan.Sawit.Harus.Dicabut

Pemerintah Dukung Polisi Usut Kasus Pembantaian Orangutan


Pemerintah mendukung upaya Kepolisian RI yang tengah melakukan penyidikan menyeluruh terkait kasus pembantaian orangutan di Kalimantan Timur. Kasus ini menunjukkan kuatnya pengaruh tekanan industri ekstraktif, khususnya sawit, terhadap upaya konservasi satwa.
"Kami terus mendukung upaya pengungkapannya. Apalagi, orangutan itu kan termasuk satwa yang dilindungi. Saat ini kan sudah tiga pelaku yang ditangkap," tutur Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan RI, Darori, Senin (12/12/2011) di Bandar Lampung.
Namun, ia menyayangkan kecenderungan masih rendahnya sanksi pidana terhadap para pelaku kejahatan terhadap satwa dilindungi di Indonesia saat ini. Dalam banyak kasus, pelakunya hanya diganjar pidana kurungan 3-4 bulan.
Untuk itu, ia menanti-nantikan hasil revisi UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati yang mencantumkan sanksi minimal 5 tahun bagi pelaku kejahatan konservasi SDA.


http://sains.kompas.com/read/2011/12/12/16251962/Pemerintah.Dukung.Polisi.Usut.Kasus.Pembantaian.Orangutan

Terumbu Karang Sultra Memprihatinkan


Kompas/Lasti KurniaPenyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten. Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.
Kondisi terumbu karang di pesisir Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini sekitar 40 persen rusak, dari total seluas 396.915 hektare.
"Kerusakan terumbu karang sudah memprihatinkan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra Abd Salam yang dihubungi di Kendari, Minggu (11/12/2011).
Ia mengatakan terumbu karang yang mengalami kerusakan tersebut tersebar di wilayah pesisir laut Kabupaten Muna, Konawe Selatan, Bombana, Buton Utara dan Kabupaten Buton.
"Penyebab utama dari kerusakan terumbu karang yang membentang pada garis pantai sepanjang 1.740 kilometer itu, adalah aktivitas para nelayan yang menangkap ikan menggunakan bahan peledak dan racun potasium sianida," katanya.
Menurut Salam, pengunaan bahan peledak dan racun sianida dalam menangkap ikan di daerah ini, karena rendahnya kesadaran dan pemahaman warga setempat tentang pentingnya menjaga kelesatarian lingkungan laut.
"Kita masih kesulitan mengamankan aktivitas para nelayan yang menangkap ikan menggunakan bahan peledak dan racun potasium tersebut, karena kapal patroli yang dimiliki Dinas Kelautan dan Perikanan untuk melakukan pengawasan, masih sangat terbatas," katanya.
Idealnya, luas wilayah pesisir pantai Sultra 396.915 hektare yang membentang pada garis pantai 1.740 kilometer, dijaga minimal 40 kapal patroli.
Namun DKP Sultra hanya memiliki tiga kapal patrol yang konidisinya juga sudah berumur tua dan kecepatannya kalah cepat dibandingkan dengan kapal nelayan penangkap ikan secara ilegal.
"Selain aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan itu, kerusakan terumbu karang juga karena masih adanya sebagian warga pesisir yang menggunakan batu karang sebagai bahan bangunan atau timbunan," katanya.
Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini, pihaknya menjalin kerjasama dengan Coral Reef Management and Rehabilitation Programme (COREMAP), merehabilitasi terumbu karang dan padang lamun yang mengalami kerusakan cukup parah.
Namun yang tersentuh program tersebut masih sebagian kecil dari luas area yang mengalami kerusakan.
"Beberapa areal yang ditangani melalui program COREMAP mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Bahkan sebagian dari kawasan karang dan padang lamun sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan," katanya.
Sementara itu, Ketua Konsorsium Mitra Bahari (KMB) Sultra), Abdul Hamid dalam keterangan terpisah mengatakan, wilayah-wilayah pesisir pantai yang ditangani COREMAP yang saat ini sudah selesai tahap II, sekitar 70 terumbu karangnya yang mengalami kerusakan sudah pulih kembali.
"Wilayah perairan laut menjadi sasaran program COREMAP, seperti Kabupaten Wakatobi, Buton dan Konawe Selatan, sebagian besar terumbu karang yang rusak, sudah hampir pulih kembali. Makanya, program COREMAP masih akan berlanjut ke tahap III, untuk menangani kerusakan terumbu karang yang belum tersentuh perbaikan," katanya.


http://sains.kompas.com/read/2011/12/11/17383253/Terumbu.Karang.Sultra.Memprihatinkan

Selasa, 13 Desember 2011

Spesies Ular Langka Ditemukan di Sumatera



Ridwan SetiawanTrimeresurus sumatranus
Peneliti WWF Indonesia, Ridwan Setiawan, menemukan spesies ularSumatran pitviper atau Sumatran tree viper. Spesies bernama Trimeresurus sumatranus itu memang bukan spesies baru, tetapi tergolong spesies langka.


"Di Sumatera sekarang sudah sulit dijumpai spesies ini. Dulu mungkin cukup sering, sekarang sudah jarang," kata peneliti yang akrab disapa Iwan Podol itu.


Iwan mengungkapkan, Trimeresurus sumatranus merupakan ular berbisa dengan corak unik. Berwarna dasar abu-abu, ular itu bercorak hijau kekuningan dan memiliki ekor kemerahan. Ukurannya sepanjang 1,5-2 meter.


Ular tersebut tepatnya ditemukan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Wilayah tersebut merupakan habitat yang sesuai untuk Sumatran pitviper karena kondisinya yang lembab dan kaya sumber pangan bagi ular.


Iwan menjelaskan, ular itu ditemukannya saat melakukan survei habitat badak sumatera beberapa waktu lalu. Tempat penemuannya adalah di kawasan hutan yang habitatnya masih terjaga, yaitu di hutan primer.


Trimeresurus sumatranus, jelas Iwan, biasanya memakan katak, tikus hutan, dan beberapa jenis burung. Biasanya, ular didapati berada di cabang pohon yang berukuran kecil dan masih dekat dengan tanah.


Menurut Iwan, ular tersebut aktif pada malam hari. Sebaran habitatnya sendiri ada di Sumatera, Mentawai, Nias, Borneo, hingga ke Semenanjung Malaysia hingga Thailand.


Saat ini, jenis ular langka ini pun menghadapi ancaman. "Ada banyak ular yang diburu. Ular ini coraknya unik, jadi termasuk salah satu yang diburu. Ular juga diburu untuk diambil toksinnya," kata Iwan.


Ancaman juga datang dari aktivitas perusakan hutan. "Kalau hutan dirusak, habitat dirusak, itu juga ancaman untuk ular ini," jelas Iwan saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/12/2011).


Menghentikan perusakan hutan dan perburuan adalah langkah tepat memelihara kelangsungan hidup spesies ular ini. Dengan langkah itu pula, banyak spesies bisa terselamatkan.


http://sains.kompas.com/read/2011/12/05/14364081/Spesies.Ular.Langka.Ditemukan.di.Sumatera

Ini Dia Spesies Kecoa Loncat


DiscoverySpesies Kecoa Loncat (Saltoblattella montistabularis)
Spesies baru kecoa yang ditemukan oleh Mike Picker, pakar zoologi dari Universitas Cape Town, memiliki keunikan. Spesies ini mampu bergerak dengan meloncat. Karenanya, disebut kecoa loncat.

Penemuan spesies ini dipublikasikan di Royal Society Biology Letters bulan ini. Nama Latin spesies itu adalah Saltoblattella montistabularis, ukurannya sekitar 8 mm.

Keahlian meloncat yang dimiliki spesies ini belum pernah dijumpai pada 4.000 jenis kecoa yang ada. Ilmuwan melakukan observasi dengan kamera untuk mengetahui bagaimana kecoa ini meloncat.

Berdasarkan observasi, diketahui bahwa kecoa ini mampu meloncat karena dukungan kaki belakang. Awalnya, kaki belakang dipakai ancang-ancang mengumpulkan energi. Seketika, energi dilepaskan dan kecoa pun meloncat.

Picker menuliskan di jurnal bahwa kecoa ini bisa melompat hingga jarak 50 kali panjang badannya. Kecepatan awal saat meloncat adalah 2,1 meter per detik dan percepatannya mencapai 23 gravitasi.

Sebagai perbandingan, manusia rata-rata hanya bisa meloncat 2 kali tinggi badannya. Percepatannya juga jauh lebih rendah, hanya 5 gravitasi.

Seperti dikutip Discovery, Selasa (6/12/2011), Picker mengatakan, "Meloncat menjadi porsi besar dari gerakan kecoa loncat ini, membuat mereka bergerak dengan cepat dan tangkas di antara rumput dan batang tanaman yang menyangga bunga." Kecoa loncat berbagi habitat dengan belalang.

http://sains.kompas.com/read/2011/12/07/1301138/Ini.Dia.Spesies.Kecoa.Loncat

Ada Katak Cuma Sebesar Penjepit Kertas


Jodi J.L. Rowley/Australian MuseumTheloderma nebulosum
Peneliti menemukan dua spesies katak baru di Vietnam. Nama kedua jenis katak itu ialah katak lumut kabut (Theloderma nebulosum) dan katak lumut jubah (Theloderma palliatum).
Nama katak pertama diambil dari habitatnya yang berkabut di dataran tinggi Kong Tum dan nama katak kedua diperoleh dari kemampuan katak mengubah warna punggungnya.
Kedua jenis katak tersebut memiliki warna dasar coklat dan ditemukan di wilayah dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.
Namun, jenis katak lumut kabut bisa survive hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Dua katak itu mencengangkan karena ukurannya kurang dari 3 cm, atau hanya sebesar penjepit kertas.
Penemuan jenis katak ini menggembirakan sekaligus menyedihkan. Pasalnya, katak yang ditemukan mungkin sudah terancam punah meski ditemukan di zona konservasi: katak lumut jubah di Taman Nasional Bidoup Nui Ba dan katak lumut kabut di Ngoc Linh. Peneliti hanya menemukan tiga  katak lumut jubah dalam 20 survei selama tiga tahun.
Jodi JL Rowley dari Australian Museum dalam publikasinya di jurnal Zootaxa bulan ini, seperti dikutipMongabay (7/12/2011), mengatakan, "Katak itu mungkin berada tersebar di area kecil di hutan dataran tinggi Kom Tum dan Langbian."
Karena itu, mereka terancam oleh kerusakan habitat dan koleksi yang berlebihan. Koleksi mungkin ancaman yang lebih besar, bahkan di wilayah dilindungi sebab anggota genus katak itu populer di penangkaran.
Menurut Rowley, seperlima spesies katak dan amfibi lainnya di Asia Tenggara terancam punah. Meski demikian, kekayaan biodiversitas amfibi sebenarnya di kawasan ini belum diketahui.
Ini mengenaskan sebab ancaman perusakan hutan, perubahan iklim, polusi, perdagangan satwa, dan lainnya terus berlangsung.
Secara global, International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mendata bahwa 41 persen dari 7.000 jenis amfibi terancam punah. Dipercaya bahwa sejumlah 120 spesies amfibi punah dalam 30 tahun terakhir.

http://sains.kompas.com/read/2011/12/08/20211618/Ada.Katak.Cuma.Sebesar.Penjepit.Kertas

Ternyata Tikus Tak Begitu Nakal


ScienceTikus menunjukkan empati dengan berusaha membebaskan rekannya yang dijebak.
Manusia sering menganggap bahwa tikus adalah makhluk yang paling menyebalkan. Mereka merampas makanan apa pun, merusak baju, dan menebar kotoran ke sudut atau kolong perabotan.

Namun, eksperimen terbaru yang dilakukan Peggy Mason dari Universitas Chicago menunjukkan bahwa ternyata tikus tak begitu nakal. Mereka juga punya empati, perhatian, dan tidak egois, paling tidak terhadap rekan satu spesiesnya.

Untuk mendapatkan bukti itu, Mason melakukan eksperimen di mana beberapa tikus diminta membebaskan rekannya yang diperangkap. Tikus-tikus itu diming-imingi cokelat agar mengabaikan nasib temannya.

Hasilnya luar biasa. Dengan adanya cokelat, tikus-tikus itu bisa saja mengambilnya tanpa peduli temannya. Atau, jikapun peduli, tikus itu bisa saja memakan cokelat dahulu baru membebaskan rekannya. Tetapi, ternyata 23 dari 30 ekor tikus yang diuji tak melakukannya.

"Pada dasarnya mereka mengatakan pada kita bahwa membebaskan tikus lainnya sama pentingnya dengan memakan cokelat. Ini hal yang mengejutkan," kata Mason seperti dikutip AP, Jumat (9/12/2011).

Di beberapa kasus setelah eksperimen dilakukan berulang-ulang, tikus kadang mengambil cokelat, tetapi tak langsung memakannya. Mereka justru membawa cokelat itu ke kelompok dan berbagi. Ini salah satu sisi sosiobiologi tikus yang baru diketahui.

Mason juga membandingkan antarjenis kelamin. Tikus betina ternyata lebih memiliki perhatian dibanding yang jantan. Saat membebaskan rekan, misalnya, ada tikus jantan yang seperti mengambil "libur" dengan tak melakukan apa-apa, tetapi tikus betina tak berlaku demikian.

Jeff Mogil dari McGill University di Kanada yang tak terlibat dalam studi tersebut mengatakan bahwa hasil penelitian ini benar-benar menunjukkan empati yang dimiliki tikus. Empati adalah salah satu sifat paling penting dalam evolusi untuk menunjukkan bahwa suatu spesies masuk tingkat tinggi.

http://sains.kompas.com/read/2011/12/09/14393939/Ternyata.Tikus.Tak.Begitu.Nakal

Inilah Gaya Lompatan Si Kecoa Loncat



DiscoverySpesies Kecoa Loncat (Saltoblattella montistabularis)
Masih ingat spesies kecoa loncat? Spesies bernama Saltoblattella montistabularis itu ditemukan oleh Mike Picker, pakar zoologi dari Universitas Cape Town. Penemuan spesies berukuran 8 mm tersebut dipublikasikan di jurnal Royal Society Biology bulan ini.
Pasti banyak yang penasaran bagaimana kecoa meloncat. Masalahnya, serangga yang dikenal dengan keahliannya meloncat adalah belalang. Sementara itu, selama ini manusia cenderung mengenal kecoa sebagai serangga menjijikkan yang "mengunci diri" di toilet atau paling-paling terbang ke sana kemari.
Dalam video yang diunggah di YouTube terlihat jelas bagaimana kecoa loncat yang berhabitat di rerumputan, sama seperti belalang, tersebut bergerak. Lihatlah.

Kecoa memiliki 3 pasang kaki, atau 6 buah. Dalam video tersebut, tampak bahwa sebelum meloncat, kecoa loncat mengambil ancang-ancang dengan sepasang kaki belakang. Kaki belakang yang memang ukurannya lebih besar tampak merenggang.
Selanjutnya, ketika tubuh kecoa sudah mulai terangkat, sepasang kaki depan tampak sedikit naik. Sepasang kaki tengah kemudian mengikutinya. Saat terbang, seperti dapat dilihat, keenam kaki tampak melebar bak sayap pesawat terbang.
Berdasarkan penelitian, ilmuwan mengatakan bahwa kecoa ini bisa meloncat hingga jarak 50 kali panjang badannya. Kecepatan awal loncatan adalah 2,1 meter per detik dengan percepatan 23 gravitasi. Manusia sendiri hanya bisa meloncat 2 kali tinggi badannya dengan percepatan 5 kali gravitasi.
Pintar kan si kecoa loncat? Jangan buru-buru menganggap kecoa loncat ini menjijikkan karena berhabitat di rerumputan. Kecoa yang selama ini kita kenal pun, walau dianggap menjijikkan, membantu daur nutrisi. Kecoa dan artropoda tanah adalah organisme pertama yang menguraikan kotoran manusia sebelum diuraikan lagi oleh mikroba.

http://sains.kompas.com/read/2011/12/11/20413282/Inilah.Gaya.Lompatan.Si.Kecoa.Loncat

Spesies Baru Ikan Pelangi dari Raja Ampat


Pouyaud 2008Spesies baru ikan pelangi ditemukan oleh tim riset bersama Indonesia dan Perancis. Dideskripsi dengan nama ilmiah Melanotaenia Salawati, diyakini sebagai spesies endemik dari pulau Salawati, salah satu pulau besar dari gugusan kepulauan Raja Ampat. Sebagai bagian dari ekoregion Kepala Burung Papua, daerah ini dikenal sebagai pusat keanekaragaman ikan pelangi dengan tingkat endemisitas tertinggi di ekozona Australasia. Ikan pelangi Salawati adalah spesies ke-19 yang ditemukan oleh para ilmuwan sejak beberapa dekade terakhir.
Tim ilmuwan Indonesia dan Prancis menemukan spesies baru ikan Pelangi di Pulau Salawati, salah satu wilayah kepulauan Raja Ampat. Spesies tersebut diberi nama Melanotaenia Salawati , merupakan spesies ke 19 yang ditemukan lewat eksplorasi biodiversitas di kawasan ekoregion Kepala Burung Papua, dimana Raja Ampat masuk di dalamnya. Temuan dipublikasikan di "International Journal of Ichtyology Cybium yang terbit bulan ini.Kadarusman, salah satu anggota tim peneliti dan dosen Akademi Perikanan Sorong dalam surat elektronik yang diterima Kompas.com , Minggu (11/12/2011), mengatakan, Melanotaenia Salawatitepatnya ditemukan di Sungai Dokter, bagian barat Pulau Salawati, berjarak 64 km dari Sorong. Sungai tempat ikan pelangi tersebut ditemukan memiliki air yang oleh masyarakat setempat dianggap bisa menyembuhkan beragam penyakit sehingga disebut Sungai Dokter. Melanotaenia Salawati memiliki warna tubuh yang indah. Tubuhnya dibalut dengan warna ungu pada bagian punggung dan lembayung ungu pada hipural ekor. Tutup insangnya punya warna emas dan titik hijau. Sementara, bagian perut sampai akhir sirip ekor berwarna violet dengan noktah biru di gurat sisi dan warna biru tua di tubuh bagian belakangnya. Ikan Pelangi Salawati memiliki kekerabatan dengan jenis Melanotaenia frederickiyang banyak ditemukan di sungai besar Warsamson, Sorong. Jenis ikan tersebut juga memiliki kekerabatan dengan Melatotaenia batata yang ditemukan di Pulau batata. Ketiganya memiliki pola warna tubuh yang mirip. Semula, Ikan Pelangi Salawati sempat dianggap hanya varietas dariMelanotaenia fredericki . Namun, analisis membuktikan bahwa keduanya adalah spesies yang berbeda. Ikan Pelangi Salawati terpisah dengan moyangnya saat terjadinya kenaikan muka air laut 10.000 - 20.000 tahun silam, menggenangi sungai kuno di Sorong dan Pulau Salawati. Temuan Ikan Pelangi Salawati hanya berselang setahun dengan penemuan spesies baru Melanotaenia fasiensis danMelanotaenia ajamaruensis . Ikan Pelangi Salawati juga merupakan spesies ke 19 yang ditemukan. Hal ini semakin meneguhkan bahwa Kepala Burung Papua memiliki biodiversitas dan tingkat endemisitas tinggi. Sudarto, anggota tim peneliti dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok mengungkapkan bahwa salah satu pusat biodiversitas ikan pelangi di Kepala Burung Papua adalah daerah karst Ayamaru di Sorong Selatan dan karst Lengguru di Kaimana. Ikan pelangi di wilayah tersebut memiliki warna yang lebih bervariasi, didominasi warna terang. Sementara itu. Laurent Pouyaud dari Institut de Recherche pour le Développement, Perancis, mengatakan bahwa temuan Ikan Pelangi Salawati juga menandai tantangan baru dalam sains. biodiversitas di Kepala Burung Papua menanti untuk diteliti dan diungkap keberadaannya. Salah satunya di Ayamaru yang diduga menjadi metropolitan genus Melanotaenia .Temuan Melanotaenia Salawati adalah hasil kerjasama Akademi Perikanan Sorong, Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok dan Institut de Recherche pour le Développement, Perancis. Sejak tahun 2007, tim peneliti telah menginventarisasi potensi keragaman ikan pelangi Papua untuk studi taksonomi, domestikasi, konservasi dan evolusi. Data sementara dari analsis molekuler menunjukkan tingginya potensi megabiodiversitas ikan pelangi di Papua. Bagi pemerintah, potensi ini harus ditanggapi dengan mendukung upaya penelitian lebih lanjut. Potensi terkait budidaya ikan hias ini harus disebarkan ke masyarakat. Ikan pelangi merupakan salah satu ikan hias populer di seluruh dunia, kecuali Afrika. 


http://sains.kompas.com/read/2011/12/12/10131438/Spesies.Baru.Ikan.Pelangi.dari.Raja.Ampat

Tokek Warna-warni dan Monyet Berjambul Ditemukan di Mekong


WWF, Lee GrismerTokek warna-warni yang ditemukan di ulau Hon Khoai, provinsi Ca Mau, Vietnam Selatan
Sejenis tokek warna-warni dan monyet dengan jambul mirip tatanan rambut "Elvis" ditemukan di kawasan Sungai Mekong, Asia Tenggara. Keduanya adalah spesies baru bagi dunia ilmu pengetahuan dan termasuk di antara 208 spesies baru lainnya yang dijumpai dalam ekspedisi yang hasilnya diumumkan hari Senin (12/11/2011).

Hewan-hewan itu ditemukan di daerah yang kaya keanekaragaman hayati, tetapi terancam dengan rusaknya habitat, penebangan hutan, perubahan iklim, dan pembangunan permukiman. Demikian disampaikan organisasi World Wide Fund for Nature (WWF) dalam laporannya.

Spesies yang dianggap baru itu termasuk di dalamnya tokek warna-warni yang ditemukan di Vietnam bagian selatan dan monyet hidung pesek di provinsi terpencil di Myanmar. Monyet tersebut memiliki bulu di atas kepala yang mirip jambul sehingga dijuluki monyet Elvis.

"Walau monyet bergaya rambut Elvis itu merupakan jenis yang baru dikenal dunia ilmu pengetahuan, masyarakat Myanmar telah mengenalnya sejak lama," tulis laporan WWF.

Adapun wilayah ekspedisi ini juga merupakan rumah bagi beberapa spesies dunia yang paling terancam punah, termasuk harimau, gajah Asia, lumba-lumba Sungai Mekong, dan ikan lele raksasa Mekong.

"Ini merupakan wilayah yang luar biasa dari segi kekayaan dan keanekaragaman hayati, tetapi sekaligus sangat rapuh dan terancam," kata Sarah Bladen, Direktur Komunikasi untuk WWF Greater Mekong. "Ada kehilangan keanekaragaman hayati di sana dengan laju yang mengkhawatirkan."

Sungai Mekong mengalir melalui China, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam.

Pada Oktober lalu, WWF mengumumkan bahwa Vietnam kehilangan badak jawa yang terakhir. Dengan demikian, badak jawa yang tersisa di seluruh dunia hanya berjumlah 40 sampai 60 dan semua berada di Indonesia.

http://sains.kompas.com/read/2011/12/13/10585766/Tokek.Warna-warni.dan.Monyet.Berjambul.Ditemukan.di.Mekong

Ratusan Nama Spesies Anggrek Perlu Direvisi


Destario MetusalaVanda frankieana
Banyak penamaan spesies anggrek perlu direvisi. Demikian dikatakan Destario Metusala, peneliti anggrek dari Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur saat dihubungi Kompas.com hari Rabu (30/11/2011).

"Masih ada banyak anggrek spesies anggrek yang perlu direvisi. Bahkan ada ratusan. Tercatat kita memiliki 5000-an spesies anggrek, ini harus diteliti satu per satu," katanya.

Revisi diperlukan karena masih ada ambiguitas. Banyak spesies anggrek yang sebenarnya merujuk pada satu spesies namun dideskripsikan dengan nama yang berbeda.

"Ini terjadi karena mungkin dahulu jaringan komunikasi antar peneliti belum cukup baik. Ada satu spesies yang sebarannya luas, ditemukan oleh peneliti dari beberapa lokasi, dideskripsikan berbeda," jelas Destario.

Destario memberi contoh spesies Dendrobium cinereum, jenis anggrek yang tumbuh alami di Kalimantan. Spesies tersebut diduga terpecah namanya menjadi 5 spesies.

Saat ini, Destario bersama peneliti lainnya tengah meneliti spesies anggrek lainnya yang diduga perlu direvisi. Menurutnya, jumlah peneliti anggrek di Indonesia masih minim sehingga revisi memakan waktu lama.

Destario sendiri berhasil merevisi satu spesies anggrek yang dinamai Vanda frankieana. Spesies itu selama lebih dari 140 tahun ambigu, sempat dinyatakan sebagai spesies anggrek yang sama denganVanda saxatilis.

Revisi untuk Konservasi

Revisi penamaan spesies menentukan langkah lanjut, seperti konservasi. Kajian taksonomi penting untuk mengkaji ulang Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 yang memuat 29 spesies anggrek, yang punya beberapa masalah.

Salah satu masalah adalah adanya dua jenis anggrek dalam peraturan tersebut yang sebenarnya adalah spesies yang sama. Keduanya adalah Dendrobium ostrinoglossum dan Dendrobium lasianthera.

"Berdasarkan kajian taksonomi yang juga dimuat dalam checklist database anggrek dunia di Kew sejak 2003, nama valid untuk jenis ini adalah Dendrobium lasianthera J.J.Sm, sedangkan Dendrobium ostrinoglossum Rupp adalah nama sinonimnya," jelas Destario.

Masalah kedua adalah adanya anggrek Dendrobium catinecloesum. Spesies tersebut sebenarnya tidak pernah tertera dalam data LIPI maupun literatur anggrek dunia.

"Bahkan saya meragukan bahwa nama spesies ini adalah nama spesies yang valid, besar kemungkinan adalah ’nomen nudum’ atau nama yang tidak valid karena mungkin tidak pernah dipublikasikan dalam tulisan ilmiah ataupun tidak pernah disertai dengan deskripsi morfologinya," papar Destario.

Sementara, masalah ketiga adalah dugaan kekeliruan penulisan. Tercatat adanya anggrekPhalaenopsis violacose. Menurut Destario, kemungkinan anggrek yang dimaksud adalah Phalaenopsis violacea.

Destario mengungkapkan bahwa kekeliruan dalam undang-undang berdampak besar. Kajian taksonomi diperlukan untuk memastikan nama suatu spesies sehingga bisa mendasari undang-undang yang dibuat. Jika peraturan tak jelas, maka pelaksanaan di lapangan pun sulit

http://sains.kompas.com/read/2011/11/30/13475842/Ratusan.Nama.Spesies.Anggrek.Perlu.Direvisi

Galapagos Versus Krakatau


KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYATTim Ekspedisi Cincin Api Kompas mengamati vegetasi bibir pantai Gunung Anak Krakatau, di antaranya rumput liar (Spinifex littoreus), Selasa (16/8/2011). Di kawasan ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Berdasarkan survei antara 1981 dan 2008 telah ditemukan sebanyak 122 jenis pohon berkayu, 42 jenis semak belukar, 71 jenis tanaman merambat, dan 173 jenis tanaman obat-obatan.
Saat ditanya tentang pulau yang paling menarik di Bumi, kebanyakan ahli biologi evolusi klasik akan menjawab Galapagos. Pulau gunung api yang mengapung di Samudra Pasifik, sekitar 972 kilometer dari Ekuador, ini merupakan ibu bagi teori evolusi Charles Darwin. Terasing di lautan, Galapagos telah dikolonisasi oleh spesies dari daratan sejak jutaan tahun lampau, menciptakan berbagai jenis spesies yang khas.
Charles Darwin (1809-1882) menjadi geolog pertama yang mengunjungi Galapagos tahun 1835. Saat itu, dia menemani Kapten Robert Fitzroy menumpang kapal Beagle untuk menyurvei daerah pesisir Amerika selatan (1831-1836). Saat itulah, Darwin mulai dikenal dengan tulisan-tulisan geologisnya sebelum akhirnya dikenal sebagai Bapak Evolusi.
Darwin tidak hanya terpesona oleh fenomena geologis di Kepulauan Galapagos, dia juga terkesima oleh biota unik dan luar biasa yang dia temukan di sana. Pertemuan dari tiga arus, aktivitas inti bumi, dan keterisolasian membentuk perkembangan kehidupan hewan tidak biasa seperti penyu raksasa, iguana, dan berbagai jenis kutilang yang menginspirasi Darwin membangun teori seleksi alam dan berikutnya teori evolusi manusia yang mengguncang dunia. Keragaman hayati Galapagos dianggap sebagai museum hidup dan percontohan evolusi sehingga UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia yang dilindungi.
Namun, di balik keistimewaan spesies di Galapagos, ada lubang yang tak terjawab tentang bagaimana proses kolonisasi terjadi di sana. Kalau suksesi dan evolusi di Galapagos tidak ada catatan kapan mulainya, Krakatau justru sebaliknya. Krakatau menjadi lokasi yang telah dikunjungi ahli-ahli biologi setelah letusan hebat menghancurkan kepulauan ini pada 1883.
Banyak peneliti beranggapan pulau itu steril pascaletusan dan tahap demi tahap kedatangan kehidupan di pulau itu pun dicatat lewat berbagai kunjungan peneliti, khususnya Belanda. "Tahapan kehidupan di Krakatau terdata paling lengkap. Teori-teori suksesi primer di kawasan tropis lahir dari kegiatan penelitian di kompleks Krakatau, begitu juga pengetahuan tentang pembentukan hutan tropis yang kompleks," ujar ahli botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Profesor Tukirin Partomihardjo, yang aktif meneliti vegetasi di Krakatau selama 30 tahun.
Krakatau menyediakan peluang langka bagi peneliti yang ingin mendeteksi evolusi di pulau dalam kurun waktu lebih pendek dan skala ruang terbatas. Bahkan, kemunculan Gunung Anak Krakatau di atas permukaan laut tahun 1929 sekali lagi memberikan kesempatan kepada peneliti mengamati suksesi primer dan dampak dari letusan kepada kehidupan di sekitarnya.
Ahli botani dari Jerman, Alfred Ernst, dalam bukunya, The New Flora of The Volcanic Island of Krakatau (1908) menganalisis bagaimana kehidupan kembali hadir di Krakatau. Ia mendapati ekosistem Krakatau pada tahap lebih primitif daripada yang dilihat Charles Darwin di Kepulauan Galapagos. Krakatau mendemonstrasikan kekuatan alam kembali membangun ekologi yang kompleks dari tabula rasa.(Tim Penulis:Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono)

http://sains.kompas.com/read/2011/11/30/16293859/Galapagos.Versus.Krakatau

Sulitnya Lumba-lumba Hamil Berenang



Franscois GohierLumba-lumba Hidung Botol Samudera Hindia (Tursiops aduncus)
Ketika lumba-lumba hidung botol berenang dengan kecepatan dua kali kecepatan pelari cepat, hewan ini akan secara konstan memunculkan gaya karena air secara relatif bergerak ke arah berlawanan. Gaya itu khas bagi lumba-lumba dewasa. Tapi bagaimana dengan lumba-lumba yang sedang hamil?

Shawn R Noren, ahli biologi kelautan dari Universitas California di Santa Cruz meneliti seberapa besar gaya oleh air yang akan dialami oleh lumba-lumba hidung botol betina yang sedang hamil.

Lumba-lumba yang punya nenek moyang sama dengan sapi mengalami periode kehamilan selama 12 bulan. Selama itu pula, perutnya akan membesar hingga 50 persen dari normalnya.

Hasilnya membuktikan bahwa kehamilan sangat berpengaruh. Jumlah gaya yang diterima oleh lumba-lumba normal yang berenang dengan kecepatan 12 km/jam sama dengan yang diterima lumba-lumba hamil yang berenang 6 km/jam.

"Kehamilan membuat hewan menjadi gemuk, juga lapisan lemaknya memiliki lebih banyak lemak," kata Noren seperti dikutip New york Times, Senin (28/11/2011).

Dengan demikian, ketika hamil, lumba-lumba hidung botol juga memiliki gaya apung yang lebih rendah. Ini akan membuat lumba-lumba kesulitan menyelam mencari mangsa.

Kehamilan juga berpengaruh pada kemampuan lumba-lumba "mengayuh". Bayinya membuat otot meregang sehingga ekornya sulit bergerak naik turun. Hmm..., ternyata lumba-lumba hamil juga punya kesulitan sama dengan ibu saat mengandung kita

http://sains.kompas.com/read/2011/12/01/10253815/Sulitnya.Lumba-lumba.Hamil.Berenang

Krakatau Ibarat Buku Kehidupan


KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYATTim Ekspedisi Cincin Api Kompas mengamati tumbuhan harendong (Melastoma malabathricum) di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Senin (15/8/2011). Di gunung ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Berdasarkan survei antara 1981 dan 2008 telah ditemukan sebanyak 122 jenis pohon berkayu, 42 jenis semak belukar, 71 jenis tanaman merambat, dan 173 jenis tanaman obat-obatan.
Batas hidup dan mati di Krakatau memang tipis. Kematian satu spesies sering kali menjadi tapak kehidupan bagi spesies lainnya. Perlahan, gelombang laut, angin, dan burung mengantarkan bakal kehidupan ke tabula rasa itu.
Enam bulan setelah Cotteau menemukan laba-laba di Rakata, Verbeek menyaksikan munculnya beberapa bilah rumput. Tiga tahun berikutnya, Treub melaporkan adanya paku-pakuan yang menutupi seluruh interior pulau dari pantai hingga puncak. Selain koloni paku-pakuan, Treub mencatat enam spesies ganggang biru dan hijau yang membentuk lapisan lembab mirip agar-agar dan menjadi lingkungan tempat tumbuh tanaman lainnya.
Lumut memberikan kelembaban yang memungkinkan paku–pakuan seperti paku kinca (Nephroplepis hirsutula) dan paku perak (Pityrogramma calomelanos) berkembang. "Paku-pakuan pun berumur pendek. Setelah mati, jasadnya menjadi habitat baru tanaman lain untuk tumbuh," ujar Tukirin.
Di atas bekas paku-pakuan itu rerumputan mulai berkecambah, disusul alang-alang dan gelagah. Jenis rumput-rumputan itu baru akan tumbuh setelah lahar mendingin, biasanya dua atau tiga tahun setelah letusan. Kehadiran rumput-rumputan menciptakan iklim mikro sederhana yang dapat dimanfaatkan tanaman lain, seperti anggrek tanah.
Pada tahun 1897 atau 14 tahun setelah letusan, pedalaman Pulau Rakata telah ditutupi oleh rumput-rumput tipe savana dengan dominasi gelagah (Saccharum spontaneum) dan ilalang (Imperata cylindrica) yang diselingi kelompok-kelompok kecil pohon. Kehadiran tumbuh-tumbuhan berbunga menambah semarak. Sedangkan pakis dan paku-pakuan tetap berkuasa di dataran yang lebih tinggi.
Di pantai, formasi kangkung laut (Ipomoea pes-caprae) telah merata dan komunitas tanaman pantai seperti keben (Barringtonia asiatica) dan cemara laut (Casuarina equisetifolia) hidup berkelompok di banyak tempat. Kehidupan baru itu disaksikan oleh Boerlage yang mengadakan eksplorasi botani ke Krakatau pada tahun 1896 dan 1897.
"Alang-alang lalu mati, menjadi penyedia humus yang akan ditumbuhi tanaman seperti harendong (Melastoma affine). Lingkungan yang dapat dihidupi perlahan tercipta," ujar Tukirin.
Tahun 1906, vegetasi Rakata semakin kaya. Ahli botani dari Jerman, Erns Alfred, dalam bukunya The New Flora of the Volcanic Island of Krakatau, 1908, mencatat adanya 99 tanaman berbunga. Vegetasi pantai telah berkembang dengan dominasi tanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia), keben (Barringtonia asiatica), ketapang (Terminalia catappa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), dan waru laut (Hibiscus tiliaceus).
Perlahan tercipta tanah hutan muda yang berkelanjutan. Pada periode itu pula, tanaman seperti berbagai jenis beringin (Ficus spp), mara (Macaranga tanarius), dan tanaman hutan sekunder lainnya berkembang serta menempati dataran rendah berumput.
Kebanyakan bibit tanaman yang mengisi Rakata diantarkan gelombang laut. "Karena itu, tumbuhan pantai yang pertama muncul," kata Tukirin.
Biji tumbuhan pantai biasanya dilindungi alat apung alami yang membuatnya bisa menyeberangi lautan. Misalnya, kulit buah keben yang kedap air dan berisi spons untuk mengapung. Setelah mendarat di pantai, kulit buah itu akan terdegradasi sehingga air bisa masuk dan merangsang biji keben untuk berkecambah.
Tumbuhan-tumbuhan pionir itu mampu hidup di lingkungan ekstrem yang sedikit unsur hara dan terbatas air. "Tanaman pionir biasanya berumur pendek, cepat tumbuh, daunnya lebar, dan sistem perakarannya dalam. Pemencarannya efektif, begitu sampai dan lingkungan memungkinkan untuk hidup, dia pun cepat bertumbuh," ujar Tukirin.
Benih lain yang sampai di pantai, tetapi bukan merupakan tanaman pionir, tidak akan tumbuh. Tukirin lalu memungut buah nipah yang tergeletak di pesisir. "Ini tidak akan dapat bersemai di Pulau Krakatau karena nipah butuh tumbuh di air sadah dan berlumpur. Ini jenis mangrove dalam," ujarnya. Setelah vegetasi pantai berkembang, burung dan kelelawar pemakan buah hadir dan memencarkan biji berbagai jenis tumbuhan ke tempat yang lebih jauh.
Peneliti Krakatau dari Universitas Utrecht, Tracey Louise Parrish, menuliskan dalam Krakatau: Genetic Consequences of Island Colonization, bahwa semua kehidupan di Krakatau diasumsikan berasal dari luar Krakatau. Cikal-bakal kehidupan itu setidaknya menempuh jarak 30 kilometer atau lebih dari pesisir terdekat pulau besar seperti Jawa dan Sumatera.
Pulau-pulau lain yang lebih dekat dengan Krakatau, seperti Sebesi dan Sebuku, juga berperan besar sebagai sumber hayati. "Semakin habisnya hutan-hutan di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sebesi memperlambat suksesi di Krakatau. Satu-satunya hutan yang masih menyediakan benih tinggal Ujung Kulon," ujar Tukirin.
Sebagai pulau terbesar dan tertinggi dalam gugusan Krakatau, Rakata menjadi satu-satunya pulau dengan tingkat perkembangan komunitas vegetasi paling matang tanpa terlalu banyak terganggu letusan Anak Krakatau. Luas pulau dan ketinggiannya yang bervariasi membuat lebih banyak jenis tumbuhan dapat hidup.
Pola suksesi di dua pulau lainnya di kompleks Krakatau, Sertung dan Panjang awalnya juga nyaris serupa dengan di Rakata. Vegetasi di kedua pulau itu secara umum menunjukkan tipe serupa meski kehadiran dan kelimpahan jenis tumbuhan penyusun hutannya secara lokal berbeda. Sampai kemudian muncul Anak Krakatau di permukaan perairan.
Anak Krakatau yang meletus nyaris tiap tahun memberikan arah suksesi yang berbeda pada Pulau Panjang dan Sertung. Secara geografis, kedua pulau ini terletak lebih dekat dari Anak Krakatau dibandingkan Rakata. Timbunan abu letusan Anak Krakatau yang sering mencapai ketebalan hingga satu meter, menurut Tukirin, sangat memengaruhi perkembangan vegetasi di dua pulau itu. Tak mengherankan, sejak tahun 1930-an tutupan hutan di kedua pulau ini secara umum didominasi jenis kedoya (Desoxylum gaudichaudianum) dan ketimunan (Timonius compressicaulis). Dua jenis pohon yang pemencarannya dibantu burung ini mampu beradaptasi terhadap timbunan abu vulkanik.
Agustus 2011, ketiga pulau di kompleks Krakatau ini ibarat gundukan yang permukaannya dilapisi karpet hijau tebal. Semakin perahu mendekat ke bibir pantai di Pulau Rakata, semakin jelas tampak pohon-pohon keben berjajar di pantai. "Inilah keajaiban alam yang dihadirkan Krakatau dan menarik perhatian semua ahli biologi di seluruh dunia," kata Tukirin.
Dari Krakatau, para ahli itu belajar tentang proses dasar pembentukan ekosistem pulau kecil yang ternyata sangat kompleks. Ada faktor pemencaran, invasi, persaingan, adaptasi, hingga kepunahan. "Dari Krakatau kita bisa belajar untuk memahami proses pembentukan hutan. Pengetahuan ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan pemahaman ketika kita ingin merestorasi hutan-hutan kita yang rusak di tempat-tempat lain," ujarnya.
Bagi Tukirin dan para ahli biologi, kompleks Krakatau itu merupakan buku yang menyimpan jawaban penting tentang kehidupan. Berbeda dengan para vulkanolog dan geolog, yang menelisik tentang dahsyatnya letusan Krakatau di masa lalu dan bagaimana kita harus terus bersiaga terhadapnya, Tukirin dan para biolog mengamati bagaimana daya hidup bisa bermula dan berkembang dari tabula rasa yang diciptakan sebuah letusan gunung api. Inilah sisi lain Krakatau yang jarang dilihat.
Daya rusak letusan gunung api ternyata diimbangi daya hidup dengan kekuatan setara untuk bangkit dari kehancuran. Unsur penting bagi kehidupan itu ternyata adalah berbagai jenis spesies kecil nyaris tak terlihat yang mengerumuni lapisan belerang panas.(Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono)

http://sains.kompas.com/read/2011/12/01/16405318/Krakatau.Ibarat.Buku.Kehidupan

Pengikut